logo rilis

Military Spiritual Relationship
Kontributor
RILIS.ID
01 Juni 2019, 16:32 WIB
Military Spiritual Relationship
FOTO: Istimewa

Dr. Bastian Jabir Pattara

Konsultan Komunikasi & Dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi

Membangun relasi atau hubungan dengan berbagai kalangan, merupakan buah dari kecerdasan komunikasi, dan kemampuan komunikasi ditentukan oleh kematangan memahami diri sendiri, dan memahami mitra tutur (komunikan) kita. Sehingga kita dapat memiliki cara, bagaimana strategi kita men-deliver (mengirim) pesan dengan baik, dan sesuai dengan harapan mitra tutur kita.

Berbicara mengenai relasi, setidaknya kita bisa kategorikan menjadi tiga tingkatan, mulai dari relasi profesional, relasi emosional, dan relasi yang paling tinggi adalah relasi spiritual.

Pertama, Relasi profesional, tingkatan relasi yang banyak terjadi dikalangan bisnis. Dimana hubungan dibangun, hanya berdasarkan keuntungan materi, setelah hubungan bisnis tersebut berakhir, dan sudah tidak ada kepentingan bersama lagi, maka berakhir pula hubungan kita. Relasi profesional ini juga biasa terbangun dengan orang yang baru kita kenal, ketika kita merasa tidak ada kecocokan atau tidak ada keuntungan membangun hubungan dengan mereka, maka hubungan tersebut tidak lagi kita lanjutkan.

Kedua, Relasi emosional, relasi emosional biasanya terbangun berdasarkan latar belakang yang sama, misalnya satu kampung, satu suku, satu organisasi, dan satu latar belakang lainnya. Hubungan emosional, biasanya terbangun tidak hanya pada persoalan keuntungan semata. Namun, hubungan ini, dapat juga dibangun atas dasar sosial. Misalnya dalam perantauan, kita dengan mudah membangun bisnis dengan orang yang memiliki latar belakang yang sama, alasanya karena kita bisa lebih mudah untuk saling memahami. Selain itu, ketika ada pejabat daerah yang berasal dari suku tertentu, dan melihat ada satu sukunya yang belum memiliki pekerjaan, maka secara emosional, pejabat tersebut biasanya memberikan informasi terkait peluang yang dapat diraih oleh sesukunya tersebut. Begitupun, ketika kita melihat latar belakang yang sama, lagi kurang beruntung. Maka, hati kita akan lebih mudah iba (empati) untuk merasakan kemalangan yang dialami oleh orang yang memiliki latar belakang yang sama. Sehingga kita memberikan bantuan dengan ikhlas.

Ketiga, merupakan hubungan dengan tingkatan yang paling tinggi adalah hubungan spiritual. Hubungan spiritual, tidak lagi berbicara soal keuntungan materi. Namun, lebih banyak berbicara terkait dengan perihal, bagaimana agar hubungan kita, dapat terbangun dengan optimal. Membangun hubungan optimal (spiritual) adalah upaya untuk memanusiakan diri sendiri dan memanusiakan orang lain. Bagaimana cara kita mencintai diri kita, begitupun cara kita mencintai orang lain, sebagaimana yang disampaikkan dalam hadits Muhammad SAW. “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hubungan spiritual banyak terjadi pada hubungan orang tua terhadap anaknya, kakak terhadap adiknya, kakek-nenek terhadap cucunya. Selain itu hubungan ini juga terbangun oleh hubungan orang-orang yang saling memiliki keterikatan kuat dalam suatu kehidupan karena kesamaan nasib (penderitaan) yang pernah dihadapi bersama, sehingga terbina hubungan untuk saling menyelamatkan satu sama lain. Hubungan ini biasa dilabeli dengan kata sahabat yang punya makna hamper sama dengan keluarga.

Lalu bagaimana hubungan spiritual militer atau military spiritual relationship? Dari dulu TNI berusaha membangun simbol perjuangan dengan motto “TNI Sahabat Rakyat”. Tagline TNI sahabat rakyat adalah upaya nyata, prajurit TNI untuk selalu mengingat bahwa mereka berasal dari rakyat, dan yang lebih penting bahwa prajurit TNI adalah keluarga rakyat. Upaya lainnya dalam mengaplikasi hubungan spiritual militer, sejak reformasi ABRI menjadi TNI, wajah prajurit TNI yang dulu terkesan garang, kini berubah menjadi humanis. Upaya menjadi TNI humanis, diperkuat dengan membangun pola komunikasi humanis, utamanya terhadap prajurit TNI yang bertugas di teritorial.

Upaya membangun military spiritual relationship, Kodam XIV/Hasanuddin membuat tema hari ulang tahun TNI yang ke-62 berbunyi “Dengan Semangat Setia Hingga Akhir Kodam XIV/Hasanuddin mengabdi dan membangun Bersama Rakyat”. Upaya Kodam XIV/Hasanuddin menambahkan kata “mengabdi dan membangun bersama rakyat”, memberikan penekanan hubungan yang sangat kuat antara prajurit TNI dan rakyat.

Dari semua upaya prajurit TNI membangun military spiritual relationship, telah banyak membuahkan hasil, salah satu contoh dari buah dari hubungan spiritual militer, terlihat pada beberapa video yang viral di media sosial, saat aksi 22 Mei 2019 kemarin, betapa banyak masyarakat yang hadir demo memperlihatkan simpatinya kepada prajurit TNI, mulai dari meminta perlindungan dari prajurit TNI, buka puasa bersama prajurit TNI, sampai prajurit TNI dieluk-elukan dengan penuh harap yang sangat tinggi.

Sejatinya hubungan spiritual militer tidak akan terwujud jika hanya berangkat dari sekedar slogan saja, perlu pembuktian dilapangan, satunya kata dan perbuatan (dalam kosa kata bahasa bugis dikenal dengan istilah Taro Ada Taro Gau). 

Taro ada taro gau dalam suatu hubungan adalah kiasan untuk membangun kredibilitas atau kepercayaan terhadap mitra tutur atau khalayak kita. Tanpa kredibilitas yang baik, maka sulit akan terbangun hubungan spiritual yang optimal.

Jadi poin utama untuk membangun military spiritual Relationship, pertama adalah incantation atau mantra berupa kata-kata yang mencerminkan doa untuk mencapai suatu tujuan. Kedua adalah kredibilitas yang terbangun dari upaya kuat untuk mengamalkan apa yang telah dicanangkan pada poin pertama. Selamat mencoba!

Editor: Sukma Alam




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID