logo rilis

Nasionalisme Mazhab Sukarno
kontributor kontributor
Dadang Rhs
15 September 2017, 08:21 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Nasionalisme Mazhab Sukarno

MEMPERTEMUKAN nasionalisme, Islam dan Marxisme seperti muskil rasanya. Tapi, tidak bagi Sukarno, sebab ketiganya memang harus dipersatukan untuk melawan kekuasaan kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme.

Adalah Ir Sukarno, Bung Karno, orang yang begitu berketetapan hati menjadikan nasionalisme sebagai dasar kebersamaan Indonesia. Menurut Sukarno, "Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada Tanah Air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka. Nasionalis yang bukan chauvinis, tak boleh tidak haruslah menolak segala paham pengecualian yang sempit budi itu. Nasionalis yang sejati, yang nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copy atau tiruan dari nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan." Rumusan paham kebangsaan Sukarno ini merupakan “adonan” dari pikiran Ernest Renan, Otto Bauer, dan Mahatma Gandhi (seperti yang diakuinya dalam pidatonya 1 Juni 1945).

Baca Juga

Dalam gagasannya ini, tampak sekali betapa kuat keinginannya untuk menyatukan Indonesia. Hasrat inilah yang terus merasuki pikiran dan hatinya. Namun, tentu saja hasrat ini tak lahir sekonyong-konyong. Perjalanan hidup Sukarno telah mengantarnya pada kesimpulan ini. Pergaulannya dengan para aktivis politik di Surabaya, di mana ia bergaul dan tinggal di rumah tokoh Sarekat Islam karismatik, Tjokroaminoto, tempat ia memulai karier politiknya sangatlah memberi andil pada nasionalismenya.

Sukarno memang banyak belajar dan bergaul dengan para tokoh pergerakan di zamannya. Dalam Soekarno dan Perjuangan Kemerdekaan, Bernhard Dahm (1987) menulis bahwa Tjokroaminoto merupakan salah seorang tempat Sukarno berguru. Sebagaimana pengakuan Bung Karno—nama populer yang digunakan Sukarno sebagai simbol kesetaraan—bahwa ia belajar politik dari ayah mertuanya ini. “Saya telah belajar politik dari Tjokroaminoto,” kata Sukarno.

Pengaruh Tjokro ini tampak dalam banyak hal. (Sukarno kerap menemani Tjokro dalam banyak rapat umum di mana Tjokro menjadi bintangnya. Dan, Sukarno belakangan hari menjadi seorang orator yang ulung). Kegigihan Sukarno untuk menjaga persatuan agaknya sedikit banyak merupakan pengaruh pergaulannya dengan Tjokro.

Dan, tentu saja, sedikit banyak Sukarno juga ngaji tentang Islam dari tokoh SI ini. Pelajaran tentang Islam ini kelak berlanjut ketika ia masuk penjara Sukamiskin. Di penjara ini, ia banyak membaca Al-Quran dan tafsir. Pengajian ini berlanjut ketika ia menghabiskan harinya dalam pembuangan di Ende, Flores, lewat surat-menyuratnya dengan Hasan Bandung, seorang tokoh Persis. Sukarno banyak berdiskusi mengenai Islam. (Agaknya hal ini pula yang membuat ia meyakini bahwa Islam merupakan kekuatan yang tak bisa dipisahkan dari Indonesia)

Di lain pihak, Sukarno juga bersahabat dengan Hatta, tokoh pergerakan Indonesia dan pendiri Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, orang yang kelak menjadi kawan sekaligus lawannya. Ia juga bergaul baik dengan tokoh nasionalis seperti Tjipto Mangunkusumo, teman Sukarno di Algemeene Studieclub – Bandung, juga dengan Sjahrir, tokoh politik muda aktivis Perhimpunan Indonesia (PI), yang kelak akan memimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Ia juga dikabarkan kerap saling berkirim surat dengan salah seorang tokoh pergerakan radikal di perantauan, Tan Malaka. Menurut Harry A. Poeze (1999), salah satu surat Tan Malaka kepada Sukarno ditemukan dalam sebuah penggerebekan yang dilakukan polisi kolonial. Bahkan dalam pengadilannya, di mana Sukarno menyampaikan pembelaannya yang terkenal “Indonesia Menggugat”, jaksa penuntut menunjukkan brosur Massa Actie, karya Tan Malaka, sebagai salah satu bukti penting.

Pergaulan inilah yang secara jelas memantapkan keyakinan Sukarno pada persatuan nasional. Di mana para tokoh yang menjadi kawannya adalah orang-orang—yang dalam istilah Poeze adalah kaum nasionalis radikal—yang juga meyakini bahwa hal ini merupakan syarat menuju Indonesia merdeka, tentu dengan sudut pandang yang beragam. Hasrat akan persatuan ini agaknya merupakan semangat zaman itu.

Sukarno dan Persatuan Nasional

Ketetapan hati Sukarno akan persatuan nasional ini tampak jelas pada tulisannya “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” (1926). Ikhtiarnya untuk mempertemukan unsur-unsur yang hidup di Indonesia sangatlah menggebu-gebu. Bahkan, pada batasnya, terasa seperti ingin “menegakkan benang basah”. Seperti muskil rasanya mempertemukan Islam dan Marxisme. Bak mimpi di siang bolong.

Namun, tidak untuk ayah Megawati Soekarnoputri ini. Baginya, Islam dan Marxisme memiliki kesamaan. Keduanya menentang pengisapan terhadap sesama manusia. Interseksi ini pun berlaku pada nasionalisme dan Marxisme, bahwa keduanya menentang penindasan manusia terhadap sesamanya. Alhasil, ketiganya memiliki persamaan yakni menentang penindasan dan pengisapan. Dan karena itulah, ketiga-tiganya (nasionalisme, Islam dan Marxisme) harus bersatu melawan kekuasaan kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme.

Seruan persatuan ini, menurut Takashi Shiraishi (1997), menunjukkan zaman baru dalam era pergerakan nasional. Dan, bagi Shiraishi, klasifikasi Sukarno terhadap nasionalis, Islam dan Marxis, dalam masyarakat Indonesia merupakan bukti bahwa gagasan itu memang ada dan dikenal luas dalam pergerakan Indonesia waktu itu.

Dalam buku Soekarno, Biografi 1901-1950, karya Lambert Giebels (2001), selain Surabaya, kota kembang Bandung merupakan tonggak yang cukup penting bagi perkembangan keyakinan nasionalisme Soekarno. Kota kembang tempat ia kuliah dan mematangkan gagasan-gagasan politiknya. Di kota ini pulalah, kelak ia tampil menjadi tokoh nasionalis terkemuka.

Putra Sang Fajar ini, menurut Giebels, di kota kembang berkenalan dengan DMG Koch Marcel Koch, seorang Marxian Belanda yang kelak beralih menjadi sosialis demokrat. Dari perpustakan Koch, Sukarno sering meminjam buku. Menurut Koch, Sukarno cukup tertarik dengan pemikiran Karl Kautsky, seorang Marxis yang bersepaham dengan jalan parlementariat, serta belajar langsung dari Karl Marx dan Friedrich Engels tentang sosialisme.

Seiring dengan ini, menurut Giebels, kuat kemungkinannya Sukarno juga membaca karya Bakoenin, seorang Marxis dan putra tuan tanah di Rusia, yang menolak bahwa hanya kaum proletar industri saja yang dianggap sebagai pejuang revolusioner. Bakoenin meyakini bahwa kaum petani adalah bagian dari perjuangan ini. Agaknya, menurut Giebels, Marhaenisme Sukarno sedikit-banyak terpengaruh dari pikiran kedua orang ini.

Marhaenisme, yang menurut Sukarno diambil dari nama seorang petani yang pernah ia jumpai di tanah Priangan, kelak akan menjadi ideologi yang diusung Sukarno untuk mempersatukan Indonesia. Marhaenisme—seperti yang dikatakan Bung Karno pada Cindy Adams—adalah sosialisme Indonesia dalam praktik. Sebuah paham kebangsaan yang tak sempit budi. Nasionalisme yang mau berbagi pada sesama, tapi tidak pada para pengisap dan penindas.

Tentu saja “singa podium” ini tak luput dari kesalahan. Sebagaimana ia pernah berkata dalam salah satu pidatonya, "Orang-orang besar ini satu per satu tidak luput dari salah. Oleh karena sekadar manusia biasa."

Alhasil, membaca lagi pikiran dan gagasan Bung Karno setidaknya mengingatkan kita betapa kebangsaan Indonesia adalah suatu ikatan yang harus dirawat, agar tetap kuat dan tidak menjadi getas. Terlebih hari ini. Semangat persatuan yang didasari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan tetaplah harus diperjuangkan. Merdeka!


#Sukarno
#Islamisme
#Nasionalisme
#Marxisme
#Kolonialisme
#Imperialisme
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID