logo rilis

Menulis Kolom Itu, Seni!
kontributor kontributor
M. Alfan Alfian
03 Juli 2018, 17:56 WIB
Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute, dan Pengurus Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS).
Menulis Kolom Itu, Seni!
ILUSTRASI: Hafiz

JUDUL kolom saya ini mestinya “Bagaimana Kolumnis Bekerja (2)”, karena ini sambungan kolom yang lalu. Teknik pemberian judul (1), (2) dan seterusnya itu mengingatkan kolom Emha Ainun Nadjib di Majalah Panji Masyakarat tahun 1980-an, yang kala itu saya nanti-nantikan. Emha menulis kolom “Mereka Mencari Rumus Tuhan (1)” dan seterusnya hingga berakhir di jilid kedelapan, “Mereka Mencari Rumus Tuhan (8)”.

Inti dari kolom-kolom Emha itu, bagaimana dia berargumentasi soal kekeliruan pandangan orang-orang atheis. Intinya, kolom-kolom itu menegaskan tema yang serius tentang keberadaan Tuhan, dan ikhtiar penulisnya untuk menggugurkan argumen mereka yang atheis. Mungkin karena sungguh serius itulah, sampai-sampai kolom itu berseri sampai delapan jilid, sehingga pembaca Majalah Panjimas harus mengikutinya hingga beberapa bulan.

Dalam “Mereka Mencari Rumus Tuhan (1)”, Emha mengawali kalimatnya, “Meneruskan tulisan tentang anak-anak muda kita yang atheis, saya ingin mengungkapkan beberapa segi lain supaya ada gambaran lebih jelas. Ada dua hal, sementara apa yang menjadi ancang-ancang penulisan ini. Pertama, pengembaraan tema seperti ini sesungguhnya membutuhkan analisa-analisa yang memperhatikan segi theologis, psikologis, dan faktor-faktor kesejahteraan tertentu yang multikonteks. Namun, dengan tulisan ini saya membayangkan sedang omong-omong karib saja dengan Bapak-Ibu, saudara dan sahabat-sahabat di rumah-rumah kampung, di daerah-daerah, desa-desa. Kita ngobrol sederhana saja. Kedua, tema ini amat sensitif untuk situasi politik keagamaan di negeri kita, dan (harus kita akui) ia lebih sensitif lagi di kalangan umat Islam, ya kita-kita ini. Trauma G.30.S - lepas dari bagaimana sesungguhnya data – kesejarahannya – telah menumbuhkan di kalangan masyarakat suatu ketidaksenangan dengan kadar amat tinggi terhadap atheisme”.

Tetapi saya tidak memakai teknik menjuduli seperti itu atau secara formal serial, kecuali membuat judul baru kendati kolom ini sambungan dari sebelumnya, “Bagaimana Kolumnis Bekerja”. Ya, saya masih akan ajak Anda untuk menelusuri soal, bagaimana Thomas L. Friedman, sang kolumnis agung (dia punya kolom tetap di New York Times) itu menulis. Rujukannya masih buku karangan dia, Thank You for Being Late, edisi Indonesia (2018).

Friedman memberitahu ke kita tentang “seni penulisan opini” melalui teknik penceritaan kembali, bagaimana ia berkomunikasi dengan Bojia, tukang parkir asal Ethiopia yang rajin menulis blog. “Saya sudah menjadi kolumnis selama hampir dua puluh tahun ketika kami bertemu, sesudah menjadi reporter selama tujuh belas tahun, dan pertemuan kami memaksa saya berhenti sejenak dan menjabarkan perbedaan antara meliput dan menulis opini, serta apa yang membuat kolom mengena” (hal. 13).
 
***
Soal reputasi Friedman tak diragukan sebagaimana ditunjukkan dalam kalimat di atas. Tapi, yang lebih penting ialah kalimat sebelumnya, “seni penulisan opini”. Jadi, menulis opini itu, atau menulis kolom itu, seni! 

Bagaimana kita bisa jelaskan bahwa menulis kolom itu seni? Bayangan saya sederhana. Menulis kolom itu, bak pelukis sketsa: merekam sesuatu, menampilkannya, dan para pembaca terhibur, atau dengan kata lain, merasa memperoleh pencerahan.

Tentang gambar-gambar sketsa ini, saya ingat sebuah pameran para sketsawan dan sketsawati akan karya-karyanya. Dengan tajuk pemandangan kota, ada yang membuat sketsa yang membuat saya merenung, karena yang digambar gedung-gedung di pinggir jalan plus tiang-tiang yang penuh dengan kabel yang sangat semerawut. 

Kalau Anda punya kepekeaan sebagai kolumnis, mungkin Anda segera menemukan judul untuk tema baru yang tengah Anda temukan: “Kota Kabel”. Anda bisa melukiskan kembali dengan kata-kata ke kolom Anda, betapa kota Jakarta dan kota-kota Indonesia lain tengah terjebak pada labirin kabel-kabel yang semerawut itu. 

