logo rilis
Optimalkan Fungsi Embung, Balitbangtan Gelar Bimtek
Kontributor
Fatah H Sidik
15 Mei 2018, 16:10 WIB
Optimalkan Fungsi Embung, Balitbangtan Gelar Bimtek
Embung. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Pekanbaru— Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan) mengadakan bimbingan teknis (bimtek) "Pemanfaatan Embung dan Bangunan Air Lainnya un??tuk Irigasi Pertanian" di Aula Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau, Pekanbaru, Senin (14/5/2018). Kegiatan digelar untuk menghadapi musim kemarau sekaligus menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2018.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai unsur. Di antaranya, dosen dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Riau (Unri), Bidang Sarana dan Prasarana (Sapras) Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Riau, staf dan penyuluh Dinas Pertanian (Distan) Kampar, serta peneliti dan penyuluh BPTP Riau.

?Hingga 2019, sinergi Kementan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) telah membangun lebih dari 5.500 embung/dam parit, baik ukuran kecil maupun sedang se-Indonesia.
?
"(Sebanyak 5.500 embung itu) sebagai model percontohan dalam membangun sekitar 30 ribu buah di seluruh Indonesia dari dana desa, atas instruksi presiden yang tertuang dalam Inpres Nomor 1 Tahun 2018," ujar Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat), Dr. Harmanto, M Eng, saat acara.

Dia menambahkan, ada tiga prasyarat dalam pembangunan embung, dam parit, maupun long storage, agar bermanfaat dan berfungsi secara berkelanjutan. Yakni, memiliki sumber air sebagai suplesi utama, terdapat hamparan sawah/lahan yang akan diairi, serta ada kelompok tani atau gabungannya sebagai pelaku pembangunan dan pengelola.

Kementan melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) dan BPTP se-Indonesia, telah mengidentifikasi lokasi-lokasi pembangunan embung dan bangunan air lainnya di lahan kering/ tadah hujan untuk irigasi empat juta hektare. Lokasi itu telah dikompilasi dalam basis data digital sistem informasi Strategi Intervensi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Sipperdes) dam dibangun hingga 2019.

Narasumber lainnya, Dr. Budi Kartiwa, CESA, menyampaikan, pembangunan embung menggunakan metode survei identifikasi desain (SID). Pembuatan desain (ukuran, bahan, dan jenis bangunan), rincian anggaran biaya (RAB), dan lokasi yang tepat, dikaitkan dengan areal sawah/lahan layanan irigasi menggunakan aplikasi Avenza.

Hasil praktik lapangan dengan para peserta bimtek, embung tak cocok dibangun di Riau karena sebagian besar daerah rawa dan pasang surut. Sehingga, selalu ada masalah kekeringan dan kebanjiran.

Yang lebih tepat dibangun adalah long storage, dengan membangun pintu air, polder memanjang untuk menampung air, dan digunakan pada musim kemarau dengan pompa air bantuan pemerintah.

Sedangkan narasumber lain dari Balitklimat, Dr. Nono Sutrisno, memaparkan pentingnya pemanfaatan embung dan bangunan air lainnya yang telah dibangun, agar saat musim kemarau terisi air dan digunakan petani sebagai air irigasi.

Dia juga menekankan pentingnya perawatan dan pemeliharaan embung dan bangunan air lainnya. Nono menyarankan kelompok tani atau himpunan kelompok pengguna dalam kelembagaan profesional yang melakukan pemeliharaan.

Bimtek juga menerangkan peran sistem informasi ciptaan BBSDLP untuk mendukung keberhasilan penerapan teknologi. Perwakilan BBSDLP, Saeful Bahri, S Kom. M.Si, menyampaikan pentingnya penggunaan SiSULTAN dan peta loka sumber daya lahan pertanian di Riau. Sebab, di sana hamparan lahan rata mendominasi. Apalagi, terdapat cekungan dan genangan air yang bisa dimanfaatkan sebagai air irigasi saat kemarau.

SiSULTAN dan peta loka, lanjut Saeful, juga memberikan gambaran penggunaan lahan dan rekomendasi sumber daya air untuk pertanian, agar lingkungan tetap terjaga kelestariannya. SiSULTAN atau Sisten Informasi Sumber Daya Lahan Pertanian, merupakan aplikasi WebGIS yang menyajikan data geospasial sumber daya lahan dasar yang dikembangkan BBSDLP.

Sementara itu, Dekan Pascasarjana Unri, Dr. Wawan, mengaku, bimtek sangat bermanfaat dan menarik. Dirinya berharap, ada kajian lebih mendalam terhadap isu-isu sumber daya lahan dan air di Riau, sehingga swasembada pangan terwujud.

Pernyataan senada diutarakan Kabid Sapras Dinas PTPH Riau, Riau. Katanya, "Bimtek yang menjelaskan potensi dan peran embung serta tahapan pembangunan embung dan bangunan air lainnya di Riau ini, sangat membantu kami dalam pendampingan pembangunan embung, baik yang dibiayai dari APBN maupun dana desa.

Gayung bersambut. Salah seorang staf Distan Kampar, juga menyampaikan kepuasaannya atas terselenggaranya bimtek. Sebab, memudahkannya dalam membangun embung dan bangunan air di daerahnya. "Pengenalan aplikasi Avenza sangat membantu dalam perencanaan pembuatan embung dan bangunan air lainnya," ucap dia.

Terpisah, Kepala BBSDLP, Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M. Agr, menyatakan, Balitbangtan memiliki benyak teknologi pemanfaatan air, seperti embung, dam parit, long storage, dan sumur dangkal. Dirinya menambahkan, embung terbukti meningkatkan indeks pertanaman padi sawah dan produksi.

"Karenanya, perlu dilakukan pelatihan dan bimbingan teknis bagi petugas dan penyuluh yang ada di daerah, agar dapat lebih diperkenalkan teknologi-teknologi pengelolaan air yang kita miliki," tutup Dedi.

Sumber: Harmanto/Saefoel Bachri/Balitbangtan Kementan


500
komentar (0)