logo rilis

Muslim Rohingya Bukan Dusta
kontributor kontributor
Dadang Rhs
06 September 2017, 21:23 WIB
Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID
Muslim Rohingya Bukan Dusta

AKAL sehat kita sedang diuji. Di seberang sana, ada sebuah peristiwa. Beritanya menampar bibir pantai pekarangan kita. Bahwa, ada tragedi kemanusiaan di Rohingya. Atas peristiwa ini, ada silang cerita.

Informasi hari ini begitu deras. Ia mendesak ke ruang privat kita. Hingga menyelusup ke balik selimut. Pada situasi ini, kadang jarak tak lagi ada. Bahkan, di era digital ini, kekuatan pikiran sering dikalahkan oleh kecepatan jempol mengetuk papan smartphone. Kecerdasan digilas rasa cemas untuk tampak cepat.

Baca Juga

Berita yang seharusnya menjadi sumber informasi yang teruji, diubah menjadi kabar yang menutupi bukti. Fakta bertukar tempat atau bahkan berselingkuh dengan fiksi. Anak kandung perselingkuhan informasi dan imajinasi inilah yang sekarang disebut: Hoaks.

Publik berhak atas informasi yang layak. Informasi yang merujuk pada fakta peristiwa. Bukan hoaks. Bukan kabar yang tercemar. Bukan informasi yang direproduksi oleh industri kebencian. Soalnya informasi yang layak memerlukan pelbagai syarat. Satu di antara kunci yang membedakannya adalah akurasi. Tanpa akurasi, berita bisa jadi hanya permainan publikasi.

Hari ini, informasi didapat dengan mudah dan cepat. Agar tak tersesat, publik berhak mendapatkan informasi yang akurat. Informasi yang tak sekadar adu cepat namun tidak tepat (akurat). Untuk mendapat informasi yang akurat, publik pembaca perlu sedikit teliti mengais dan memilah mana fakta berita dan mana sampah berita (hoaks).

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara memilah berita. Ada cara yang cukup sederhana. Misalnya terkait peristiwa Rohingya. Kunjungi mesin pencari berita, di sana akan dibantu oleh kearifan orang banyak. Mereka, yang tanpa saling kenal, dengan sukarela membantu menyodorkan informasi yang diperlukan. Gunakan nalar juga naluri, lalu dengan mudah akan terlihat dan teruji. Jika sedikit teliti dan mau menelisik, Anda akan dapat memverifikasi objektivitas sebuah berita. Karena, gajah tetaplah gajah. Semut tetaplah semut. Di seberang lautan atau di pelupuk mata. Muslim Rohingya itu nyata. Kecuali Anda sedang cemas dan seorang pendusta.

Mungkin, ada yang cemas bahwa solidaritas bagi Muslim Rohingya terpapar “radikalisme”. Ini generalisasi yang dipenuhi imajinasi. Semacam rasa cemas yang mengenaskan. Persekusi terhadap Muslim Rohingya itu bukan fiksi. Apa pun keyakinan Anda, kejahatan terhadap kemanusiaan ini tetaplah kejahatan. 

Solidaritas dunia bagi nestapa Muslim Rohingya adalah suara mereka yang menolak dusta. Ancaman genosida terhadap Muslim Rohingya itu ada dan di depan mata. Perkabaran internasional mengakui itu.

Alhasil, berpulang pada kita. Mau menikmati hidangan sehat. Informasi penuh nutrisi. Atau, bertahan sebagai penikmat junk food yang tidak higienis. Terus-menerus memamah informasi sampah dan menjadi pencandu hoaks. 

Silakan memilih sesuai dengan selera dan akal sehat Anda. Ingin tetap cerdas atau larut dalam cemas.


#Muslim Rohingya
#Dadang Rhs
#Merdeka
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID