logo rilis
OJK Sebut Bank Muamalat Butuh Suntikan Modal
Kontributor
Intan Nirmala Sari
11 April 2018, 20:02 WIB
OJK Sebut Bank Muamalat Butuh Suntikan Modal
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, Bank Muamalat tidak mengalami persoalan likuiditas yang mengkhawatirkan. Namun, bank tetap membutuhkan investor yang bisa menyuntikkan modal untuk ekspansi usaha.

"Bank Muamalat basisnya mempunyai likuiditas bagus, hanya membutuhkan tambahan modal untuk beroperasi ke depan," kata Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Wimboh Santoso dalam rapat kerja Komisi XI DPR membahas perkembangan Bank Muamalat di Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Wimboh mengatakan, permodalan sangat dibutuhkan Muamalat jika perusahaan ingin tumbuh dan berkembang lebih optimal. Apalagi, Muamalat merupakan pionir dari industri keuangan syariah, sekaligus tercatat sebagai bank syariah pertama di Indonesia.

"Kebutuhan modal ini hal yang normal, karena Bank Muamalat harus terus tumbuh untuk menjalankan fungsi intermediasi secara berkelanjutan," jelasnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menambahkan, saat ini komposisi pemilik modal Muamalat terdiri atas Bank Pembangunan Islam (IDB) sebesar 32,74 persen, Grup Boubyan Bank-Kuwait 30,45 persen, Grup Sedco 24,23 persen dan perseorangan 12,58 persen.

Namun, IDB memutuskan tidak lagi menambah modal di Muamalat, karena terdapat peraturan internal yang membatasi kepemilikan modal hanya sebesar 20 persen. Demikian juga dengan Boubyan Bank-Kuwait dan Sedco Holdings yang memutuskan untuk melakukan konsolidasi atas kepemilikan saham di Muamalat.

"Dengan kondisi ini, perkembangan Muamalat stagnan, karena ekspansi membutuhkan penambahan modal," ungkap Heru.

Untuk itu, ia mengharapkan adanya calon investor yang serius untuk menanamkan modal ke Bank Muamalat agar industri keuangan syariah di Indonesia dapat tumbuh berkembang lebih baik.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)