logo rilis
Muncul Nama Nusron Wahid, KPK Tunggu Pengembangan Kasus Bowo
Kontributor
Nailin In Saroh
10 April 2019, 13:45 WIB
Muncul Nama Nusron Wahid, KPK Tunggu Pengembangan Kasus Bowo
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanggapi pengakuan tersangka dugaan suap Bowo Sidik Pangarso terkait 400 ribu amplop diduga serangan fajar. Bowo mengaku menyiapkan amplop itu lantaran diminta Ketua Korbid Pemenangan Pemilu Jawa dan Kalimantan Golkar, Nusron Wahid.

Kendati begitu, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan bahwa pengakuan satu orang saja tidak cukup bukti. KPK, masih akan melakukan penyidikan lebih lanjut.

"KPK tidak memerlukan pengakuan saja dalam membuktikan sebuah peristiwa Tipikor, itu sebabnya pengakuan memerlukan masih pembuktian di mana proses itu masih berlangsung di penyidikan saat ini," ujar Saut, Rabu (10/4/2019).

Lebih lanjut, Saut menegaskan, KPK hanya masuk pada isu yang relevan dengan tugas dan kewenangan yang diatur oleh undang-undang. Karenanya, ia meminta semua pihak menunggu bagaimana penyidik mengembangkan kasus ini.
?
"KPK hanya akan masuk pada isu yang relevan dengan wewenang atau kompetensinya, di mana itu juga sudah diatur oleh KUHAP. Jadi kita tunggu saja seperti apa penyidik mengembangkan hal itu," jelas Saut.

Sebelumnya, politisi Golkar Nusron Wahid yang disebut namanya sudah membantah. Dia menegaskan, pencatutan namanya oleh koleganya di partai beringin itu tidak benar.

"Tidak benar," kata Nusron singkat saat dimintai konfirmasi, Selasa (9/4/2019).

Nusron mengaku, dirinya tak pernah memerintahkan Bowo Sidik menyiapkan amplop serangan fajar. Dia pun tidak tahu menahu ihwal pengakuan anggota Komisi VI DPR itu.

"Tidak tahu-menahu," kata Nusron, yang baru-baru ini ditunjuk Golkar menggantikan Bowo Sidik sebagai Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Tengah I.

Diketahui, tersangka KPK Bowo Sidik Pangarso menyebut nama Nusron Wahid saat ditanya soal 400 ribu amplop serangan fajar yang disita terkait perkara dugaan suap dari Marketing Manager PT Humpuss Kimia Transportasi (HTK) Asty Winasti.

Menurut Bowo, Nusron-lah yang memerintahkannya menyiapkan amplop-amplop itu.

"Diminta oleh Nusron Wahid untuk menyiapkan itu," kata Bowo setelah menjalani pemeriksaan di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (5/4).

Bowo sendiri ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan suap dari Marketing Manager PT Humpuss Kimia Transportasi (HTK) Asty Winasti. 

Anggota Komisi VI DPR ini diduga menerima suap dari Asty lewat seseorang bernama Indung dengan jumlah sekitar Rp1,5 miliar dalam 6 kali pemberian dan Rp89,4 juta yang disita saat OTT terhadap Bowo.

Suap itu diduga diberikan agar Bowo membantu proses perjanjian penggunaan kapal PT HTK oleh PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Selain duit dari Asty, Bowo diduga menerima gratifikasi Rp6,5 miliar.

Uang Rp1,5 miliar dan Rp6,5 miliar alias senilai Rp8 miliar itulah yang disebut berada dalam 400 ribu amplop. KPK menduga amplop-amplop itu bakal digunakan untuk serangan fajar demi kepentingan pemilu legislatif yang diikuti Bowo. Untuk diketahui, Bowo merupakan caleg DPR dapil Jateng II nomor urut 2 dari Partai Golkar.
 

Editor: Elvi R




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID