logo rilis

OPEC Pertahankan Produksi, Harga Minyak Dunia Meningkat
Kontributor
Kurnia Syahdan
25 September 2018, 08:45 WIB
OPEC Pertahankan Produksi, Harga Minyak Dunia Meningkat
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Harga minyak dunia tercatat mengalami kenaikan kuat pada akhir perdagangan, Selasa (25/9/2018) pagi WIB, atau Senin (24/9/2018) waktu Amerika Serikat.

Kenaikan harga minya ini, karena produsen-produsen minyak utama menolak berkomitmen meningkatkan tambahan produksi minyak mentah guna mengatasi gangguan pasokan.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik US$1,30 menjadi US$72,08 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman November bertambah US$2,40 menjadi berakhir di US$81,20 per barel di London ICE Futures Exchange, setelah menyentuh tingkat US$81,39, tertinggi sejak November 2014.

Pada Pertemuan Komite Pemantau Bersama Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan non-OPEC (JMMC) di Aljazair, memutuskan Minggu (23/9/2018), untuk mempertahankan tingkat produksi minyak saat ini, di tengah desakan dari AS untuk meningkatkan produksi minyak dalam upaya untuk mengekang harga-harga yang meningkat.

Pemimpin OPEC Arab Saudi dan produsen minyak terbesar lainnya di luar kelompok itu, Rusia, secara efektif menolak permintaan Trump untuk bergerak untuk mendinginkan pasar.

"Tidak ada kesepakatan untuk meningkatkan produksi, dan harga minyak pada US$80 per barel akan lebih baik bagi produsen dan konsumen," kata Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih.

Saya tidak mempengaruhi harga, tambahnya.

Trump mengatakan, pekan lalu OPEC harus menurunkan harga, tetapi Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan pada Senin (24/9/2018) bahwa OPEC tidak menanggapi permintaan Trump secara positif.

Para analis mengatakan, dorongan beli meningkat saat ini mungkin akan berlanjut hingga akhir tahun ini di tengah ancaman sanksi-sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran.

"Pasar masih didorong oleh kekhawatiran tentang pasokan dari Iran dan Venezuela," kata Gene McGillian, direktur riset pasar di Tradition Energy di Stamford seperti dikutip Reuters.

Disebutkan, kegagalan produsen-produsen untuk mengatasi hal itu secara memadai akhir pekan ini, menciptakan peluang untuk membeli. 

"Sekarang semakin jelas, bahwa dalam menghadapi produsen-produsen enggan untuk meningkatkan produksi, pasar akan dihadapkan dengan kesenjangan pasokan dalam tiga-enam bulan ke depan yang perlu diselesaikan melalui harga minyak yang lebih tinggi," kata pakar strategi minyak BNP Paribas Harry Tchilinguirian kepada Reuters Global Oil Forum.

Pedagang komoditas Trafigura dan Mercuria mengatakan Brent bisa naik menjadi US$90 per barel pada Natal dan menembus US$100 pada awal 2019, karena pasar mengetat setelah sanksi-sanksi AS terhadap Iran sepenuhnya dilaksanakan mulai November.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)