logo rilis

Nestapa Ojol, antara Unjuk Rasa dan Tuntutan Hidup
Kontributor

27 Maret 2018, 18:24 WIB
Nestapa Ojol, antara Unjuk Rasa dan Tuntutan Hidup
Driver Grab tengah berteduh sambil menunggu penumpang di kawasan Benhil. FOTO: RILIS.ID/Afid Baroroh

RILIS.ID, Jakarta— Matahari menyengat tubuh Arief, 46 tahun, driver ojek online (ojol) di seberang bangunan tinggi menjulang di jantung Jakarta. Helm yang dikenakannya, memantulkan sedikit cahaya. Sedang jaketnya, menyerap seluruh panas Kota Jakarta

Bila mengintip sedikit pada kerah jaketnya, sebaris keringat mengalir tak beraturan. Tiga puluh dua menit dari amatan, Arief masih menunggu calon penumpang ojolnya. 

Tiga menit kemudian, lengannya tampak siap menarik gas motornya. Gayung bersambut, penumpang dijemput.  

"Lanjut dulu ya, Bang. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Mau narik penumpang dulu. Anak bini gua butuh makan," kata Arief berpamitan. 

Arief sama sekali tak mengenakan atribut hijau layaknya ojek daring. Mulai dari helm sampai jaketnya, tak satu pun bermerek ojol asal Malaysia itu. Kenapa? 

Pada perbincangan sebelumnya, Arief mengaku khawatir. Sebab bila ia nekat mengenakan atribut ojol, bisa jadi penumpangnya dipaksa turun. Masih untung tak dipukuli hingga babak belur oleh rekannya sendiri sesama penarik ojol.

"Bisa bonyok nanti. Penumpang dipaksa turun. Soalnya, kita kan harusnya sama-sama perjuangin hak kita. Mana tarif mau diturunin lagi kan. Anak masih kecil-kecil, bini di rumah juga cuma kuli cuci baju, mau dikasih makan apa?" katanya dalam perbincangan sebelumnya.  

Mendengar kabar tersebut satu tempat menjadi daftar perjalanan rilis.id, yakni kantor Grab. Di sana, puluhan driver Grab sudah menunggu antrean di depan kantor Grab kawasan Bendungan Hilir (Benhil). Pihak Grabe, khusus penanganan trouble shoot, menyediakan daftar antrean dari nomor 1 sampai 300. Jam pelayanan dibuka dari pukul 08.00 sampai 17.00 WIB.

Salah seorang driver tampak awas menanti daftar panggilan. Sambil menunggu antrean jemarinya, gugup melipat kertas bertuliskan nomor 276. 

"Masih lama nih. Gua mau ikut demo asal urusan gua udah kelar ngurus plat nomor, biar sesuai sama yang didaftar. Kalau gak begini kasian penumpang," tukas Parjo (52), bukan nama sebenarnya, kepada driver lainnya.  

Diketahui, Parjo telah menunggu antrean sejak pukul 10.00. Sampai pukul 12.00 siang, antreannya tak kunjung datang. Padahal segala persyaratan sudah ia penuhi. Salah satunya, Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). 

Parjo salah seorang driver yang memilih untuk mengurus administrasi Grab daripada terlibat aksi di depan Istana Merdeka. Diketahui massa aksi berkumpul untuk menuntut agar pemerintah mengatur tarif yang rasional dengan mementingkan rasa keadilan.  

Tak hanya itu, driver ojek online juga meminta payung hukum yang adil dan tak memberatkan. Sedang Parjo, bukan maksud tak ingin bergabung dengan sesama kawannya yang menuntut hak. Namun, menurutnya tanggung jawab memberi nafkah bagi keluarga lebih penting. 

"Buat nutup biaya sekolah aja kelabakan. Kasianlah orang rumah. Yang namanya kerjaan begini kan kita yang kudu usaha keras cari penumpang," tukasnya.  

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID