logo rilis

Nilai THR Meroket, Gerindra: Pemerintah 'Amini' Ekonomi Lesu
Kontributor
Nailin In Saroh
28 Mei 2018, 22:06 WIB
Nilai THR Meroket, Gerindra: Pemerintah 'Amini' Ekonomi Lesu
Pertumbuhan ekonomi menurun. ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Anggota Komisi XI DPR RI, Heri Gunawan, menilai, meningkatnya anggaran negara untuk tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13 seakan "mengamini" kondisi ekonomi masyarakat tengah lesu. Cara itu dipakai untuk menggenjot daya beli masyarakat.

"Dengan begitu, maka indikasi adanya penurunan daya beli sungguh-sungguh terjadi," ujar politisi Partai Gerindra ini di Jakarta, Senin (29/5/2018).

Sepanjang kuartal I 2018, terang Heri, daya beli masyarakat bergerak stagnan, lantaran konsumsi rumah tangga cuma naik 4,95 persen. Angka tersebut lebih tinggi daripada kuartal I 2017 sebesar 4,94 persen, namun di bawah capaian kuartal I 2016 senilai 4,97 persen.

Nilai tukar petani (NTP) pun demikian. NTP pada April 2018 tercatat 101,6, turun 1,3 poin dari NTP Januari 2018 sebesar 102,9. "Dengan kata lain, daya beli petani sejak awal tahun ini terus melorot," jelasnya.

Kata Heri, indeks keyakinan konsumen (IKK) juga turun. Dari 126,1 di Januari, menjadi 122 pada April. Salah satu faktornya, ekspektasi kesempatan kerja turun, kebijakan pajak, dan kenaikan harga energi.

Karenanya, Heri berharap, kenaikan THR dan gaji ke-13 tersebut mampu menjawab masalah turunnya daya beli. "Kenaikan THR dan gaji ke-13 bukanlah kebijakan temporer tanpa guna, tapi bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi riil," ucapnya.

Yang tidak kalah penting, tambahnya, stabilisasi harga saat sebelum dan sesudah Lebaran. Sebab, biasanya mengalami kenaikan cukup tinggi.

"Jika kenaikan THR dan gaji ke-13 tak mampu mendorong kenaikan kinerja, daya beli masyarakat, dan perekonomian riil. Maka, lebih baik uang sebanyak itu dibayar untuk mencicil utang yang sudah menembus angka 'lampu kuning' sebesar Rp4.180 triliun," paparnya.

Heri pun khawatir, kegagalan kenaikan THR dan gaji ke-13 tersebut dalam mendongkrak daya beli, ekonomi, dan kinerja, menunjukkan kebijakan ditujukan untuk mengejar popularitas.

Editor:


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)