logo rilis
Oposisi Konsensus Dinilai Bisa Terbentuk di Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
21 Juli 2019, 17:00 WIB
Oposisi Konsensus Dinilai Bisa Terbentuk di Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf
FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Palembang— Direktur Eksekutif Lembaga Center for Democracy and Civilization Studies (CDCS), Alip Dian Permata, menyebut kemungkinan terbentuknya oposisi konsensus yang lebih memilih penggunaan metode pendekatan lunak terhadap pemerintahan pasca-Pilpres 2019.

"Kekuatan politik oposisi sepertinya tidak cukup signifikan dalam memberikan fungsi kontrol terhadap laju jalannya pemerintahan, maka satu-satunya bentuk pengawasan yang mungkin dilakukan oleh oposisi adalah menjadi oposisi konsensus," kata Alip di Palembang, Minggu (21/7/2019).

Melihat pasca pengumuman hasil Pilpres 2019, ujar Alip, kekuatan politik oposisi di parlemen cukup lemah dengan persentase mencapai 35, 39 persen. Sehingga, menurutnya, belum cukup menjadi kekuatan oposisi yang dominan di parlemen.

Hal itu, lanjut Alip, berbeda dengan pencapaian politik seperti Koalisi Merah Putih (KMP) sebagai oposisi di tahun 2014 yang meskipun gagal memenangi pilpres, namun berhasil menjadi kekuatan mayoritas di parlemen.

"Dan mereka (oposisi) saat itu bisa menyegel kursi pimpinan dewan di parlemen, sehingga di awal-awal masa kepemimpinan Jokowi mereka mampu menghadirkan perlawanan yang cukup ketat terhadap presiden," lanjutnya.

Konsekuensi dari hadirnya oposisi konsensus, ungkap dia, dimungkinkan sikap oposisi tidak akan segarang dengan varian-varian oposisi lainnya. Apalagi, jika ternyata oposisi kekurangan bergaining position secara politik sebab bukan mayoritas.

Namun kelompok oposisi bisa saja memainkan manuvernya di parlemen dengan menarik satu atau dua partai politik menjadi 'rekan sesaat'.

"Misalnya untuk isu tertentu yang tengah menjadi pembahasan hangat di parlemen, dengan pertimbangan kepentingan jangka pendek, secara dramatis mengambil posisi diametral terhadap garis kebijakan koalisi pemerintahan, kemudian bergabung dengan gerbong oposisi," jelas Alip.

Dinamika rekan sesaat tersebut akan mengejutkan pemerintahan dan mampu merubah lanskap politik di parlemen meski hanya bersifat sekejap, sebab kesepakatannya hanya terhadap isu tertentu, tambahnya.

Setidaknya dinamika tersebut pernah terjadi di Era Pemerintahan SBY, di mana saat itu berkali-kali PKS dan Golkar dalam isu kenaikan bahan bakar mobil (BBM) di parlemen, secara mengejutkan mengambil garis politik berlainan dengan partai koalisi pemerintahan.

"Tetapi jika melihat rekam jejak Jokowi ketika memimpin Indonesia pada periode pertama, ia termasuk presiden yang mampu mengelola dinamika yang terjadi sesama penghuni di kabinet pemerintahan, sehingga situasi reaksioner seperti era SBY tidak terulang sama sekali terhadap pemerintahannya, ini menjadi catatan penting tentunya bagi oposisi," pungkasnya. 

Sumber: Antara




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID