logo rilis
Moeldoko Dinilai Tak Paham Tugasnya di Istana
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
17 Mei 2018, 11:34 WIB
Moeldoko Dinilai Tak Paham Tugasnya di Istana
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal (Purn) Moeldoko. FOTO: Infonawacita.

RILIS.ID, Jakarta— Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko dinilai tak paham soal tugasnya di Istana Kepresidenan selaku akselerator, bukan eksekutor. Hal ini menyinggung soal usul pengaktifan kembali Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI. 

Pengamat militer yang juga Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) dari Universiras Padjadjaran Bandung, Muradi, mengatakan bahwa Moeldoko terlebih dahulu berkoordinasi dengan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto.

"Yang harus ngomong itu, ya Kemhan dan Mabes TNI. Enggak punya kewenangan dia," kata Muradi kepada rilis.id, Kamis (17/5/2018). 

"Ini malah dia ngomong sendiri. Kan jadi kayak enggak paham," tambah dia.

Sebelumnya, Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko, menyatakan Presiden Joko Widodo sudah mengizinkan pengaktifan kembali Koopssusgab untuk memberantas teror.

Koopssusgab merupakan tim antiteror gabungan tiga matra TNI. Pasukan ini berasal dari Sat-81 Gultor Komando Pasukan Khusus milik TNI Angkatan Darat, Detasemen Jalamangkara TNI Angkatan Laut dan Satbravo 90, Komando Pasukan Khas dari TNI Angkatan Udara.

Menurut Moeldoko, Koopssusgab berada di bawah komando Panglima TNI Marsekal, Hadi Tjahjanto.

"Ini operasi harus dijalankan untuk preventif agar masyarakat merasa tenang. Saat ini terjadi hukum alam, hukum aksi dan reaksi. Begitu teroris melakukan aksi, kita beraksi, kita melakukan aksi, mereka bereaksi," ungkap Moeldoko.

Moeldoko menjelaskan, pembentukan Koopssusgab tidak perlu menunggu RUU Terorisme disahkan. Di dalamnya terdapat pasukan khusus darat, laut, dan udara yang terpilih.

"Bisa untuk operasi perang dan operasi selain perang. Intinya siap serahkan pada aparat keamanan, kita siap mengahadapi situasi apapun. Masyarakat enggak perlu resah. Sekali lagi percayakan pada kami," imbuhnya.

Editor: Andi Mohammad Ikhbal


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)