logo rilis
Nyata! Wanita Ini Pernah Nyaris Jadi Teroris, Begini Kisahnya
Kontributor
Andi Mohammad Ikhbal
20 Mei 2018, 21:01 WIB
Nyata! Wanita Ini Pernah Nyaris Jadi Teroris, Begini Kisahnya
Ilustrasi wanita berjilbab yang melakukan aksi membela Islam. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Sebuah kisah ditulis akun Facebook Yunita Dwi Fitri pada 14 Mei lalu, kini menjadi viral. Cerita tersebut sudah dibagikan lebih 12 ribu kali oleh warganet.

Ia bertutur soal pengalamannya yang hampir terjebak pada gerakan radikal. Semua itu terjadi 12 tahun lalu, ketika Yunita masih menjadi mahasiswi, dan tengah sibuk tugas akhir kuliah.

"Mikirin tugas akhir kuliah benar-benar bikin galau, tiba-tiba ada anak remaja, mengaku baru lulus SMA, sebutlah Anna, datang menghampiri," tulis Yunita membuka cerita.

"Kak, saya lagi cari kos (indekos), bisa bantu enggak?" kata Yunita menirukan Anna ketika itu.

Nah, kebetulan, di tempat kos-nya, masih ada kamar kosong. Tanpa ragu, Yunita pun menawarkannya. Penampilan Anna, kata dia, seperti anak dari daerah dengan rok panjang, baju kemeja dan tidak mengenakan jilbab.

Lucunya, sesampai di lokasi, Anna malah menolak bertemu dengan Bapak Kos. Ia lansung minta masuk ke kamar Yunita. Meski, dinilainya agak aneh, namun Yunita tak merasa takut sama sekali. Lalu, Anna melihat Al Quran terbuka di atas sajadah.

"Suka baca Al Quran, kak?" tanya Anna kepada Yunita. Pas saat itu, Yunita memang sedang asyik mengkaji Al Quran beserta tafsirnya. Cuma, siapa sangka, semua bermula dari sini. 

Anna tiba-tiba saja mengajak Yunita untuk mengaji bersama. Katanya, akan ada temannya yang bisa mengajarkan. Di sini, ia mulai curiga, mengapa anak yang niat awalnya mau cari indekos, malah sok dekat dan mengajak ngaji bareng.

"Tapi saat itu, saya memang lagi ngulik tentang Al Quran dan buku-buku tentang keTuhanan, namanya juga masa remaja yang lagi kepo-kepo-nya lah. Jadi, ada yang nawarin belajar ya sudah, boleh lah diterima," ujar Yunita.

Lanjutnya, pada keesokan hari, si Anna datang besama temannya, sebutlah Tari. Usianya memang agak lebih dewasa, sekisar 22 - 23 tahun. Penampilannya ini yang sejak awal dilihat agak kurang kekinian, dengan jilbab putih, kemeja putih dan celana bahan hitam.

Dalam diskusi bersama, ia menilai, setiap kalimat Tari tertata rapi dari awal berkenalan dan akhirnya mulai menyuruhnya membuka Al Quran, dengan hafal dia mengintruksikan untuk membuka tiap-tiap ayat.

"Si Anna hanya diam, malah lebih seperti asisten, bukan teman," tambahnya.

Setiap ayat yang dia intruksikan saya bacakan, dan intinya adalah "Halalnya membunuh orang-orang kafir, jihad di jalan Allah tidak mudah, pasti akan dimusuhi bahkan oleh keluarga sendiri, tapi hal itu yang dibenarkan dalam Al Quran," ujar dia.

Jadi, ini misi sembunyi-sembunyi. Tambah dia. Lalu, keesokan harinya, Tari mengajak Yunita ke kosan-nya. Anna lah yang punya tugas untuk menjemput Yunita.

"Sudah galau TA makin galau lagi nih, antara takut dosa (melanggar Al Quran) atau takut diajarin yang enggak-enggak. Tapi, saya masih penasaran," kata dia.

Hari itu pun tiba, mereka belajar di kamar dengan ukuran pas-pasan, sekisar 3x3 meter, tanpa kasur. Hanya ada lemari dan tikar saja. Anna menutup jendela dan mengunci pintu. Tari mengeluarkan sebuah whiteboard berukuran sedang dari belakang lemari.

Diawali doa, dia mengajarkan sebuah ideologi. Enggak ada Al Quran kali ini. Hanya dengan coretan di whiteboard. Menggambarkan sebuah mobil ketika pengemudi salah mengendarai, masuk ke jurang, mati lah semua penumpang di dalam mobil.

Analogi ini atas sebuah negara yang memiliki pemimpin salah. Dan, semua berdosa jika dipimpin oleh pemimpin tersebut. Kemudian, Tari menggambarkan sebuah apel busuk, ketika ada di dalam kulkas bersama apel-apel yang masih bagus, maka apel itu akan tertular busuk.

"Itulah kita, jika masih berteman dengan orang kafir dan tidak sepemahaman dengan kita," kata Yunita menirukan ajaran Tari,

Dari gambaran itu, Tari menyimpulkan, Indonesia haruslah menjadi negara Islam, yang mendapat ridho Allah.

"Semakin curiga hati ini ketika dia bilang, untuk membangun misi, diperlukan dana," katanya.

Ini untuk membangun sebuah negara baru untuk Allah, jadi diperlukan pengorbanan dan ketetapan hati. Proses pembaiatan akan berlangsung di Cimahi, namun Yunita lupa di mana lokasi persisnya. Yang pasti, dia diminta membawa uang Rp400 ribu.

Tambahnya, jangan bertanya bukankah amal itu seikhlasnya? Tidak. Karena, Allah akan tahu sampai mana pengorbanan untuk-Nya. Bahkan, ketika harus berbohong meminta uang ke orang tua atau menjual handphone, itu adalah sebuah pengorbanan untuk Allah.

"Adapun baju yang harus dikenakan adalah kemeja, hijab, celana bahan" ujar Tari kepada Yunita.

"Jujur saja saya cukup merasa di-brainwash, otak ini berfikir untuk mengikuti perkataannya sampai saya enggak berani ngomong ke teman terdekat sekalipun, tapi hati ini menolak ketika saya harus berbohong ke orang tua demi Allah," kata Yunita.

"Bahkan, ketika saya harus menghalalkan segala cara demi pengorbanan untuk mendapatkan uang Rp400ribu," tambah dia.

Kemudian, Yunita lari ke Daarut Tauhid, yang ia tahu di sana adalah tempat orang-orang yang berilmu mengenai keislaman. Singkat cerita, ia bertemu dengan dua orang mahasiswa berhijab panjang, dan mereka adalah penyelamatnya.

Kata Yunita, mereka tau betul tentang aliran sesat yang ternyata sudah lumayan banyak beredar. Mereka berusaha mencuci otak anak-anak muda, banyak di antaranya yang hilang, meninggalkan keluarga demi membangun Negara Islam Indonesia.

"Mereka menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang, bahkan, sampai semiskin-miskinnya untuk disetor ke pimpinan mereka, karena misinya membangun sebuah negara di dalam negara," ujarnya.

Akhirnya, Yunita memutuskan untuk tidak ikut ajakan Tari dan Anna. Lalu, beberapa pekan kemudian, ia bertemu kembali dengan Anna, namun perempuan itu seperti ketakutan dan berpura-pura tak melihat Yunita.

Mulai saat itu ia sangat hati-hati kalau ada orang peminta sumbangan di ATM atau di jalan dengan penampilan seperti Tari. Berhijab, kemeja, celana bahan.

"12 tahun sudah berlalu, sekarang Indonesia sedang darurat teroris, dan saya percaya ini bukan cuma sekedar isu. Sekarang, 'Tari-Tari' lain banyak kita temui di media sosial, jadi jangan biarkan mereka semakin berkembang," kata Yunita.

"Demi NKRI. Demi Agamaku." tutupnya.


500
komentar (0)