logo rilis
MPR Imbau Semua Pihak Jaga dan Rawat Kebhinnekaan
Kontributor
Nailin In Saroh
04 Maret 2019, 19:06 WIB
MPR Imbau Semua Pihak Jaga dan Rawat Kebhinnekaan
FOTO: Humas MPR

RILIS.ID, Jakarta— MPR RI mengimbau masyarakat Indonesia untuk menjaga dan merawat kebhinekaan. Sebab kebhinnekaan adalah sebuah keniscayaan yang membuat negara semakin kuat.

Hal ini juga menjadi kesepakatan saat Diskusi Empat Pilar MPR bertema “Merawat Kebhinnekaan Indonesia” di Media Center Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (4/3/2019).

Diskusi tersebut, adalah kerjasama MPR dan Pengurus Koordinatoriat Wartawan Parlemen yang menghadirkan anggota Fraksi PDIP MPR, Masinton Pasarribu, juru bicara PBNU Nabil Haroen, dan pengamat politik Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago. 

Anggota MPR Fraksi PDIP, Masinton Pasaribu mengungkapkan, bangsa Indonesia lahir dari konsensus bersama. Dimana, kata dia, sejak awal negara dirancang untuk semua, baik berbagai suku, adat istiadat, agama dan keyakinan yang berbeda. 

"Karena itu sesungguhnya kita tidak mengenal warga negara kelas dua. Semuanya sama karena negara ini didirikan untuk semua,” ujar Masinton.

Masinton menerangkan, dalam sejarah bangsa Indonesia, baik NU dan Muhammadiyah menjadi bagian dari pemilik saham terbesar bangsa ini. Karena itu, menurutnya, NU dan Muhammadiyah punya kewajiban menjaga bangsa dan negara agar langgeng dengan prinsip kebangsaan.

"aitu negara untuk semua meskipun memiliki latarbelakang yang berbeda,” katanya.

Masinton pun mengingatkan, dalam merawat kebhinnekaan ada upaya dari sekelompok kecil yang melakukan gerakan-gerakan seperti apa terjadi di Timur Tengah. Seperti, gerakan teror.

"Gerakan itu bukan tidak ada, tapi gerakan itu ada meski kecil. Misalnya, kasus bom bunuh diri,” sebutnya. 

Karena itu, dia menegaskan lagi bahwa Indonesia didirikan untuk semua dengan konsepsi Pancasila. Hal ini lah, yang menurutnya harus dijaga dan dirawat.

Sementara itu juru bicara PBNU, Nabil Haroen juga mensinyalir bila akhir-akhir ini ada upaya yang dilakukan segelintir orang untuk membuat polarisasi di negeri ini. Tidak hanya saat Pemilu Presiden (Pilpres). Tapi, sudah ada sebelumnya. 

"Mereka ingin memecahbelah dan mengkotak-kotakan sehingga terjadi benturan-benturan di masyarakat,” ungkapnya. 

Nabil menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) akan selalu dan terus berjuang dalam menjaga NKRI. Dari sejarah NU, mulai dari pra kemerdekaan sampai sekarang, terlihat komitmen terhadap Indonesia. 

“Sampai kapan pun NU dan badan-badan di bawahnya akan selalu menjaga kebhinnekaan Indonesia,” tuturnya.

Dia juga menyinggung keputusan Munas NU di Banjar soal kafir. Dijelaskannya, dalam berbangsa tidak dikenal kafir, tetapi sebagai sesama anak bangsa. 

"Ini sesuai dengan ajaran NU, ukhuwah wathoniah, yaitu persaudaraan sesama anak bangsa. Keputusan ini adalah salah satu upaya dan komitmen NU terhadap kebangsaan. Urusan teologi ada di kamar masing-masing,  tetapi sebagai anak bangsa kita menyebutnya sesama warga negara,” jelasnya.

Sedangkan, Pengamat politik Pangi Syarwi Pangi mengatakan kebhinnekaan itu adalah sebuah keniscayaan. Sehingga, dalam hal kebhinnekaan, kata Pangi, tidak perlu mengajarkan orang Indonesia tentang toleransi.

"Kita memang bhinneka dan berbeda. Tapi dengan kebhinnekaan itu, Indonesia malah semakin kuat,” katanya. 

“Bahkan NU dan Muhammadiyah tidak mau lagi diajarkan soal toleransi. Karena kedua organisasi besar itu sudah clear tentang pluarisme, kebhinnekaan, dan keIndonesiaan. Kalau kita ajarkan ormas itu tentang toleransi keberagamaan, kita jadi mundur lagi,” sambungnya. 

Namun, Pangi menyebutkan saat ini ada fenomena yang membenturkan antara nasionalisme dan Islam. Juga dihadap-hadapkan antara 'Saya Pancasila' dan 'Tidak Pancasila', 'Toleran' dan 'Intoleran', Nasionalisme dan Islam (Radikal). 

"Antara yang paling Pancasila dan tidak Pancasila. Antara yang paling toleran dan tidak toleran. Antara yang nasionalis dan Islam. Ini dibenturkan terus menerus. Ini sangat berbahaya. Sampai kapan ini bisa selesai?” serunya.

Biasanya, tambah dia, kalau sudah dibelah-belah seperti ini agak susah untuk memperbaikinya.

"Recoverinya agak lama. Kita tidak selesai ber-Pancasila, bertoleransi. Marilah kita bernarasi tentang keadilan, kesejahteraan, kebangsaan, Merawat keIndonesiaan, kebhinnekaan itu penting,” kata Pangi menandaskan.

Editor: Elvi R




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID