logo rilis

Munir, Riwayatmu
Kontributor
Yayat R Cipasang
08 Desember 2017, 19:39 WIB
Munir, Riwayatmu
FOTO: insideindonesia.org

NAMA lengkapnya Munir Said Thalib. Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-52 (8 Desember 1965). Bagi yang mengenalnya, pendiri KontraS ini adalah sosok sederhana, humanis dan idealis. 

Padahal, awalnya dia dikenal sebagai seorang yang keras dan fundamentalis, berubah menjadi seorang yang toleran dan dikenal sebagai pejuang hak asasi manusia.

Baca Juga

Tragis, nyawanya melayang karena aktivitasnya yang sangat kritis. Munir dibunuh oleh sesama anak bangsa, Pollycarpus Budihari Priyanto, saat menumpang pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-974 tujuan Jakarta-Amsterdam dan sempat transit di Singapura.

Munir sejatinya hendak sekolah ke Belanda. Tapi harapan dan cita-cita itu gugur bersamaan dengan racun arsenik dalam minuman yang menggerogotinya selama penerbangan hingga akhirnya meninggal pukul 08.10 waktu setempat. Dua jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam pada 7 September 2004.

Sampai saat ini masih menjadi kontroversi apakah Munir diracun saat penerbangan Jakarta-Singapura atau dalam penerbangan Singapura-Belanda. Semua itu masih misteri kecuali Pollycarpus yang juga staf Aviation Security telah menjalani dihukum 14 tahun penjara dan Direktur Utama Garuda Indonesia Indra Setiawan yang dihukum satu tahun. 

Namun, sebagian kalangan masih percaya ada kelompok lebih besar dibandingkan dua tersangka tersebut.

Sampai saat ini, Suciwati, janda Munir, masih terus berjuang untuk menuntut keadilan kepada pemerintah. Sebelumnya sempat muncul titik terang saat SBY berkuasa selama sepuluh tahun. Namun, harapan Suciwati dan keluarganya pupus kembali saat rezim berganti kepada Pemerintahan Jokowi. 

Suciwati sangat kecewa dengan Jokowi yang sebelumnya berjanji akan menyelesaikan masalah pelanggaran HAM, termasuk kasus almarhum suaminya. Ia ingat betul saat itu Jokowi sempat meneleponnya ketika kampanye Pilpres 2014 sekadar meminta dukungan. Suciwati menagih janji itu lewat suratnya tertanggal 26 November 2017.

Bapak Presiden yang terhormat,
Sampai hari ini kami para pencinta Keadilan dan Kebenaran tidak kenal lelah untuk terus menunggu kabar penegakan hukum dan HAM lewat janji Nawacita Anda. 13 tahun Munir dibunuh dan keadilan masih begitu jauh, tentu saja surat ini tidak untuk meratapi atas betapa bobroknya penegakan hukum dan HAM di negri ini.

Saya menulis surat ini karena  meyakini nilai-nilai yang sudah dilakukan Munir, bagaimana Munir hanya bekerja tanpa henti  dan terus menerus mendorong kemanusiaan dan hak asasi manusia di Indonesia hadir dan masuk di ruang kehidupan bernegara. Kehidupan masyarakat yang berkeadilan sosial tanpa penindasan dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi tanpa kekerasan. Itu saja cita-cita Munir.

Semoga itu menjadi cita-cita serta kerja Anda bapak Presiden, tentu saja akan menjadi konkrit dengan menepati janji Anda menuntaskan kasus Munir dan kasus pelanggaran HAM yang masih menjadi beban negara tercinta kita.

Bapak Presiden,
Setiap Kamis jam 4-5 sore di seberang istana  Anda, kami ‘berdiri diam, berpayung dan berbaju hitam' berharap kami mendapat payung keadilan. Saya yakin Anda tahu karena kami ada hampir 11 tahun di sana. Kami tak akan lelah meminta pertanggungjawaban negara atas derita dan luka  bangsa ini, untuk meluruskan sejarah bangsa ini, untuk pengungkapan kebenaran dan keadilan. Adakah kabar baik itu akan hadir?

Semoga Anda tidak seperti pendahulu bapak yang terus memberi Ruang Kosong Keadilan
Ketika Anda naik dan berhasil jadi presiden harapan kami Anda menulis sejarah perjuangan gelap untuk memberi secercah cahaya dalam kehidupan berbangsa kita. Mendorong bahwa kejahatan kemanusiaan harus diungkapkan demi keadilan dan kebaikan sejarah negeri ini.
Apakah Anda akan memenuhi harapan kami wahai bapak presiden? Semoga bukan lagi harapan palsu dan kosong.
 
Malang, 26 November 2017

Hormat saya,
Suciwati - Istri Munir, korban pelanggaran HAM


#munir
#ham
#imparsial
#kontras
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)