logo rilis

Ojol 'Korban' Go-Jek dan Grab Bike, Siapa Biang Kerok?
Kontributor

27 Maret 2018, 20:18 WIB
Ojol 'Korban' Go-Jek dan Grab Bike, Siapa Biang Kerok?
Kesibukan di Kantor Go-Jek, Jakarta Selatan. FOTO: RILIS.ID/Afid Baroroh

RILIS.ID, Jakarta— Jauh dari Kompleks Istana, di kantor Go-Jek di kawasan Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, tampak sibuk mengurus layanan mitra. Seluruh ruangan dihiasi atribut perusahaan. Tak sedikit pun desus polemik tuntutan tarif rasional dibicarakan. 

Resepsionis, berfungsi sebagaimana adanya. Penjaga keamanan siaga mengawal proses pertukaran identitas guna keperluan layanan seperti urusan go-send, sampai pada pemanggilan calon tenaga kerja. 

Staf Go-Jek tak sedikit pun memberi komentar terkait tuntutan aksi massa menuntut pemerintah menentukan aturan yang layak bagi driver ojek online (ojol). Mereka disibukkan dengan keluar-masuknya urusan. Beruntunglah AC ruangan, mungkin masih setia memberi kenyamanan. 

Sementara, di depan gedung Pasaraya salah seorang driver menyibukkan diri membuka layar aplikasi. Ditengoknya tarif angkutan.  

Di layar tertulis: 0-10 kilometer (km) = Rp 2.000/km dari km pertama. Lebih dari 10 km = km dari km 10.01 dengan pendapatan minimum Rp13.000. Daftar tarif itu khusus untuk kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).  

Adalah Asep 37 tahun, seorang driver Go-Jek mengaku dengan tarif demikian tak banyak berani menuntut apapun. Lebih lagi, turut mengambil sikap di depan Istana Negara.  

Sedikit cerita ditorehkan. Pendapatan hasil dari mitra dituturkan tentang banyaknya rupiah yang dikantonginya per Minggu. Beruntung, Asep masih bisa mendapatkan Rp500.000. 

Dengan penghasilan itu, tak ada pilihan bagi Asep untuk menggantungkan rezekinya sebagai mitra Go-Jek. Bahkan, untuk hari ketika seluruh driver online berkumpul di depan Istana.  

"Pengen sih ikut temen-temen aksi. Tapi emang lagi enggak bisa. Lagi cari pemasukan lain," katanya.

Berbanding tipis dengan Go-Jek, driver Grab Bike, mendapatkan tarif angkutan Rp1.500 per km. Nominal ini dikeluhkan Adi (45) di tempat yang sama.

"Emang, biang keroknya itu ada di tarif Grab. Per kilometer itu 1.500 sedangkan Go-Jek 2.000. Sekarang, nyari duit sudah kayak ikan lohan kehabisan air, susahlah pokoknya," keluh Adi.  

Padahal, lanjut dia, dalam waktu tiga tahun belakangan (2015-2016) mengais rizeki sebagai mitra, sudah seperti ketiban hujan.  Per minggu ia bisa dapat keuntungan Rp2 juta, karena tarif yang dikenakan Rp 3.000 per kilometernya.  

"Siapa yang enggak tergiur kan? Dulu tiga tahun lalu, kita bisa dapet dua juta dalam seminggu. Itu kalau kita rutin. Tinggal potong buat sana-sini aja tuh penghasilan," ungkapnya.  

Editor: Yayat R Cipasang


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)