logo rilis
Pakar Komunikasi Minta Masyarakat Cermat dalam Bermedsos
Kontributor
Tio Pirnando
29 Maret 2018, 03:24 WIB
Pakar Komunikasi Minta Masyarakat Cermat dalam Bermedsos
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafiz Faza.

RILIS.ID, Jakarta— Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra, menyarankan masyarakat memahami dan mengetahui agenda tersembunyi di balik pemberitaan media sosial. Hal tersebut agar publik tidak terprovokasi atau pun termakan oleh isu-isu negatif pemberitaan yang cenderung merugikan atau pun mendiskreditkan satu kelompok.

"Kondisi yang tersembunyi tersebut ialah dunia jungkir balik yang membuat terjadi pergeseran dari realitas sosial menjadi virtual (nyata)," kata Iswandi di Kantor Akbar Tandjung Institute, Jalan Perdatam, Jakarta, Rabu (28/3/2018) malam.

"Sesuatu yang sepi di dunia nyata, menjadi viral di media sosial. Kemudian sesuatu yang ramai di media sosial, menjadi sepi di media sosial," tambahnya. 

Kondisi seperti ini, sambung Iswandi mengakibatkan kebijakan (policy) negara atau pemerintah kadang tak lagi didasarkan pada pertimbangan realitas sosial.

"Semakin banyak orang bicara di sosial media tentang suatu isu, maka semakin dianggap penting, semakin ingin diketahui dan semakin perlu untuk direspons, itulah kondisinya," papar Iswandi

Karenanya, Iswandi meminta agar masyarakat, khusunya gererasi muda untuk berperan aktif sebagai agen sosial dalam perubahan politik dengan cara memberikan kontra yang tepat jika suatu hal baginya tidak sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Dalam kehidupan media sosial saat ini, jelas Iswandi, kekuatan daya tahan suatu negara dan politik atau keyakinan religius sering diadu, diuji bahkan dipertentangkan di media sosial oleh masyarakat secara daring.

Tetapi, aktivitas konsumsi informasi tersebut, bagi Iswandi bisa membentuk spiral kecemasan ke masyarakat.

"Aktivitas konsumsi Informasi di media sosial membentuk polarisasi atau corak netizen liberaliasi atau anti kemapanan, ketidak teraturan dan kknservatif yaitu kelompok yang pro kemapanan atau pro keteraturan. Itu lah polarisasi warganet saat ini," pungkas dia.

Editor: Sukardjito


500
komentar (0)