logo rilis
Minta Tak Golput, Menaker: Anak Muda Harus Bersyukur dengan Memilih
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
25 Maret 2019, 21:01 WIB
Minta Tak Golput, Menaker: Anak Muda Harus Bersyukur dengan Memilih
FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yahmin

RILIS.ID, Depok— Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri, meminta para generasi milenial untuk tidak golput di Pemilu 2019. Justru, menurutnya, anak-anak muda mestinya bersyukur bisa memilih dan menentukan para pemimpinnya sendiri di masa depan dengan memberikan hal suaranya di Pemilu 2019. 

Hanif menyampaikan itu saat menjadi narasumber dalam diskusi publi yang diselenggarakan Yayasan Ahimsa Indonesia dengan tema "Partisipasi Aktif Pemilih Milenial dalam Pemilu Damai 2019" di kawasan Depok, Jawa Barat, Senin (25/3/2019). 

Diskusi itu dihadiri sekira 70 orang elemen mahasiswa dari Universitas Indonesia, Universitas Guna Darma, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Pancasila, HMI, PMII, dan PMKRI.

"Satu dari tiga penduduk Indonesia saat ini adalah anak muda. Jadi masa depan Indonesia ada di pundak kawan-kawan semua. Selain itu, kita sebagai negara mayoritas Islam, kita patut bersyukur. Di Eropa, aman tapi tidak punya iman. Di Timur Tengah punya iman, tapi tidak aman. Di Indonesia kita punya Iman dan aman," katanya. 

Hanif mengungkapkan, bonus demografi yang terjadi di Indonesia menjadi sangat penting karena bisa sebagai berkah sekaligus tantangan. Menurutnya, akan menjadi berkah apabila diisi dengan pembangunan SDM yang terukur dan berkualitas.

"Apabila tidak, hanya akan menjadikan banyak anak muda Indonesia menganggur. Tahun 70-an Korea Selatan mendapatkan bonus demografi. Hasilnya sudah terlihat sekarang, di mana inovasi Korea, baik teknologinya, budaya pop-nya, dan lain sebagainya, sudah merebak di mana-mana," ujarnya. 

Dia mengungkapkan, Presiden Joko Widodo baru 4,5 tahun sudah menyediakan 10.540 pekerjaan. Angkatan kerja di Indonesia, sebut dia, adalah sejumlah 131 dan 58 persennya adalah lulusan SD/SMP.

"Jadi enam dari 10 orang Indonesia lulusan SD/SMP. 4 orang yang lulusan SMA ke atas mendominasi pekerjaan di Indonesia dengan 60 persen. Berarti ada 20 persen penduduk yang mismatch atau penduduk lulusan SD/SMP yang tidak bekerja. Intinya adalah problem kita adalah bukan lapangan kerja, tapi adalah skilled labour. Lapangan kerja kita banyak tapi lulusan yang dapat mengisi pekerjaan tersebut tidak sesuai," tuturnya. 

Sementara itu, Ketua KPU Depok, Nana Shobarna, menjelaskan, surat suara untuk Pemilu 2019 saat ini sudah sampai semua di kota depok. Dirinya menyarankan, para generasi muda bisa datang ke TPS untuk memberikan hak suaranya dan tidak percaya dengan berita hoaks yang kerap menyebar di masyarakat. 

"Cek sendiri rekam jejak mereka, agar tidak terkecoh. Temen-temen milenial harus berperan aktif dalam pemilihan umum ini. Datang ke TPS untuk mencoblos berdasarkan hati nurani. Ikut menjaga pesta demokrasi ini dengan bersama mengawal pencoblosan dan penghitungan suara nanti," tuturnya. 

Senada dengan Nana, Direktur Centre for Election and Political Party Universitas Indonesia, Reni Suwarso, meminta kepada generasi muda untuk selalu mengonfirmasi setiap melihat berita atau informasi yang mencurigakan. 

Dirinya berharap, pemilu yang digelar serentak pada 17 April 2019 nanti bisa berjalan dengan aman dam damai. 

Diskusi itu juga menghadirkan narasumber lainnya, yakni Direktur Analytics Alexandria Strategy, Edbert Gani. Dia menyebutkan, anak muda adalah yang saat ini usianya 25-35 tahun, sementara di bawahnya, yaitu 17-25 tahun, adalah generasi Z.

"Artinya, pemilih milenial bukan pemilih pemula. Mereka sudah merasakan satu atau dua kali pemilu. Dia sudah bisa merasakan dan mengevaluasi dari pemilu yang sebelumnya. Pemilih milenial adalah pemilih rasional, bukan pemilih yang baru dan tidak tahu apa-apa," paparnya. 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID