Home » Inspirasi » Sosok

Ochi, Dokter Cantik di Pengungsian Rohingya

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

Dokter Rosita Rivai (Ochi), di tengah anak-anak pengungsi Rohingya. FOTO: Istimewa

HANYA alasan kemanusiaan yang mengetuk hatinya. Tak hanya pandai berkhotbah lewat tulisan yang menggugah di dinding media sosial. Lebih dari itu, dengan ketulusan jiwa, ia memilih terjun bersama timnya memberi pelayanan kesehatan bagi ratusan ribu pengungsi etnis Rohingya yang terdampar di Bangladesh.

Itulah perjuangan dokter cantik bernama lengkap Rosita Rivai. Seorang dokter muda yang bekerja di salah satu lembaga sosial, Dompet Dhuafa. Kecil tubuhnya, tapi semangatnya untuk mengurangi beban derita sesama senantiasa membara. Tak peduli derita itu ada di belahan dunia mana, selagi tangan mungilnya mampu menjangkau, ia akan turut berbagi. 

Bagi dokter yang akrab disapa Ochi ini, perhatian tetap harus digalakkan. Ketidakjelasan status kewarganegaraan etnis Rohingya, menurutnya, bukanlah sekadar persoalan politik semata, ada impact kesehatan yang mesti ditanggung mereka akibat diskriminasi politik itu.  “Program kami berlangsung lama. Mengingat belum ada titik terang tentang status mereka,” jawabnya yakin saat dihubungi rilis.id akhir pekan lalu.

Tatkala menjaja kepedulian yang artifisial laris di media sosial, Ochi tak larut. Ia mantap dengan pilihannya sebagai volunteer agar tidak berjarak dengan nasib tragis yang menimpa ratusan ribu pengungsi Rohingya tersebut. Ochi memilih bersenyawa bersama kegetiran hidup yang dialami hamba-hamba Tuhan yang lemah itu.

“Iya (tetap konsisten). Apa pun bentuknya, mungkin tidak mesti di lapangan, tapi setidaknya kegiatan-kegiatan kemanusiaan seperti ini selama masih bisa pasti saya dan suami terlibat,” kata Ochi.

Rosita lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 25 November 1976. Ia menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin sejak 1995, dan berhasil menyelesaikan kuliah kedokterannya tahun 2002.

Semasa mahasiswa, catatan aktivitas sosialnya berderet panjang. Pernah menjabat di berbagai jenjang organisasi sejak pendidikan terendah, mulai dari pengurus Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) sampai menjadi Ketua Bidang Organisasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2015-2018.

Dalam organisasi ekstra-kampus, Ochi pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum Kohati Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur, Sulawesi Selatan, periode 2000-2001. Dilanjutkan ke Jakarta, menjadi Sekretaris Umum Badan Koordinasi Nasional Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (BAKORNAS LKMI) PB HMI periode 2004-2006.

Segudang pengalaman itu menempanya menjadi pribadi yang peduli. Berkali-kali, atas nama kemanusiaan, Rosita terjun di wilayah-wilayah yang sedang membutuhkan penanganan medis di daerah darurat bencana.

Berikut catatan Ochi di laman Facebooknya, tertanggal 4 Oktober 2017:

Hari terakhir di Cox's Bazar...

Salah satu bagian yang paling menyedihkan dari sebuah perang adalah anak-anaknya. Serupa kertas, mereka putih dan rapuh. Noda itu datang dan corat-coret bertabur di putihnya kertas, beberapa di antaranya hadir meninggalkan sisi sobekan. Tak Terlupa.

Teringat akan sebuah memoar Anne Frank, anak kecil yang merekam kengerian perang dunia kedua dan kamp konsentrasi. Seandainya pun dia berhasil tumbuh dewasa, saya yakin ingatan-ingatan itu akan menjejak di dalam ingatan hingga sewaktu-waktu itu dapat mencengkeram ingatan bahagia. Trauma dan skizofrenia bisa saja terjadi. Pengalaman saya di beberapa daerah bencana, anak-anaklah yang sebenarnya paling menderita.

Sekiranya itu juga mungkin yang terjadi di Cox’s Bazar ini. Dompet Dhuafa dan Indonesian Humanitarian Alliance kemudian melihat masalah itu. Salah satu rekan saya, Eka Suwandi dari Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, mengajak anak-anak bermain dan menghibur mereka, Selasa kemarin (3/10/2017).

Berlatar padi yang melambai-lambai oleh angin dan cerah langit biru. Di depan posko kesehatan, dia menunjukkan anak-anak permainan sulap, seutas benang dia ikatkan di pergelangan tangan seorang anak pengungsi. 

Dalam sekejap mata. Hap! Benang itu menghilang dari pandangan. Anak-anak itu keheranan, Eka hanya tertawa. Pun saya kelimpungan penasaran.

Di telinganya, dia kemudian mengeluarkan benang itu. Anak-anak berdecak kagum, beberapa di antaranya tertawa. Dalam hati saya senang, melihat bocah-bocah itu tertawa. Ada harapan di setiap senyum itu, sekalipun keterbatasan menghantam mereka. 

Saya jadi termotivasi juga. Teringat beberapa materi trauma healing.

Saya mengambil beberapa snack dan mengajak mereka ‘Simon Berkata’. Permainan ice breaking ini memeragakan berbagai posisi tangan. Dan saya mengarahkan anak-anak mengikuti aba-aba saya. Dibantu seorang translator, saya mengajak mereka bermain. Tawa mereka lepas, sekalipun saya tahu beberapa di antaranya masih terasa asing dengan saya.

Akhirnya, snack makan siang saya habis di tangan anak-anak ini. Ya, saya rela tidak makan siang hari itu. Apalah arti perut lapar ini dibandingkan segurat harapan dari senyum mereka.

Di situ kami sadar, kami bukan dewa atau malaikat pembawa mukjizat, yang mampu melenyapkan kegetiran yang mereka alami. Kami hanya melakukan perihal sederhana dan berharap mereka dapat sejenak bahagia.

Kami juga sadar, bukanlah kami juga yang membantu mereka. Bantuan itu sebenarnya adalah Anda, empati Anda, bahkan uluran tangan Anda ke kami.

Besar harapan kami, Anda sekalian jangan putus memberi harapan.

Thanks to all IHA medical team 1a dan 1b (cerita tentang kalian nanti yaa)

Penulis Armidis Fahmi
Editor Ahmad Fathoni

Tags:

Rosita RivaiDokter OchiPengungsi Rohingya