logo rilis
MPR Sosialisasikan Empat Pilar di Pengajian NU
Kontributor
Nailin In Saroh
31 Oktober 2019, 08:00 WIB
MPR Sosialisasikan Empat Pilar di Pengajian NU
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid saat Sosialisasi Empat Pilar diLapangan Tanjung Anyar, Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (30/10/2019) malam.

RILIS.ID, Jakarta— Ribuan masyarakat memenuhi Lapangan Tanjung Anyar, Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Rabu (30/10/2019) malam, untuk menghadiri Pengajian NU dalam rangka memperingati Hari Santri. Dalam pengajian yang diisi oleh ceramah KH. Manarul Hidayat, hadir Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid, tokoh-tokoh NU Bawean, serta perangkat kecamatan dan desa.

Selain pengajian, acara juga diisi dengan penyampaian Sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau popular disebut Empat Pilar MPR.

Jazilul mengatakan, momentum itu digelar untuk memperingati Hari Santri sekaligus tanggung jawab dirinya sebagai pimpinan MPR untuk melakukan Sosialisasi Empat Pilar. Dilakukan di Pulau Bawean sebab di tempat itu diakui hampir seratus persen penduduknya adalah kaum santri. Karena seratus persen kaum santri maka pengajian dihadiri oleh ribuan orang. "Acara ini diumumkan di masjid dan musholla", tuturnya.

Dalam sosialisasi, Jazilul mengingatkan kembali atau memompa semangat kepada masyarakat akan pentingnya Empat Pilar. Diakui sebenarnya pemahaman nilai-nilai kebangsaan kaum santri sudah kuat. "Santri itu mengedepankan cinta tanah air", ujarnya. 

"Bahkan pelajaran Empat Pilar diajarkan di pesantren sejak kecil, seperti ada bait lagu Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman", kata menambahkan. 

Cinta NKRI menurutnya ada aturannya. Aturan itu ada pada Pancasila, UUD, dan Bhinneka Tunggal Ika. Meski demikian Jazilul menegaskan bahwa santri juga harus diberdayakan. Sumber daya manusia dan perekonomiannya harus diperkuat. "Ini penting sebab bila ekonominya tidak kuat maka akan mudah tergoda oleh paham yang salah", ucapnya. 

Dicontohkan ada lulusan pesantren karena tidak mempunyai pekerjaan maka ia pergi keluar negeri. Di luar negeri itulah ia terkena paham radikal terorisme. "Dan melakukan operasinya di Indonesia", ujarnya. 

Untuk itulah dirinya menegaskan kembali bahwa santri juga perlu diberi dukungan pemberdayaan ekonomi agar tak mudah tergoda paham lain. Jazilul menyebut globalisasi lewat medsos juga menyerbu masyarakat di manapun berada, "termasuk di Bawean", ujarnya. 

Jazilul mengingatkan kepada santri dan masyarakat tantangan hari ini berbeda dengan tantangan kemarin. "Bila santri dan masyarakat kuat maka mereka bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga Indonesia", pungkasnya.

 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID