logo rilis
Mochtar Lubis dan Cerita Lucu dari Penjara Nirbaya
Kontributor
Yayat R Cipasang
28 Desember 2017, 15:29 WIB
Mochtar Lubis dan Cerita Lucu dari Penjara Nirbaya
Mochtar Lubis. FOTO: akarpadinews

MOCHTAR Lubis dikenal sebagai wartawan cum sastrawan. Salah satu pendiri majalah sastra Horison ini juga dibaptis sebagai jurnalis investigasi. Harian Indonesia Raya yang dipimpinnya sejak Orde Lama hingga Orde Baru selalu kritis dan membuat meradang penguasa pada zamannya.

Liputan monumental Indonesia Raya yang membuat Mochtar Lubis menjadi incaran pemerintah adalah soal megakorupsi di Pertamina yang melibatkan Ibnu Sutowo. Dalam setiap laporan Indonesia Raya, Mochtar Lubis tidak pernah menyerang Presiden Soeharto tetapi kerap menelisik orang-orang di sekeliling Istana, seperti Ibnu Sutowo, Ali  Murtopo dan Soedjono Hoemardani.

Baca Juga

Mochtar Lubis sebenarnya pernah dilobi orang-orang pemerintah saat itu untuk kembali menerbitkan korannya yang telah dibredel dengan dua pilihan. Koran terbit dengan nama lain, atau tetap dengan nama semula tetapi tidak ada nama Mochtar Lubis. Kalau  pun Mochtar Lubis menulis harus dengan nama samaran.

Tentu, Mochtar Lubis yang dikenal sebagai sosok yang keras kepala menolak semua tawaran itu. Ia lebih memilih memberikan pesangon kepada karyawannya, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencari pekerjaan baru. Mochtar Lubis dan Indonesia Raya merasa tidak melawan hukum, dan bila berkompromi dengan tawaran itu berarti mengaku bersalah.

Rupanya, sikap keras kepala ini yang membuat rezim hilang kesabaran. Tak cukup korannya dibredel dengan alasan telah memuat tulisan yang dapat merusak kewibawaan dan kepercayaan kepemimpinan nasional dan menghasut rakyat hingga terjadi kerusahan Malari, 15 dan 16 Januari 1974.

Tetapi yang menjadi misteri sampai sekarang--seperti ditulis David T. Hill dalam buku Jurnalisme dan Politik di Indonesia (Yayasan Obor, 2011)--perihal penahanan yang begitu lama dari pembekuan koran Indonesia Raya. Mochtar Lubis baru ditahan di Penjara Nirbaya 4 Februari 1975, sekira setahun setelah kerusuhan terjadi.

Penjara Nirbaya yang dibangun pemerintah kolonial terletak di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur atau masuk kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Penjara ini sudah tak berbekas berganti menjadi perumahan padat penduduk. Satu-satunya penanda ada nama sebuah gang sempit beraspal di samping Terminal Pinang Ranti bernama Jalan Asem Nirbaya.

Pada zaman Soeharto, penjara ini menjadi tempat menahan orang-orang yang disebut Orde Baru sebagai tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia dan para “pembangkang” pemerintah seperti Bung Tomo, Hariman Siregar, Rahman Tolleng, Sjahrir, Adnan Buyung Nasution.

Saat masuk pertama kali ke Penjara Nirbaya, Mochtar Lubis sudah bertemu dengan tahanan yang dituduh Orde Baru sebagai terlibat G 30 S/PKI. Mereka itu di antaranya Soebandrio, Omar Dhani, Jenderal Pranoto, Astrawinata (bekas Menteri Kehakiman dalam Kabinet Soekarno) dan bekas Menteri P dan K Soemardjo.

Dasar penulis, selama di penjara Mochtar Lubis selain melukis juga rajin menulis catatan harian selama dipenjara lebih dari dua tahun. Catatan Harian di Penjara Nirbaya ditulis pada 1975 dan pertama kali terbit dalam bahasa Belanda empat tahun kemudian. 

Sementara untuk terbit dalam bahasa ibu menjadi Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru (Yayasan Obor, 2008) membutuhkan waktu yang sangat panjang hingga 30 tahun setelah melewati perjalanan panjang hingga ke Australia. Maklum catatan harian yang diketik dalam bentuk fotokopian itu hanya dimiliki peneliti dari Murdoch University, David T. Hill. Ia mendapatkan naskah itu saat melakukan penelitian dan menulis disertasi tentang Mochtar Lubis pada 1980-an.

Catatan Harian Nirbaya lebih pendek bila dibandingkan dengan catatan harian di zaman Orde Lama yang berjudul Catatan Subversif. Ini karena jangka penahanan di Penjara Nirbaya lebih pendek. Sementara untuk menghasilkan Catatan Subversif, Mochtar Lubis “harus” ditahan 10 tahun (22 Desember 1956-17 Mei 1966).

Dalam buku Nirbaya Mochtar Lubis menulis sangat humanis, kritis, melankolis, dan juga lucu. Kisah lucu, misalnya tergambar pada catatan harian 14 April 1975. Mochtar Lubis sangat detail menggambarkan kelucuan saat proyek Taman Mini Indonesia Indah akan diresmikan Ibu Tien Soeharto.

“Wah, kemarin tetangga kami projek Mini mencoba bunga api yang akan memeriahkan pembukaannya nanti. Puas juga kami selama lima belas menit dihibur oleh kembang api berwarna-warna. Ada tahanan yang tiap kali sebuah kembang api padam, lalu berteriak: Ayo, Mpok Tien, bakar lagi dong!”

Sementara dalam catatan harian Minggu, 9 Februari 1975, Mochtar Lubis beretoris pada dirinya sendiri mengenai alasan penahanan dirinya.

“Cukup banyak kawan-kawan menyampaikan pada saya agar dalam menyampaikan kritik, terutama pada penguasa-penguasa orang Jawa, kritik tidak boleh langsung tetapi harus tidak langsung, sindiran yang amat halus hingga tidak menyakitkan, harus pakai cara ular berputar-putar tak mencapai sasaran seperti yang dipraktikkan Jacob Oetama dari Kompas.”

Mochtar Lubis meninggal 2 Juli 2004 dalam usia 82 tahun. Ia dikenang sebagai tokoh investigative journalism di Indonesia. Masterpiece karya jurnalistiknya adalah pengungkapan korupsi di Pertamina dengan tokoh utamanya Ibnu Sutowo.


#riwayat
#mochtar lubis
#pers
#investigasi
#indonesia raya
#malari
500
komentar (0)