Home » Bisnis

Musim Hujan 2017, Kementan Pastikan Harga Bawang Merah Stabil

print this page Kamis, 7/12/2017 | 16:37

Dirjen Hortikultura Kementan Spudnik Sujono (kanan) saat panen bawang merah. FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono, menyatakan harga bawang merah pada musim hujan 2017 ini relatif stabil. Sebab, geliat petani untuk menanam komoditas bumbu dapur itu tetap tinggi.

"Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana harga melonjak di pengujung tahun sampai Maret karena luas tanam dan panen tidak semasif di musik kemarau. Di musim penghujan sekarang berbeda, masyarakat menikmati harga bawang merah yang terjangkau dan minim fluktuasi," ujarnya di Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Berdasarkan pantauan harian Ditjen Hortikultura atas tanaman dan panen se-Indonesia, terjadi penambahan luas tanam bawang merah di sentra utama. Misalnya, Brebes, Demak, Bangli, Enrekang, Solok, dan lainnya. Adapun luas tanam pada November dan Desember mencapai 25 ribu hektare untuk panen Januari-Maret 2018. Terluas di wilayah Bangli.

Sementara prognosisnya, Ditjen Hortikultura mencatat, produksi bawang merah pada Desember 2017 mencapai 123.849 ton dengan neraca 14.412 ton. Sedangkan Januari, neraca mencapai 16.308 ton. Malah, tengah terjadi panen dengan skala luas di Demak, Cirebon, Solok, dan Brebes. "Semoga pasokan dan harga tetap stabil di musim hujan ini," harap Spudnik.

(Dirjen Hortikultura Kementan Spudnik Sujono saat meninjau tanaman bawang merah organik yang dikelola petani di Brebes, Jawa Tengah. FOTO: RILIS.ID/Fatah Sidik)

Strategi Pemerintah
Peraih gelar doktor dari Universitas Brawijaya Malang itu menerangkan, hal tersebut tak lepas dari berbagai terobosan pemerintah, khususnya Kementan. Misalnya, menggelar Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan, 20 November silam. Forum tersebut fokus membahas penataan pasokan bawang merah dan komoditas strategis lain.

Kemudian, didukung dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) yang berencana menyediakan 20 unit Controlled Atmosphere Storage (CAS) untuk penyimpanan bawang merah dan cabai. "Rencana pemerintah untuk berinvestasi gudang dan teknologi penyimpanan di beberapa wilayah sentra merupakan salah satu rangkaian dari langkah strategis pengendalian pasokan dan harga komoditas penting nasional," bebernya.

Menurut Spudnik, kebijakan tersebut dilakukan melalui perhitungan cermat dan skema investasi yang tepat, mengingat biayanya tak sedikit. "Dan langkah lain yang kami lakukan ialah manajemen tanam yang terkendali serta penerapan teknologi budidaya di musim hujan untuk terus mendorong pertanaman tetap kondusif di lapangan," tambahnya.

Meski demikian, dia berharap, sejumlah pihak turut membantu pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan stok komoditas pangan strategis. "Karena pemerintah tak dapat bekerja sendiri. Peran semua pihak diperlukan untuk bersama-sama mendukung program serta kepentingan nasional menuju Indonesia sejahtera," jelas Spudnik.

Faktor Deflasi
Pernyataan mantan Sekretaris Ditjen Tanaman Pangan Kementan itu cukup berasalan. Sebab, Menko Perekonomian Darmin Nasution berulang kali menyampaikan bahan makanan menjadi faktor deflasi, karena stabilitas harga. Apalagi, stabilitas harga bukan cuma untuk komoditas bawang merah saja, melainkan bawang putih dan cabai yang cenderung tiada perubahan harga signifikan. 

Berdasarkan pemantauan harga per hari oleh Pemerintah melalui Posko Ditjen Hortikultura tercatat, harga tingkat petani di beberapa sentra sekarang cenderung rendah. Misalnya di Demak dan Cirebon berkisar Rp8.000-Rp9.000 per kilogram dan rata-rata nasional Rp13.200. Harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode sama 2016 yang mencapai Rp23.512 per kilogram. Stabilitas harga turut terjadi di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta berkisar Rp16.000-Rp17.000.

Penulis Fatah Sidik

Tags:

KementanDitjen Hortikultura KementanSpudnik SujonoBawang Merah