logo rilis
Opa Zeth Lekatompessy, Cerita Iklan hingga Ambon Kota Musik Dunia
Kontributor
Yayat R Cipasang
17 Maret 2018, 20:13 WIB
Opa Zeth Lekatompessy, Cerita Iklan hingga Ambon Kota Musik Dunia
Opa Zeth Lekatompessy (79) sang pelantun 'Kita Semua Bersaudara'. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

PRESS Gathering wartawan Parlemen selama tiga hari di Kota Ambon memungkinkan saya bertemu penyanyi legendaris yang terkenal menyanyikan iklan layanan masyarakat di televisi partikelir nasional 'Kita Semua Bersaudara' (Indonesia Manise), Opa Zeth Lekatompessy (79). Lagu yang juga dikenal 'Dari Ujung Banda Aceh Sampai Tanah Papua' ini satu-satunya lagu yang bisa menandingi popularitas iklan mars sebuah partai politik.

Untuk mengetahui lebih jauh alasannya kenapa bisa sakit badan kalau tidak menyanyi dan juga kritikannya kepada stasiun televisi yang menggelar ajang pencarian bakat, redaktur rilis.id Yayat R Cipasang mewawancarainya di sela-sela seminar mendukung Ambon menjadi City of Music ke-18 Dunia dan Diakui UNESCO di Swissbell Hotel, Kota Ambon, Sabtu (17/3/2017).

Kapan iklan layanan masyarakat 'Kita Semua Bersaudara' (Indonesia Manise) dibuat dan untuk kepentingan apa?

Itu sebenarnya main-main saja di rumahnya Pak ARB (Aburizal Bakrie). Sekitar empat tahun lalu. Saat ulang tahun Aburizal Bakrie. Kita cuma nyanyi-nyanyi saja di rumahnya. Dan saya langsung diminta rekaman. Saya tidak nyangka sekali, tvOne memutar itu.

Setelah itu saya dihubungi tvOne, 'Opa Zeth ini kita putar bagaimana royaltinya?'  Silakan atur saja yang penting saya nyanyi untuk NKRI. Royaltinya dikasih saja berapa nggak apa-apa. Yang penting saya nyanyi satu nusa satu bangsa.

Lagu itu diciptakan siapa?

Itu lagu diciptakan Harry Latuharhary kemudian beberapa syair saya ubah. Langsung jadi. Dan seperti yang sekarang saya nyanyikan. 

Apa makna yang paling mendalam dari syair lagu itu?

Ya, itu dari ujung Banda Aceh sampai tanah Papua kita semua bersaudara.

Bersaudara itu yang paling penting. Indonesia itu tempat kita hidup bersama. Tak mungkin kita lupakan. Indonesia Tanah Pusaka. Satu nusa satu bangsa satu bahasa. Indonesia manise.

Sejak kapan Opa menyanyi?

Dulu menyanyi sejak kelas tiga Sekolah Rakyat (SR) sekitar tahun 1946. Mulai nyanyi di gereja. Mulai kelas enam sudah memimpin paduan suara anak-anak. Dari sana terus latihan nyanyi dan jadi penyanyi seperti sekarang hidup dari nyanyi. Karena nyanyi juga saya telah keliling dunia hingga menorehkan prestasi di Pasadena menjadi juara kedua tingkat dunia tahun 1992.

Teman seangkatan Opa yang kini masih berkiprah menyanyi siapa saja?

Bung Bob Tutupoly dan dia lebih tua satu tahun dari saya. Berikutnya junior saya mendiang Broery Marantika, dia itu belajar banyak sama saya. Tahun 1964 sampai tahun 1970 Broery itu kalah terus sama saya. Saya juara terus. Bintang Radio (RRI) itu susah. Tahun 1976 saya ke Jakarta dan saya menjadi juara nasional untuk penampilan terbaik. Tahun 1980 saya pindah ke seriosa dapat lagi juara.

Opa sempat diganjar Museum Rekor Indonesia (Muri) untuk menyanyi nonstop, bisa diceritakan?

Menurut saya itu yang paling luar biasa sekitar tahun 2008. Saya menyanyi 50 lagu tanpa henti di Ambon. Berdiri hampir tiga jam lebih. Sebenarnya masih bisa lebih banyak tapi panitia menghentikannya karena sudah lebih. Hahahaha.... Itu pengalaman luar biasa.

Pemeritah Kota Ambon mencanangkan kota ini menjadi City of Music ke-18 di dunia dan segera diakui UNESCO pada tahun 2019, pendapat Opa seperti apa?

Itu sangat bisa. Tergantung kepada anak mudanya sekarang. Mereka harus mengerti dan saling menghargai. Anak muda harus mengharagai yang lebih tua dan kita pun orang tua harus menghormati yang muda. 

Hotel dan pusat hiburan di Ambon juga harus mendukung. Jangan sampai hotel-hotel hanya menyediakan keyboard seharusnya untuk mendukung perkembangan musik ya mereka juga menyediakan band.

Pernah suatu hari, Gories Mere (mantan Kepala Densus Antiteror) marah kepada pengelola hotel karena jam 10 malam sudah tidak ada musik atau band. Bagaimana Ambon mau jadi kota musik jam segini saja tidak ada band. Padahal dulu saya kalau main musik itu sampai jam tiga. Saya dulu sampai jam tiga pagi di Lapangan Merdeka. Dan kita senang-senang saja.

Rencana terdekat Opa manggung di mana?

Saya rencananya sama Gories Mere mau ke Bali. Kita akan ketemu teman lama di Bali. Pak Petrus (Irjen Pol Petrus R Golose) kan sekarang di Polda Bali. Kita akan menyanyi dan senang-senang di sana. Hahahaha....

Kalau ke luar negeri?

Saya juga dapat undangan ke Belanda. Tapi saya ini sudah tidak kuat lama-lama duduk di pesawat. Sudah susah saya ini. Duduk selama 10 jam itu setengah mati. Berdiri susah. Hahahaha....

Kalau di Filipina mungkin saya ke sana. Duta Besar di sana kan asal Manado (Sinyo Harry Sarundajang). Beliau malah mintanya saya satu bulan di sana. Tapi nggak bisa lama-lama. Kalau di Belanda kan keluarga banyak tapi kalau di Filipina nggak ada. Jenuh jadinya. Nggak bisa kemana-mana.

Ambon dikenal sebagai penghasil penyanyi pop atau penyanyi sekuler tingkat dunia, kalau perkembangan musik dangdut seperti apa?

Dangdut maju di sini. Dangdut punya tempat di sini. Coba lihat pesta-pesta banyak lagu dangdut dinyanyikan. Pokoknya rame.

Sejumlah televisi menampilkan ajang pencarian bakat dan sejumlah penyanyi muda dari  Ambon tampil, beberapa di antaranya juara, penilaian Opa seperti apa?

Di sisi lain bagus tapi belakangan ini saya patah semangat. Menurut saya tidak fair untuk melahirkan penyanyi hebat hanya didasarkan pada SMS. Berapa banyak orang Ambon yang mengirim SMS dibandingkan dengan daerah lainnya. Banyak penyanyi-penyanyi yang bagus tapi harus tersingkir karena tidak cukup SMS.

Menurut saya yang paling fair menggunakan sistem juri baru akan melahirkan penyanyi-penyanyi hebat dan berkarakter. Percuma kalau mencari penyanyi hebat lewat SMS.

Sampai kapan Opa akan bernyanyi?

Sampai saya tidak kuat lagi bernyanyi. Karena hidup saya dari nyanyi. Nyanyi itu enak. Sampai saya berhenti jadi pegawai negeri di Universitas Pattimura. Lebih enak nyanyi. Saya ini kalau tidak nyanyi sehari saja badan ini rasanya sakit. Kalau tak ada manggung kita mampir ke restoran terus nyanyi. Pulang itu tidur pulas. Hahahaha....


500
komentar (0)