Home » Peristiwa » Dunia

Migrant Care: Konsensus ASEAN tentang Pekerja Migran Tak Signifikan

print this page Selasa, 14/11/2017 | 12:14

Para Buruh Migran Indonesia di Malaysia. FOTO: Migrant Care

RILIS.ID, Jakarta— Migrant Care menilai tak ada hasil signifikan dari proses pembahasan instrumen dan mekanisme perlindungan buruh migran di Asia Tenggara melalui "ASEAN Consensus on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers". Padahal, buruh migran mendambakan perlindungan sejati berkekuatan hukum dan berkeadilan.

"Kehadiran ASEAN Consensus on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers patut diapresiasi. Namun, konsensus ini tidak cukup memadai dan tidak signifikan menjadi instrumen perlindungan buruh migran ASEAN," Direktur Eksekutif Migrant Care, Wahyu Susilo, dalam siaran pers yang diterima rilis.id di Jakarta, Selasa (14/11/2017).

Migrant Care menyatakan demikian, lantaran Konsensus ASEAN tentang Perlindungan dan Promosi Hak-hak Pekerja Migran tak menghasilkan sejumlah keputusan mengikat dan melahirkan kelembagaan baru. AICHR dan ACWC, misalnya.

"Padahal, secara ekonomi, buruh migran di kawasan ASEAN adalah penggerak utama ekonomi kawasan ini," jelasnya. Dari 10 besar penerima remitansi sedunia, tiga diantaranya adalah negara-negara ASEAN, yakni Filipina, Vietnam, dan Indonesia.

Karenanya, Migrant Care mendesak para pemimpin di Asia Tenggara mengakui kontribusi buruh migran dengan mendorong lahirnya instrumen perlindungan dalam bentuk Konvensi ASEAN.

"Untuk perlindungan buruh migran yang lebih mempunyai perikatan hukum (legally binding) yang berbasis pada instrumen-instrumen internasional yang terkait dengan perlindungan buruh migran," paparnya.

Selain itu, Migrant Care turut didorong dibentuknya Komisi ASEAN untuk Perlindungan Buruh Migran. Tujuannya, kata Wahyu, "Memastikan terselenggaranya akses keadilan dan perlindungan HAM buruh migran di kawasan ASEAN."

Penulis Fatah H Sidik
Editor Sukarjito

Tags:

Migrant careASEAN

loading...