logo rilis
Mubaligh Versi Kemenag Dinilai Dapat Munculkan Stigma Negatif
Kontributor
Budi Prasetyo
21 Mei 2018, 20:21 WIB
Mubaligh Versi Kemenag Dinilai Dapat Munculkan Stigma Negatif
Ilustrasi masjid. FOTO: simas.kemenag.go.id

RILIS.ID, Surabaya— Ketua PCNU Kota Surabaya, Muhibbin Zuhri menilai, daftar 200 mubaligh yang direkomendasikan Kementerian Agama sepertinya tidak tepat. Karena, parameternya tidak jelas.

Dia khawatir, rilis tersebut akan merugikan menimbulkan stigma negatif terhadap para pendakwah atau ustaz yang tidak masuk di dalam daftar.

"Rilis Menag itu sama dengan kebijakan sertifikasi halal, atau Surat Kelakuan Baik pada zaman dulu itu," katanya pada Senin (21/5/2018).

Menurut dia, keluarnya daftar itu dianggap sebuah kekeliruan logika. Pasalnya, ukuran dan parameter yang digunakan subyektif. "Mencerminkan kekeliruan logika," tambahnya.

Muhibbin menilai, seharusnya, kalau memang ingin memberikan proteksi, pemerintah diminta untuk mengeluarkan daftar pendakwah yang tidak direkomendasikan.

Tentunya, dengan argumen dan fakta yang jelas agar tidak menimbulkan polemik. "Sebenarnya, sederhana saja kalau mau tegas, pakai logika sebaliknya. Yakni, keluarkan daftar dai unrecomended," tambahnya.

Muhibbin membandingkan daftar rekomendasi Kemenag itu dengan serikat halal MUI. "Logika yang keliru dimaksud penjelasannya begini. Sertifikasi halal, semua makanan itu haram, kecuali yang mendapat sertifikasi," katanya.

Sedangkan, rilis 200 Dai, maka semua penceramah itu tidak layak, tidak kompeten, radikal dan seterusnya. Kecuali yang masuk daftar Kemenag tersebut.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


500
komentar (0)