Home » Inspirasi » Riwayat

Oto Iskandar di Nata, Sang Martir Revolusi

print this page Rabu, 20/12/2017 | 19:27

SAATNYA sekarang mengenang Oto Iskandar di Nata, bertepatan dengan meninggalnya Pahlawan Nasional asal Pasundan, 20 Desember 1945. Jasadnya tak pernah ditemukan tapi namanya harum dan menghiasi sejumlah jalan utama.

Selama  ini ada kesan bahkan mungkin menjurus ke stereotip bahwa tokoh-tokoh Jawa Barat yang berkiprah di kancah politik nasional dikenal lembek dan bila sudah berada di lingkaran kekuasaan lupa akan asal dan akarnya. 

Bila kesan itu memang benar atau mungkin malah sebaliknya, di sinilah kiranya saat yang tepat untuk melongok sosok Raden Oto Iskandar di Nata yang dikenal dengan sebutan Si Jalak Harupat. 
 
Julukan itu lahir saat Oto Iskandar aktif sebagai wakil Pagoejoeban Pasoendan di Volksraad (Dewan Rakyat). Dalam setiap pertemuan Dewan Rakyat itu Oto Iskandar dikenal selalu berbicara keras dan lantang serta kritikannya terhadap Hindia Belanda kerap membuat panas kuping pejabat pemerintah kolonial. 

Jalak Harupat adalah ayam jago yang kuat, tajam  kalau menghantam lawan, kencang bila berkokok, dan selalu menang bila diadu.
 
Komitmen kebangsaan dan kontribusi Oto Iskandar dalam perjuangan kemerdekaan tak diragukan lagi. Basis organisasi yang kuat di Pagoejoeban Pasoendan (1929-1942), kelak mengantarkan Oto Iskandar tampil cemerlang di tingkat pusat ketika menjadi anggota Dewan Rakyat di Batavia, inisiator di  Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), hingga menjadi Menteri Negara yang mengurus keamanan. 
    
Banyak kiprah dan kerja nyata yang digagas atau dikembangkan Oto Iskandar selama menjabat Ketua Umum Pagoejoeban Pasoendan. Bidang yang sangat maju pesat di antaranya dalam pendidikan. 

Hingga tahun 1933 sudah  29 buah sekolah didirikan di pelosok Jawa Barat. Menyusul kemudian berdiri Centrale Bank Pasoendan dan sejumlah koperasi. Untuk menaungi semua unit usaha itu kemudian berdiri perusahaan induk yang dinamai  Bale Ekonomi Pasoendan. 
 
Seperti ditulis sejarawan Universitas Padjadjaran Nina H. Lubis dalam Si Jalak Harupat: Biografi R. Oto Iskandar di Nata (1897-1945), dalam bidang sosial dan kemasyarakatan, Pagoejoeban Pasoendan juga mendirikan lembaga bantuan hukum yang dikenal dengan Adviesbureaul

Lembaga ini memberikan bantuan cuma-cuma kepada masyarakat. Dasarnya, saat itu rakyat jelata kerap menjadi sapi perahan atau menjadi ladang penipuan para cerdik pandai yang berdalih di atas legalitas hukum. 

Tidak hanya itu, Oto Iskandar juga mendirikan  Reclasseering Vereeniging (Perhimpunan Pemasyarakatan Kembali). Lembaga ini mengurus dan memperbaiki nasib orang-orang yang baru dibebaskan dari bui, termasuk mencarikan pekerjaan yang tepat buat mereka.
 
Uniknya, Oto Iskandar mengawali karier perjuangan organisasinya bukan di Tanah Sunda melainkan di  Purworejo, Jawa Tengah. Ia memulai karier organisasinya dengan aktif sebagai anggota Boedi Oetomo sejak masih sekolah di Hoogere Kweekschool

Oto Iskandar keluar dari Boedi Oetomo dan lebih memilih pindah ke Pagoejoeban Pasoendan Cabang Batavia (Juli 1928). Saat itu Oto Iskandar yang menjadi Guru di Hollandsch Inland School (HIS) Pekalongan dipaksa pindah oleh pemerinah kolonial ke Batavia.

Oto Iskandar yang saat itu sudah menikah dengan seorang ningrat Jawa, R.A Soekirah, dinilai berbahaya karena keberaniannya menentang pemerintahan feodal di Pekalongan. Sikap keras Oto Iskandar tercermin ketika mewanti-wanti istrinya jangan sampai gengsor atau jalan sambil duduk, saat menghadap Bupati Pekalongan.
 
Selama masa kepemimpinan Oto Iskandar, Pagoejoeban Pasoendan juga menerbitkan surat kabar Sipatahoenan. Surat kabar ini kelak menjadi  alat perjuangan Oto Iskandar. Surat kabar ini mulanya milik cabang Tasikmalaya (1923) dan terbit mingguan. Baru pada 1931 surat kabar ini diambil alih Pagoejoeban Pasoendan pusat dan terbit harian. 

Karena sering mengkritik pemerintah kolonial, surat kabar ini beberapa kali terjerat Persbreidel Ordonanntie. Sipatahoenan dilarang terbit dan pengasuhnya beberapa kali harus berhadapan dengan polisi rahasia kolonial bahkan beberapa kali kasusnya sampai ke pengadilan. 

Saat Jepang menguasai Indonesia Sipatahoenan dipaksa tutup (1942). Gantinya Jepang meminta Oto Iskandar menerbitkan koran Tjahaja yang propemerintah. Kesan yang timbul kemudian Oto Iskandar bersifat kooperatif terhadap Jepang. Namun yang terjadi sebenarnya di balik itu, ada agenda besar yang diperjuangkan Oto Iskandar, yaitu mencuri ilmu dari pemerintahan Jepang sebagai bekal untuk memerdekakan Indonesia.
 
Kelak sifat kooperatif ini sering menyebabkan kesalahpahaman di kalangan para pejuang Indonesia. Kecurigaan ini berlanjut hingga masa perjuangan revolusi--saat Belanda kembali menjajah Indonesia dengan mendompleng Sekutu--yang berbuntut pada penculikan dan pembunuhan Oto Iskandar di Pantai Mauk, Tangerang, 20 Desember 1945. 

Dugaan yang berkembang, pembunuhan itu dilatarbelakangi kecurigaan, persaingan jabatan, hingga kepada hal-hal yang berbau primordial, seperti tarik menarik pengaruh antara kekuataan Sunda dan Jawa. Namun hingga kini alasan pembunuhan yang sebenarnya masih gelap bersamaan dengan jasad Oto Iskandar yang tak ditemukan.
 
Oto Iskandar meninggal sebelum banyak mengecap kemerdekaan yang diperjuangkannya. Dia tewas sebagai martir revolusi. Benar kata Bung Karno, seperti ditulis kembali sejarawan Taufik Abdullah dalam pengantar buku yang ditulis Nina H. Lubis, bahwa revolusi itu  mempunyai logikanya sendiri, bahkan juga mempunyai sopan santun sendiri. Revolusi tidak mengenal terimakasih. Ia tidak saja "memakan anak-anaknya" tetapi juga mendurhakai ibunya sendiri. (hal xxii).
 
Tewas menjadi tumbal revolusi mungkin tak akan pernah disesali Oto Iskandar. Ini karena selagi masih hidup Oto Iskandar pernah menulis dalam  koran Tjahaja yang dikelolanya  bahwa: "Kalau Indonesia Merdeka boleh diteboes dengan djiwa seorang anak Indonesia, saja telah memadjoekan diri sebagai kandidat jang pertama oentoek pengorbanan ini." (Kalau Indonesia merdeka boleh ditebus dengan jiwa seorang anak Indonesia, saya telah mengajukan diri sebagai kandidat yang pertama untuk pengorbanan itu).

Penulis Yayat R Cipasang

Tags:

riwayat oto iskandar di nata paguyuban pasundanpahlawan nasionalotista