logo rilis
Oposisi Loyal
kontributor kontributor
Mohammad Nasih
08 Oktober 2018, 09:55 WIB
Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE
Oposisi Loyal
ILUSTRASI: Hafiz

KOSEKUENSI sistem politik demokrasi adalah munculnya banyak entitas warga negara dengan beragam gagasan atau aspirasi. Pada dasarnya, dalam sistem demokrasi, seluruh entitas bisa membawa dan memperjuangkan gagasan apa pun yang dianggap baik untuk penyelenggaraan negara secara bebas. Mereka bisa menyampaikannya di depan publik untuk mempengaruhi, mengubah, dan membentuk opini publik. 

Konsekuensi lebih lanjutnya adalah muncul suasana yang sering dianggap sebagai kegaduhan. Opini publik itulah yang kemudian bisa dijadikan sebagai salah satu pijakan atau basis utama kebijakan publik yang hendak dibuat. Kebebasan itulah yang memungkinkan lahirnya pihak oposisi, baik yang berada dalam stuktur politik formal maupun tidak formal atau di luar struktur politik kenegaraan, bahkan di jalanan sekalipun.
 
Oposisi bahkan sangat diperlukan, karena di antara paradigma dasar dalam demokrasi adalah kekuasaan cenderung menyeleweng, dan kekuasaan yang absolut pasti menyeleweng. Hukum ini berlaku kepada seluruh penguasa selain para nabi atau rasul. Sebab, kekuasaan seringkali digunakan untuk melakukan akumulasi kapital yang digunakan untuk memperbesar kekuasaan, sehingga keduanya membentuk lingkaran setan yang kian merusak. 

Untuk mencegah terjadinya kekuasaan yang absolut, diperlukan kekuatan politik lain yang memiliki daya kritis untuk memberikan koreksi jika salah, atau setidaknya tidak efisien dalam penyelenggaraan negara. Namun, oposisi juga harus tidak enggan atau segan untuk memberikan dukungan dan apresiasi jika kekuasaan sudah dijalankan dengan benar. 
Oposisi memang harus bersikap kritis terhadap penguasa. Namun, loyalitasnya kepada negara bersifat mutlak. Bahkan sikap penentangannya terhadap penguasa sesungguhnya didasarkan kepada loyalitas kepada negara, agar tidak ada rezim penguasa yang menggunakan kekuasaan secara semena-mena dan membahayakan kelangsungan negara. 

Oposisi loyal perlu terus disemai dan dibesarkan. Kekuatan ini bisa muncul dari berbagai sumber, partai politik, kampus, lembaga swadaya masyarakat, atau entitas-entitas kritis lain yang memiliki kepedulian kepada negara. 

Jika oposisi berasal dari kalangan terpelajar, diharapkan gagasan-gagasan yang berlawanan tidak hanya sekadar berbeda, tetapi benar-benar didasarkan kepada rasionalitas dan bersifat objektif. Keberadaannya sesungguhnya merupakan indikator bahwa ada alternatif lain penyelenggara negara selain yang sedang memerintah. Keberadaannya bisa membuat penguasa selalu berusaha untuk melahirkan kreativitas-kreativitas baru dalam memberikan pelayanan yang lebih baik dan optimal kepada warga negara, karena kekuasaan dijalankan secara benar-benar efektif dan juga efisiensi. 

Sebaliknya, tanpa keberadaannya, rezim akan merasa aman dari kemungkinan kekuatan lain yang memiliki potensi untuk mengambil alih nkekuasaan, karena rakyat tidak melihat adanya kekuatan lain yang memberikan harapan yang lebih baik untuk dipilih dalam mekanisme Pemilu yang konstitusional. Karena itu, rakyat justru harus memandang bahwa kekuatan oposisi ini bernilai positif.

Untuk membangun oposisi loyal yang kuat, diperlukan ide-ide yang jauh lebih kreatif, energi besar untuk sosialisasi kepada publik, dan keberanian menanggung risiko mengalami persekusi. Tanpa adanya gagasan-gagasan baru yang kreatif dan segar, rakyat tidak akan mampu mengimajinasikan tawaran masa depan yang lebih baik. 

Karena itulah, gagasan kreatif itu harus benar-benar bisa dikonstruksi secara baik dalam benak setiap warga negara, sehingga mereka tergerak untuk turut memperjuangkan realisasinya, termasuk di antaranya dengan melakukan pergantian rezim penguasa secara sah, karena telah diatur periodisasinya. Tidak mudah melakukannya, karena di samping tawaran itu memiliki nilai kebaruan, tetapi juga harus dikonstruksi secara simpel, sehingga dirasakan masuk akal.

Energi besar sangat diperlukan untuk melakukan dorongan gagasan baru. Padahal sumber daya yang dimiliki oleh opisisi sangatlah terbatas. Apalagi jika oposisi tidak berasal dari entitas masyarakat yang telah memiliki basis yang benar-benar kuat dalam masyarakat, baik secara sosial maupun ekonomi. Pada umumnya, pihak oposisi kalah kuat oleh rezim, karena menguasai struktur-struktur negara dari level paling atas sampai paling bawah. 

Struktur itulah yang biasanya digunakan oleh penguasa untuk mempengaruhi imajinasi rakyat sampai level paling bawah. Karena itulah, menggerakkan oposisi sesungguhnya adalah perjuangan yang tidak ringan, dan hanya kekuatan politik yang tahan uji yang mampu menjalankan peran opisisi ini secara konsisten. Terlebih dalam negara dengan budaya politik yang belum mapan dan berpandangan bahwa eksistensi kekuatan politik dinilai dengan besarnya cantolan dalam kekuasaan eksekutif.

Risiko oposisi adalah menghadapi represi pihak penguasa, karena biasanya memiliki kepercayaan diri yang lebih, terlebih karena merasa mengatasi aparat yang sesungguhnya merupakan representasi negara, bukan penguasa. Dalam praktik, aparat yang merupakan alat negara, justru melakukan pemihakan kepada rezim karena merasa mendapatkan kekuasaan darinya. 

Untuk bisa terus melakukan kerja kritis konstruktif, kekuatan opisisi harus memiliki mental baja dan bahkan juga kemampuan untuk membangun imajinasi bahwa keinginan mereka adalah keinginan mayoritas publik yang siapa pun yang melawannya akan mengalami kekalahan. Atau jika pun mereka mengalami kekalahan, sesungguhnya mereka telah melakukan perjuangan besar untuk mendorong kebaikan dan perbaikan negara. Wallahu a’lam bi al-shawab.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID