logo rilis
Pada 2016, Indonesia Pernah Diserang Wangiri
Kontributor
Fatah H Sidik
02 April 2018, 06:36 WIB
Pada 2016, Indonesia Pernah Diserang Wangiri
Telepon genggam. FOTO: androidpit.com

RILIS.ID, Semarang— Ketua Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, wangiri yang belakangan terjadi bukan kasus pertama. Pada 2016 silam, sejumlah pengguna melaporkan adanya missed call dari prefiks +77.

"Kali ini prefix yang menyerang masyarakat, adalah +242 yang berasal dari Kongo. Wangiri dengan prefix +242 pernah membuat heboh warga Swedia pada tahun 2013," ujarnya via siaran pers, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (1/4/2018).

Praktik wangiri, tambah Pratama, cukup meresahkan masyarakat. Diyakini jaringan yang bermain sarat pengalaman, karena pengguna nomor prabayar dan pascabayar menjadi targetnya.

Pulsa tersedot habis menjadi konsekuensi bagi pemilik nomor prabayar, bila melakukan panggilan balik ke nomor dengan prefiks +242. Sedangkan kartu pascabayar, tagihannya bakal membengkak.

Di sisi lain, Pratama mengapresiasi sikap Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang meminta masyarakat tak melakukan panggilan balik. Tapi, pemerintah diharapkan menyosialisasikan lebih mendalam. Misalnya, melalui SMS resmi Kominfo agar masyarakat mendapatkan informasi tersebut.

Jika menjadi korban wangiri, menurut dia, sebaiknya melaporkan kejadian ke provider# masing-masing. Selain guna pendataan, masyarakat juga bisa meminta penghapusan tagihan karena wangiri maupun mengembalikan pulsa yang hilang.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)