logo rilis
Mitos Kepahlawanan
kontributor kontributor
Arif Budiman
31 Agustus 2018, 23:35 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Mitos Kepahlawanan
ILUSTRASI: Hafiz

Look, up in the sky !
It’s a bird...
It’s a plane...
It’s Superman...!

MANUSIA super. Pemilik kekuatan adimanusia. Berotot kawat, bertulang besi. Penyelamat manusia dari segala tindak kejahatan keji.

Clark Kent si Superman adalah satu dari sekian figur pahlawan rekaan. Lainnya dapat kita sebutkan secara spontan. Bruce Banner si Hulk, Bruce Wayne si Batman, Tony Stark si Iron Man, T’Challa si Black Panther Penguasa Wakanda, dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Kehadiran mereka menjamin rasa aman, kehebatan mereka menindak musuh dan para kriminal mengundang banyak pujian, pun kontribusinya pada kelangsungan hidup manusia mencerahkan masa depan dunia. Mereka adalah para pahlawan yang dipuja.

Mitos pahlawan bukanlah sesuatu yang baru. Ia sudah muncul jauh sebelum Marvel menciptakan tokoh-tokoh fiktif berkekuatan super. Pada masa Romawi, Maximus Aurelius si Gladiator dikenal sebagai penantang Caesar Sang Kaisar. Sementara pada mitologi Yunani, Hercules diyakini sebagai manusia setengah dewa yang selalu siap membantu masyarakat dari bahaya monster jahat dan penguasa durjana.

Sejarah manusia tak pernah sepi dari dramatisasi. Kisah kepahlawanan pun tak terkecuali. Kebaikan dibesar-besarkan. Kelemahan diminorkan. Tak lain demi memasok kekuatan bagi ego individu yang serba kurang. Mitos kepahlawanan sengaja dicipta, menurut Joseph L. Henderson (dalam Jung, 2018) untuk membantu perkembangan kesadaran ego individu manusia supaya ia mampu menghadapi tugas-tugas kehidupannya.

Penciptaan mitos pahlawan menurut Henderson menempuh jalan yang sama di berbagai penjuru dunia. Ia memiliki pola. Dengan penuh keyakinan berdasarkan pengamatannya atas penciptaan mitos pahlawan di tengah suku-suku di Afrika, Indian Amerika, Yunani, atau Inca di Peru, Henderson menyatakan bahwa mitos pahlawan selalu bermula dari kelahiran sang pahlawan yang ajaib sekaligus sederhana sebagai bukti awal dari kekuatannya yang melampaui manusia biasa, kenaikannya yang cepat sampai singgasana kekuasaan atau kekuatan, kemenangan-kemenangannya atas kekuatan jahat, kekebalannya terhadap dosa kesombongan, lalu kejatuhannya melalui pengkhianatan atau pengorbanan heroik yang mengakhiri hidupnya.

Namun, sekali lagi Henderson mengingatkan bahwa mitos pahlawan hanya diperlukan sepanjang kesadaran ego individu manusia masih dalam tahap perkembangan. Jika individu tersebut telah melewati ujian awal dan berhasil memasuki fase kematangan dalam hidupnya, maka mitos pahlawan akan kehilangan relevansinya.
 
Bagaimana dengan kita?




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID