Yudhie Haryono

Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center. 

Negara Swasta

Kamis, 7/12/2017 | 07:04

KINI yang terjadi adalah "negara swasta." Dan, itulah "cucu haram" hasil persetubuhan akut dari tiga serangkai: fundamentalisme pasar (neoliberalis), terorisme agama (neofundamentalis) dan fasisme ekonometrika (neotribalis). 

Kisah negara swasta merupakan titik termodern dari arsitektur kolonial. Ada sembilan pola yang bisa kita catat, mulai dari hegemoni rempah, koloni teritorial, perbudakan massal, pasar senjata, penjajahan budaya-bineris, emoh negara-demokrasi liberal, komprador SDA, diktator finansial-kurs dan utang piutang, negara swasta.

Apa itu negara swasta atau swastanisasi negara? Swastanisasi negara adalah pengalihan dan pengendalian pemerintahan yang sebelumnya dikuasai dan dikendalikan oleh semua warganegara menjadi milik segelintir warga (asing, aseng dan asong).

Bagaimana itu terjadi? Melalui ternak kapitalisme lanjut (kleptokrasi, oligarki, predatorik dan kartelik). Apa operasinya? Dengan membuat manusia tidak menyadari kemanusiaannya. Manusia yang tunduk pada simbol, angka dan kontestasi.

Dus, adalah kapitalisme lanjut yang membuat manusia harus bekerja lebih dari yang diperlukan. Kapitalisme lanjut ketakutan akan kesadaran manusia yang dieksploitasinya. Dan, cara terbaik membuai manusia agar tak sadar adalah meninabobokan mereka di negara swasta.

Di negara swasta, ada beberapa ciri. Pertama, pemerintah mencitrakan kerakyatan, menihilkan dentuman. Kedua, pemerintah gagal menemukan solusi, berhasil menguasai kursi. Ketiga, pemerintah berhasil menumpuk utang, gagal meredam berang. Keempat, pemerintah surplus cacian, minus gagasan.

Kelima, terjadi industrialisasi, minus lapangan pekerjaan. Keenam, kebijakan fiskal luas, defisit stimulus. Ketujuh, interkoneksitas perbankan, alpa kemudahan. Kedelapan, muncul daya beli tanpa produktifitas. Kesembilan, ada stabilitas tanpa akselerasi.

Agar lebih tajam pengetahuan soal negara swasta sebagai arsitektur politik kolonial, mari terus ikuti dan cermati fakta-fakta mutakhirnya.