logo rilis

Menanti 'Melayu Spring' Melanda Indonesia
Kontributor
Yayat R Cipasang
14 Mei 2018, 18:27 WIB
Menanti 'Melayu Spring' Melanda Indonesia
ILUSTRASI: Hafiz

RILIS.ID, Jakarta— KEMENANGAN oposisi di Malaysia yang dipimpin mantan perdana menteri Malaysia selama 22 tahun, Mahathir Mohamad, sepertinya akan berimbas ke Indonesia. Isu politik di Malaysia dan Indonesia pun tak jauh dari masalah tenaga kerja dan investasi China serta masalah korupsi.

Mahathir walaupun dia mengangkat menteri keuangan dari etnis China tetapi ingatan masyarakat tak akan pupus. Mahathir dikenal sebagai pencetus gagasan pribumi Melayu harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri sejak 50 tahunan lalu.  

Menurut Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle Syahganda Nainggolan kemenangan Mahathir yang didukung tokoh oposisi yang sekaligus musuhnnya, Anwar Ibrahim, akan menginspirasi perjuangan yang sama di kalangan para aktivis di Indonesia. 

“Pengaruh 'Melayu Spring' ini akan mirip dengan 'Arab Spring' beberapa waktu lalu, yang dimulai dengan perubahan revolusioner di Tunisia, lalu melanda negara negara Arab,” kata Syahganda, baru-baru ini.

"Situasi Indonesia dan Malaysia mirip. Pribumi di sini mengalami tekanan atas ketimpangan sosial dan besarnya jumlah tenaga kerja China yang semakin menakutkan," ujar Syahganda.

Ketua Fraksi Partai Gerindra Edhy Prabowo menyambut baik kemenangan oposisi di Malaysia. Kasus Malaysia itu menunjukkan bahwa kekuatan rakyat itu nyata.

"Padahal penguasa sebelumnya sudah melakukan cara apa pun. Termasuk menggunakan event ASEAN Games untuk meraup emas sebanyak-banyaknya. Walaupun begitu keinginan masyarakat berkehendak lain," kata politisi asal Sumatra Selatan ini.

Gerindra pun, kata Edhy, sangat yakin dengan suara rakyat yang nyata. Bukan suara berdasarkan survei. "Keinginan masyarakat itu nyata dan Gerindra yakin suara itu nanti terwujud dalam Pilkada dan Pemilu," ujarnya.

Gerindra dan Prabowo, kata Edhy, sudah memberikan kesempatan selama tiga tahun ini kepada pemerintah berkuasa. "Tapi kami juga sebagai oposisi pada akhirnya tidak bisa tinggal diam. Kalau ada masalah besar seperti sekarang ini kami juga tak bisa terus diam," ujarnya. "Kita juga terpaksa harus bicara," lanjutnya.

Ekonom Salamuddin Daeng menjelaskan, sejatinya permasalahan yang dihadapi Malaysia dengan Indonesia relatif serupa. Salah satunya adalah pelemahan ekonomi terus menerus dalam jangka waktu yang panjang.

"Bank Dunia menyebut hanya 4 persen pertumbuhan ekonomi Malaysia, sementara Indonesia tidak pernah mencapai targetnya (pertumbuhan ekonomi)," kata Salamuddin dalam diskusi bertajuk Dialog Kebangsaan: #2019PresidenHarapanRakyat, di Tebet, Jakarta, Senin (14/5/2018).

Pakar ekonomi pertambangan itu menjelaskan lebih jauh, di Malaysia, investor dari negeri para naga (China) jmenggelontorkan dana segar dalam jumlah fantastis.

Mantan Perdana Menteri yang baru saja ditumbangkan, Najib Razak, mengatur investasi asing dengan kontrak selama 95 tahun. Di Indonesia, di bawah Presiden Jokowi peluang investasi asing terbuka lebar. Hal itu menurutnya tak jauh berbeda dengan permasalahan yang dihadapi Malaysia.

"Jokowi sangat menikamti kerangka kerja investasi asing. Dan dia memuluskan semulus-mulusnya agar masuknya (investasi asing) lebih gampang. Dia seperti sales marketing dari apa yang diinginkan oleh investor," ujar Salamuddin.

Menurut Salamuddin, kemesraan Najib dengan China memunculkan kritik dan reaksi keras dari berbagai kalangan di Malaysia--isu yang tak jauh berbeda dengan yang digaungkan kelompok oposisi di Indonesia.

"Di Malaysia para pakar mempertanyakan mengapa Najib begitu membuka diri kepada China. Salah satu pembangkit listrik terbesar dijual ke China," paparnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)