Home » Fokus

Mereka yang 'Kelar' Karena Perempuan

print this page Selasa, 9/1/2018 | 19:34

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

PADA malam itu, dua pria yang beberapa hari tak berjumpa, kembali bersua. Mereka dipertemukan di depan Monas, tepatnya di Jalan Medan Merdeka Utara. Tugas kantor mereka masing-masing membawa keduanya melewati malam bersama.

"Cuk, cangkruk sik yo (Nongkrong sebentar lah)," ajak Lukman, 26 tahun, kepada kawannya. Rendy (25) langsung saja mengiyakan tanpa banyak cincong.

Langkah keduanya terhenti di sebrang gedung Mahkamah Agung (MA). Mereka duduk sembarang beralas trotoar. Dua gelas kopi dihadirkan abang starling (starbak keliling), pejual kopi dengan sepeda di lingkar Medan Merdeka Monas.

"Piye Gus Ipul? Sopo wakile (Gimana Gus Ipul? wakilnya siapa)?" tanya Rendy membuka topik di antara khidmat malam.

"Gak eruh (Enggak tahu) aku," jawab Lukman singkat, matanya menatap kosong ke depan.

"Kabare Gus Ipul mabengi ono ketemuan nang omahe Mega? Yoopo hasile? Koen liputan iku ta (kabarnya Gus Ipul ada pertemuan di rumah Mega? Gimana hasilnya? kamu liputan itu kan)?" tanya Rendy kembali

"Gurung. Ngono-ngono tok (Belum. Begitu-begitu aja)," jawab Lukman malas-malasan. Ia memang berprofesi sebagai wartawan, hanya enggan cerita panjang lebar tetang "pekerjaan" saat bersama teman di luar profesinya.

Sebuah pemandangan di depan menganggu topik obrolan keduannya. Seorang wanita turun dari mobil sedan hitam. Setelan kantoran dengan rok mini yang dikenakan memang biasa terlihat, tapi kali ini malam cukup larut.

Anehnya lagi, wanita ini langsung memesan taksi yang lewat di jalan tersebut. "Iki wedokan iso digawe (ini 'perempuan malam'), cuk," kata Rendy iseng sambil cekikikan. Alis-alisnya turun naik memberi kode.

"Hush, awas, ngko dilengserno dadi PNS (awas, nanti dipecat kamu jadi PNS)," sahut Lukman memberi balasan. Keduanya saling pandang, sebelum akhirnya tawa menggelegar. 

"Dadi iling Bupati Katingan biyen (jadi ingat Bupati Katingan waktu itu)," tambah Rendy sambil memandang Gedung MA yang tepat berada di depannya.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, bukan orang pertama yang karir politiknya sempat terhambat karena punya dugaan skandal dengan perempuan. Sejumlah kepala daerah lain, lebih dulu merasakan kekecewaan serupa. 

Di antaranya adalah Mantan Bupati Katingan, Kalimantan Tengah, Ahmad Yantengli yang dimakzulkan MA pada Maret 2017 lalu. Ia tertangkap basah tengah selingkuh bersama seorang PNS rumah sakit daerah. 

Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo sangat menyayangkan perilaku pejabat daerah yang seperti itu. Di mana, seorang yang seharusnya menjadi panutan malah terjebak dengan kasus perselingkuhan.

Selain itu, drama Mantan Bupati Garut, Aceng Fikri (sekarang anggota DPD). Pada Februari 2013 silam, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menandatangani keppres pemakzulan Aceng dari jabatan kepala daerah.

Publik ketika itu memandang Aceng telah melanggar etika karena mempermainkan wanita. Adalah Fany Oktora yang menjadi istri sirrinya. Namun, usia perkawinanya hanya berlangsung selama 4 hari. 

Tapi, masyarakat Jawa Barat tampaknya masih banyak yang percaya dengan Aceng. Buktinya, ia malah terpilih menjadi anggota DPD yang mendulang 1,1 juta lebih suara pada Pemilu 2014 lalu.

Clinton Enggan "Lawan" Perempuan
Skandal semacam ini kerap menjadi batu sandungan pejabat publik. Apalagi jelang kontestasi politik. Di negara liberal, seperti Amerika Serikat sekalipun, isu begian tetap menjadi ganjalan.

Aktivis media sosial yang gemar menulis konten-konten kritik kontroversial, Iramawati Oemar, belum lama ini merunut kembali urusan "esek-esek"-nya para petinggi Gedung Putih di negeri Paman Sam itu.

Pada 1988, seorang perempuan muda bernama Monica Lewinsky, yang sempat bekerja magang di Kantor Presiden Amerika, mengaku pernah mengalami pelecehan seksual. Pelakunya tak lain adalah Bill Clinton.

Ia bahkan berani melakukan tes DNA sebagai bukti bahwa percikan sperma yang menempel di roknya itu adalah milik sang Presiden. Publik seantero Amerika dibuatnya geger. Parlemen angkat bicara, bahkan Clinton nyaris di-impeach.

Sampai akhirnya di injury time, ia memilih untuk mengakui perbuatan tersebut. Benar bahwa dirinya pernah memaksa Monica melayani nafsunya. Ia pun meminta maaf kepada seluruh rakyat Amerika.

Alhasil, Clinton tetap langgeng memegang mandat jabatan sebagai Presiden AS sampai 2001. Hal ini mengundang pertanyaan, bukan?

"Kenapa masyarakat Amerika menuntut presidennya bersih dari skandal, sedangkan norma seks bebas diterima di tengah masyarakat? Bukankah ini tidak adil bagi Clinton?"

"Ya, karena masyarakat Amerika menghargai kejujuran pengakuan Clinton. Mereka menerima permintaan maafnya," ujar Irmawati dalam tulisannya.

Sebaliknya, kalau Clinton bersikukuh sok suci, kasusnya akan berlanjut panjang. Bisa jadi ke proses pembuktian, dan terakhir membenarkan pernyataan Monica. Ini tentu akan lebih memalukan bagi Clinton. (bersambung) 

Baca juga:
Jebakan Purba yang Mematikan (bag.1)
Mereka yang 'Kelar' Karena Perempuan (bag.2)
Ketika Perempuan Beredar di Balik Layar (bag.3)
'Power' Emak-emak Pengaruhi Pemilu (bag.4)

Penulis Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

Azwar AnasSkandal Bupati KatinganAceng FikriPresiden Bill ClintonPilkada 2018