logo rilis
Novanto Sebut Uang US$3,5 Juta Dibagi-bagi ke Anggota DPR
Kontributor
Tari Oktaviani
22 Maret 2018, 13:06 WIB
Novanto Sebut Uang US$3,5 Juta Dibagi-bagi ke Anggota DPR
Setya Novanto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Terdakwa kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP), Setya Novanto, mengakui uang yang dibagikan ke Komisi II DPR dan Banggar berasal dari hasil perputaran money changer, yang ditampung oleh rekan keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi.

Ini ihwal sebelumnya terkonfirmasi uang sebesar US$3,5 juta, yang ditarik oleh beberapa money changer dan dikumpulkan di Riswan alias Iwan.

"Bahwa uang itu diketahui Andi dan Irvan. Saya tanya apa itu uang dari Iwan, ya memang uang-uang dari situ," kata Novanto di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (22/3/2018).

Ia mengatakan, ketika uang sudah kumpul di Iwan maka kemudian uang tersebut dibagikan ke sejumlah anggota dewan. Adapun yang ia ingat di antaranya Olly Dondokambey, Tamsil Linrung, Mirwan Amir, Melchias Markus Mekeng, Arif Wibowo, Ganjar Pranowo dan Jafar Hapsah yang masing-masing mendapat US$500 ribu.

"Ya itu mengenai uang-uang itu. Yang untuk teman-teman di dewan," ujarnya.

Saat ditanya oleh Hakim Anwar ihwal siapa yang memberikannya ke para anggota DPR itu, Novanto menyebut keponakannya lah yang mengantarnya.

"Katanya si Irvan. Total US$3,5 juta," sebutnya.

Dalam persidangan sebelumnya, para pihak money changer mengakui telah mengirimkan uang dollar sebanyak US$3,5 juta kepada keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi.

Hal itu sesuai dengan perintah Irvanto yang menyuruh rekannya yang bernama Riswan, untuk menarik uang dugaan hasil korupsi e-KTP yang ada di Amerika.

Riswan alias Iwan yang menjabat sebagai Marketing Manager PT Inti Valuta, mengakui pernah menyerahkan uang US$3,5 juta kepada Irvanto.

"Jadi saya kasi ke Irvanto total US$3,5 juta. Seingat saya tiga kali pemberian," ujar Iwan kepada jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di pengadilan tindak pidana korupsi, Jakarta, Senin (5/3).

Lalu saat ditanya oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terkait pengetahuan Iwan asal uang tersebut, Iwan mengaku tak mengetahuinya. Bahkan dirinya tak tahu bahwa uang itu dari Biomorf Mauritius, salah satu perusahaan yang merupakan vendor produk biometrik untuk proyek e-KTP.

"Enggak tau (sumbernya). Saya hanya tau uang dari Pak Irvanto," kata Iwan.

Menurut Iwan, kejadian itu bermula ketika Irvanto mendatanginya dan mengatakan bahwa ia memiliki sejumlah uang di luar negeri. Irvanto pun meminta kepada Iwan agar menarik uang itu melalui tukar valuta asing.

Namun karena Iwan tidak bisa melakukan penarikan uang mengingat tidak punya lisensi ke luar negeri, maka Iwan menghubungi Juli Hira yang memiliki koneksi money changer di luar negeri. Iwan kemudian memberikan nomor rekening yang diberikan Irvan kepada Juli Hira.

Ia mengatakan, pada prinsipnya percaya pada Irvanto sebagai kliennya. Sehingga, asal usul uang tersebut pun dikatakannya bukan urusan money changer.

"Engga karena saya sudah lama deket jadi saling percaya. Sahabat saya punya duit segitu mau kirim bisa nggak. Lalu dicek dan dikasih ke nomor rekening dan saya forward ke Irvanto," katanya.

Komisaris PT Berkah Langgeng Abadi, Juli Hira, juga menyampaikan hal yang sama. Kepada Hakim, ia mengaku pernah melakukan jual beli dolar kepada sejumlah pihak untuk menarik uang US$3,5 juta dari Amerika. 

"Saya hubungin langsung yang mereka perlu. Jadi saya tawarin dan serahkan ke Iwan," katanya.

Karyawan Juli Hira, Nunuy mengakui telah menyerahkan uang dalam bentuk dollar AS secara transfer kepada Iwan. "Penyerahan ke Pak Iwan ada empat tahap," kata Nunuy.

Adapun rinciannya pertama, sebesar US$1 juta  pada 20 Januari 2012. Kemudian, tahap kedua US$1 juta pada 26 Januari 2012. Kemudian, tahap ketiga sebesar US$1 juta pada 31 Januari 2012, dan tahap keempat sebesar US$550 ribu  pada 6 Februari 2012.

Editor: Taufiqurrohman


komentar (0)