logo rilis

Menunggu Pahlawan
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
23 Desember 2017, 17:22 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Menunggu Pahlawan

DI SEBUAH negeri yang tak menyadari fungsi agensi kenegaraan, apa yang bisa kita lukiskan?

Tentu ini menyedihkan. Sebab, tiap agensi kenegaraan harus menjadi perintis jalan. Penuh keberanian dan vitalitas hidup yang menerjang. Tak segan memasuki hutan rimba penuh binatang buas yang siap menerkam.

Baca Juga

Mereka harus berani mengarungi lautan lepas tak bertepi. Mereka harus jadi tanda dari kehidupan yang merdeka dan melawan. Mereka bukan nabi, tapi manusia tercerahkan yang memanggul pesan memanusiakan manylusia: bergotong royong sesama.

Cuma, di manakah dan siapakah kini calon pahlawan hati pembela bangsa di akhir tahun 2017 ini?

Kalian tahu mengapa ulama, ekonom, ilmuwan dan mahasiswa/i kini tak dianggap oleh negara? Tidak dikagumi ummatnya? Tidak mencerahkan zamannya?

Karena mereka terlalu sederhana tesisnya. Tanpa dentuman. Tanpa hal-hal yang menggetarkan. Bukan kerja raksasa.

Yang mereka omongkan hanya pinggiran, buih dan kulitnya saja. Yang mereka perdebatkan hanya ritual. Yang mereka bela hanya fatamorgana. Yang mereka tulis hanya selebritas. Yang mereka gunjingkan hanya nafsu dunia: ketundukan pada yang profan (harta, tahta, wanita).

Seandainya profesi ataupun pilihan hidup mereka hanya mengajarkan ahlak tanpa jihad; pengetahuan tanpa tindakan; epistemologi tanpa aksiologi; gagasan tanpa realisasi maka para penguasa (struktur dan modal--oligark dan kleptokrat) tidak akan pernah memusuhi mereka. Sebaliknya mereka akan dipelihara: dibayar setinggi langit, diberi fasilitas dunia, digerayangi alat-alat kelaminnya.

Padahal, ide dan misi besar mereka harusnya memuliakan sesama yang dianggap paling hina, yang ditindas, yang diperkosa, yang dipariakan, yang dibelenggu.

Mereka seharusnya menghancurkan dominasi kekuasaan kaum kolonial dan neoliberal (lokal dan internasional) yang selama ini berbahagia di atas penderitaan kaum tertindas.

Mereka harus menikam mati koloni atas kaum miskin oleh begundal, kriminal dan sundal. Itulah tugas suci sesungguhnya.

Singkatnya, dua tugas sucinya: melenyapkan penjajahan dan merubah warisan arsitektur kolonial.

Masih layakkah mereka menyandang predikat ulama, ekonom, ilmuwan dan mahasiswa? Tidak sama sekali. Sebab pikiran, omongan dan tindakannya menjijikan sekali.


#Nusantara
#Pahlawan
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)