logo rilis

Menziarahi Sumpah Pemuda
Kontributor
RILIS.ID
28 Oktober 2018, 11:19 WIB
Menziarahi Sumpah Pemuda

Oleh Rohmatul Izad
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta

PADA 27 hingga 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda II digelar. Agenda itu merupakan tindak lanjut dari putusan Kongres Pemuda I pada 1926. Di hajatan itu, pemuda-pemudi antarpulau bertungkus-lumus menyusun siasat. Mereka berargumentasi, berdebat dan memikirkan apa resep yang cocok demi masa depan Hindia Belanda.

Momentum itu merupakan cikal bakal bersatunya komponen pemuda dari berbagai latar belakang di Nusantara untuk terikat dalam suatu nation-state atau negara bangsa. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pergerakan nasional bangsa Indonesia. 
 
Kala itu, banyak yang menganggap remeh Kongres Pemuda ini, khususnya oleh pejabat kolonial seperti Van der Plass. Baginya agenda itu barangkali hanya diskusi biasa dan tidak memiliki efek yang besar. Namun sayangnya, anggapan itu meleset dan takdir berkata lain.

Sumpah Pemuda telah menyusut menjadi api abadi, yang membakar semangat pemuda-pemudi untuk bersatu padu dalam bhineka. Egoisme etnis kala itu juga ditinggalkan dan digantikan dengan semangat kebangsaan. Ada semangat yang lahir soal kesatuan, seperti satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa kesatuan. Sumpah Pemuda lalu menggelora sebagai seperangkat pengalaman akan gairah kebangsaan.

Meski begitu, Sumpah Pemuda tidaklah lahir dari rasa yang nyaman. Ada gejolak di dalamnya, ada yang menerima ada pula yang menolak. Di balik teks ikrar yang sungguh sangat puitis itu, ada orang yang betul-betul alot. Dalam arti, ada orang-orang yang menolak untuk tumbuh dan berkembang secara terburu-buru.
 
Paling tidak, gejolak kebangsaan bukan sekedar bayang-bayang yang mudah hilang ditinggal pergi. Pemuda-pemudi Indonesia sudah cukup muak dengan berbagai kejahatan kolonialisme Belanda ratusan tahun lamanya. Pemuda-pemudi juga tidak tumbang, mereka memiliki spirit kebangsaan dan kesatuan. Kalau kata bung Karno, bangsa ini harus benar-benar merdeka dari ekploitasi manusia atas manusia. 

Sumpah Pemuda menjadi akar kronologis dari ambisi nasionalisme yang melahirkan Proklamasi Kemerdekaan pada 1945. Ia merupakan efek dari api yang membara. Sebagai janji, Sumpah Pemuda mampu menghidupi awal mula semangat nasionalisme hingga hari ini. Ia merupakan ikrar kebangsaan yang tetap bertahan melapui semuanya.

Hari ini, kita harus menziarahi Sumpah Pemuda di tengah peristiwa politik yang carut-marut, agar mampu membimbing kita semua pada pembangunan bangsa yang bermartabat. Salah satu masalah krusial yang sedang kita hadapi adalah adanya egoisme kelompok yang telah sebegitu membabat habis spirit Sumpah Pemuda. Kita tak boleh menjadikan Sumpah Pemuda hanya sekedar ornamen pemanis, atau sekedar gincu yang penuh dengan ilusi kapalsuan.
 
Dari berbagai malapetaka politik yang sedang kita hadapi sekarang, kita barangkali butuh jeda sejenak dan pergi menyelami Sumpah Pemuda. Dengan mengheningkan cipta dan menghayati kembali akan sedu-sedan sejarah lahirnya Indonesia menjadi bangsa yang besar. Sumpah Pemuda tak boleh hanya terucap di mulut, ia harus terwujud dalam perilaku etis kepada sesama. Ia butuh dialami secara langsung dalam pengalaman sehari-hari.

Kita perlu berpikir secara jernih tentang hari-hari kita yang kian sesak akibat perseteruan egoisme kelompok, baik kelompok agama maupun politik atau tercampuradukknya kedua hal itu yang makin tidak jelas. Merenungkan kembali makna Sumpah Pemuda adalah sesuatu yang sangat penting, misalnya seperti meresapi puisi Muhammad Yamin tentang arti sebuah bangsa, yang berbunyi “Kini bangsaku, insafkan diri/Berja'alan ke muka, marilah kemari/Menjelang padang ditumbuhi mujari/Dicayai Merdeka berseri-seri”.

Selain itu, pada usia yang ke-73 ini, banyak hal telah dicapai oleh bangsa ini. Misalnya, pemilihan untuk menjadi negara demokrasi yang berasaskan Pancasila menjadi suatu pencapaian tertinggi sebagai suatu bangsa. Sekarang, kita benar-benar dapat menghargai hak-hak setiap warga negara, yang memiliki kebebasan untuk memilih, berpendapat dan berkeyakinan. Ini merupakan sesuatu yang mungkin tak terbayangkan sekitar seratus tahun yang lalu.
 
Sumpah Pemuda di masa lalu harus menjadi cerita besar yang akan kita teruskan dari generasi ke generasi. Kita harus menentukan apakah kita hendak bersama-sama mewujudkan imajinasi negara demokrasi atau menyerah di tengah jalan. Menjadi negara demokrasi bukan melulu soal pemilu dan prosedural penyelenggaraan negara. Tidak mungkin mewujudkan negara demokrasi tanpa adanya pengakuan atas persamaan hak warga negara, jaminan atas kemerdekaan dan keadilan untuk semua. 

Gairah kebangsaan kita tidak boleh surut hanya karena urusan politik dan kepelikan-kepelikan lainnya. Jika kita berpikir untuk tetap menginginkan hidup bersama dalam suatu rumah bernama Indonesia, maka kita harus tertib pada aturan-aturan di dalamnya dan tidak saling mengusik orang lain yang hanya berdasarkan egosime diri sendiri.

Kita harus memiliki alasan untuk tetap dapat hidup bersama dalam suatu bangsa yang besar. Momentum hari Sumpah Pemuda kali ini, harus dijadikan permenungkan dasar dan menjadi tugas kita bersama untuk terus menjaga keutuhan negara kita tercinta. 

Menziarahi Sumpah Memuda adalah sesuatu yang relevan untuk merajut imajinasi kemajuan bagi Indonesia di masa mendatang.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)