logo rilis
Menyaksikan Persemaian Bibit PKS dari Kampus IPB
Kontributor
Yayat R Cipasang
20 April 2018, 18:17 WIB
Menyaksikan Persemaian Bibit PKS dari Kampus IPB
Aksi KAMMI di DPR yang menjatuhkan Soeharto. FOTO: Istimewa

SAAT kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 1990-an suasana dakwah Islam di sana sangat kental kalau boleh dikatakan sangat masif. Saya pun yang lahir dan besar di Priangan Timur--kental dengan kultur Nahdliyin--sempat surprise.

Aktivitas keagamaan begitu meriah dan lidah saya pun yang awalnya kelu mengucapkan sapaan "ana" dan "antum" lama-lama terbiasa juga. Kuliah-kuliah awal pun saya alami sendiri, antara mahasiswa putra dan putri duduk terpisah seperti di acara majelis taklim. Bukan kampus yang mengatur melainkan 'tradisi' yang dibuat mahasiswa.

Teman saya, seorang lulusan SMA elite Jakarta sangat tomboi. Setiap kuliah pakai celana jins ketat dengan rambut dipotog pendek. Tentu, sangat cantik. Tiba-tiba tak sampai sebulan kuliah tampilannya sudah berubah drastis. Celana jins ketat dan kadang bolong di bagian paha atas tak pernah dipakai lagi dan langsung mengenakan hijab syar'i, istilah zaman sekarang. Dan saya pun tak bisa lagi menyentuhnya untuk sekadar bersalaman sekalipun.

Begitu juga teman ngaji saya di Masjid Al Ghifari di Fakultas Kedoktera Hewan di Jalan Padjadjaran yang awalnya tidak bisa membaca Alquran hanya dalam tempo beberapa bulan sudah bisa mengaji terbata-bata dan dalam setahun sudah lancar. Inilah keajaiban yang saya temukan ketika belajar di sana.

Saya baru menyadari belakangan ini gerakan dakwah kampus inilah yang salah satunya melahirkan sebuah partai bernama Partai Keadilan Sejahtera. Dan IPB termasuk kampus sekuler yang banyak menyumbangkan kadernya di partai tersebut. Nurmahmudi Ismail, alumnus Fakultas Kehutanan IPB tercatat dalam sejarah sebagai Presiden PKS di awal kelahirannya dan kemudian diangkat menjadi Menteri Kehutanan pada Kabinet Persatuan Nasional era Gus Dur.

Belakangan saya baru tahu, gerakan dakwah serupa juga sangat gencar di kampus-kampus sekuler lainnya seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Indonesia (UI).

Seperti disitat dari Wikipedia, Mustafa Kamal seorang kader Jamaah Tarbiyah yang kini juga menjadi elite PKS, memenangi pemilihan mahasiswa untuk Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Ini disebut-sebut sebagai kader Jamaah Tarbiyah pertama yang memegang kekuasaan di level universitas. Setahun kemudian, Zulkieflimansyah juga kini wakil rakyat di DPR menjadi ketua senat mahasiswa di universitas yang sama.

Kader Jamaah Tarbiyah inilah yang kelak mendirikan Lembaga Dakwah Kampus (LDK), sebuah unit di kampus-kampus baik negeri maupun swasta yang mendapat sambutan positif anak-anak yang sebelumnya aktif di rohani Islam (Rohis) di SMA. Semua LDK dari seluruh kampus berhimpun ke dalam Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) pada 1986. 

Nah, dalam pertemuan ke-10 FSLDK di Malang pada 1998 bersamaan dengan momentum gejolak politik nasional lahirlah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Kelompok mahasiswa yang pertama kali dipimpin Fahri Hamzah (kini Waki Ketua DPR) dari Universitas Indonesia ini sangat vokal dan kerap turun ke jalan dalam demonstrasi nasional yang melengserkan Soeharto.

Pasca Soeharto lengser 21 Mei 1998, para tokoh KAMMI inilah yang menginisiasi lahirnya Partai Keadilan (PK) dan masuk Parlemen pada Pemilu 1999 dengan meraih 7 kursi. Karena gagal menembus ambang batas parlemen 2 persen memaksa PK bergabung dengan partai lainnya dalam Fraksi Reformasi.

Lantaran tak memenuhi ambang batas itu, pada pemilu berikutnya PK harus mengubah nama dan menjadi Partai Keadilan Sejahtera serta kembali bertarung di Pemilu 2004 dengan meraih 45 kursi di DPR.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)