logo rilis
Opa Zeth Beruntung Tak Berfoto dengan Letkol Untung
Kontributor
Yayat R Cipasang
19 Maret 2018, 17:50 WIB
Opa Zeth Beruntung Tak Berfoto dengan Letkol Untung
Opa Zeth Lekatompessy (79) saat tampil di Rumah Dinas Plt Gubernur Maluku Zeth Sahuburua. FOTO: RILIS.ID/Yayat R Cipasang

AH, andaikan Opa Zeth Lekatompessy (79) saat itu berfoto dengan elite Partai Komunis Indonesia DN Aidit, Komandan Resimen Cakrabirawa Brigadir Jenderal Sabur dan Letkol Untung di Istana Bogor, mungkin kariernya sebagai penyanyi akan tamat sejak tahun 1965. Bisa jadi dibuang bersama tahanan politik lainnya dan mati pelan-pelan di Pulau Buru. Untung....

Beberapa kali rasa syukur itu diucapkan Opa Zeth saat berbincang-bincang dengan rilis.id di sebuah hotel di Kota Ambon, Provinsi Maluku, belum lama ini. 

Opa Zeth yang dikenal sebagai pelantun iklan layanan masyarakat 'Kita Semua Bersaudara' (Indonesia Manise) dikenal sebagai penyanyi dan beberapa kali menjuarai lomba dan festival Bintang Radio yang digelar Radio Republik Indonesia (RRI).

"Saya bersama penyanyi lainnya setelah menjuarai ajang nyanyi di RRI diundang ke Istana Bogor," tutur Opa Zeth. "Saat itu saya melihat ada Aidit, ada Untung dan banyak Gerwani. Semuanya serba merah sampai meja pun merah," terang Opa Zeth.

Laki-laki yang gemar berpeci ini mengaku, bila mengenang momen tersebut, kuduknya selalu merinding. "Saya tidak membayangkan apa yang akan terjadi dengan nasib saya saat itu," ujarnya.

Menurut Opa Zeth, menjadi sebuah kebahagiaan bagi anak muda sepertinya dan juga anak kampung datang ke kota bisa berfoto dengan presiden dan juga petinggi partai. Saat itu Opa Zeth sudah tidak sabar untuk berfoto. "Tapi untungnya protokoler saat itu melarang saya untuk berfoto dengan para tokoh itu," kenang Opa Zeth. "Saya tak bisa bayangkan seperti apa nasib saya kemudian."

Setelah acara di Istana Bogor, beberapa bulan berikutnya pecahlah G 30 S/PKI. Sebuah gerakan gagal yang tidak hanya menyeret Presiden Sukarno, elite PKI, simpatisan tetapi juga para seniman dan musisi yang tidak tahu-menahu dengan persoalan.

"Jejak apa pun bisa menjadi bencana, termasuk berfoto dengan seseorang yang disebut dalang PKI. Seniman atau musisi itu bakal tamat ditangkap penguasa Orde Baru," kisah Opa Zeth.

Saat akan berpamitan, Opa Zeth juga titip salam untuk Emilia Contessa yang pernah berduet dalam sejumlah penampilannya di TVRI Jakarta. "Semua penyanyi yang pernah berduet dengan saya hebat-hebat dan punya karakter seperti Emilia Contessa dan Andi Meriam Mattalata.

"Emilia Contessa sekarang angggota DPD di Kompleks Kompleks Parlemen. Saya sering ketemu," ujar saya.

"Ohya? DPD apa?" tanya Opa Zeth.

"Wakil rakyat di Kompleks DPR," saya mengulang.

"Salam ya untuk Emilia. Tolong sampaikan nomor telepon saya yang tadi ya," pintanya bungah.

Namun, laki-laki kelahiran Ambon 1939 ini juga merindukan sosok penyanyi perempuan lainnya yang sampai saat ini tak terlacak. Penyanyi itu bernama Yatni Ardi. Sejak tampil beberapa kali di TVRI tahun 80-an sampai sekarang tak pernah bertemu lagi.

"Saya kehilangan jejak. Dia itu selain penyanyi hebat juga sangat cantik dan seksi," tuturnya. "Saya anggap adik karena saat itu usianya masih 18 tahun tapi suaranya hebat sekali," tambah Opa Zeth sambil mengacungkan jempol kanannya.

Saya pun pamit kepada Opa Zeth karena dia juga harus kembali bernyanyi di pangggung. Nyanyi baginya bukan semata sebagai penunjang hidup sehari-hari tetapi juga badan bisa sakit gara-gara sehari kelewat bernyanyi. Karena itu Opa Zeth bisa keluar rumah hanya untuk bernyanyi di sebuah restoran agar bisa tidur pulas sekalipun tak dibayar.


500
komentar (0)