Coba lantas Anda bandingkan dengan kota-kota di luar negeri. Bahkan ketika saya ke Amerika, atau ke Eropa, pernah saya penasaran, ke mana kabel-kabel itu? Kok kota-kotanya tak berkabel? Ada yang bilang kabel-kabelnya di bawah tanah. Ada juga yang bilang sistemnya sudah nirkabel. Nirkabel?
 
***
Catatan penting pertama yang dapat kita garisbawahi ialah, “tidak ada rumus pasti untuk menulis kolom, tidak ada sekolahnya, dan semua orang melakukannya secara berbeda” (hal. 13). Pandangan Friedman ini mengingatkan saya pada Buya HAMKA. Ulama besar yang pernah kita miliki ini, seorang kolumnis agung, justru karena dia otodidak. HAMKA mengasuh kolom bertajuk Tasauf Modern di Majalah Pedoman Masjarakat pada pertengahan dan akhir 1930-an. Kolom itu berkisah tentang bagaimana kebahagiaan bisa diraih menurut pandangan Islam.

HAMKA tidak sekolah atau kursus bagaimana cara menulis kolom yang baik, tetapi kita, pembacanya merasakan kolom-kolomnya begitu merindukan, terutama yang akrab dengan Majalah Panji Masyarakat pada 1970-an hingga wafatnya sosok yang pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini pada 1981.

Tetapi tentu Anda juga ingat pengalaman Emha. Dia juga penulis otodidak. Kolumnis hebat yang salah satu buku kumpulan kolomnya berjudul Slilit Sang Kiai (yang cetak ulangnya puluhan kali ini), sekadar lulusan SMA. 

Emha atau akrabnya Cak Nun pernah mengatakan kepada saya, dia pernah terdaftar sebagai Mahasiswa Jurusan Akuntansi UGM, tetapi tak dilanjutkannya. Dia lebih suka berkesenian di emperan Malioboro, menjadi murid sastrawan Umbu Landu Paranggi.

Dalam buku saya Bagaimana Saya Menulis (2016), saya berkisah bahwa antara lain karena tulisan-tulisan Emha yang saya baca sejak SD, saya tertarik untuk bisa menjadi kolumnis. Saya gembira pada suatu masa di awal Era Reformasi, pernah ikut Cak Nun ke mana-mana untuk menjadi “saksi sejarah”.

***
Tetapi, catat Friedman, “ada beberapa pedoman umum yang dapat saya tawarkan” (hal. 13). Kembali ke pengalamannya, dia ingin membedakan tugas reporter dan kolumnis, penulis opini. Bahwa, “Ketika menjadi reporter, tugas kita adalah menggali fakta, untuk menjelaskan apa yang terlihat dan kompleks serta mengungkap dan mengekspose yang tak terlihat dan tersembunyi – ke mana pun arahnya” (hal.13).

Catatan berikut penting sebagai semacam postulat dari Friedman, “Kalau Anda seorang kolumnis, atau narablog seperti Bojia, tujuan Anda adalah memengaruhi atau memancing reaksi, bukan hanya memberi informasi” (hal. 14). Inilah yang membedakan Anda sebagai kolumnis dengan reporter. Kolumnis lebih banyak dituntut untuk, “Berargumen mendukung suatu sudut pandang dengan sangat meyakinkan sehingga Anda bisa membujuk pembaca untuk berpikir atau merasa berbeda atau lebih kuat atau lebih segar mengenai suatu isu” (hal. 14).

Friedman menjelaskan bahwa, kalau begitu, kolumnis itu berurusan dengan “pemanas dan penerangan”: tiap kolom “harus menyalakan lampu dalam kepala pembaca – memberi penerangan atas suatu isu dengan cara yang mengilhami pembaca untuk memandangnya dengan cara baru – atau membakar suatu emosi di hati pembaca yang mendorong mereka merasa atau bertindak lebih intens atau berbeda mengenai suatu isu”, dan “Kolom ideal bisa melakukan keduanya” (hal. 14).

***
Friedman bertanya, bagaimana cara menghasilkan panas atau cahaya? Dari mana datangnya opini? Setiap kolumnis bisa memberi jawab yang berbeda. Tapi, menurut Friedman, “Gagasan kolom bisa muncul dari mana saja: judul berita koran yang terkesan ganjil, tindakan sederhana seorang asing, pidato seorang pemimpin yang menggugah, pertanyaan naif seorang anak, kekejaman pelaku penembakan di sekolah, kisah pengungsi menyayat hati” (hal. 14).

Ditekankan lagi, “Segalanya dan apa saja bisa menjadi bahan mentah untuk menciptakan panas dan cahaya. Semuanya bergantung kepada hubungan-hubungan yang kita buat dan wawasan-wawasan yang kita tampilkan untuk opini kita”. Bahwa, “Penulisan kolom itu seperti reaksi kimia – karena kita harus meraciknya sendiri. Kolom tidak menulis dirinya sendiri seperti berita. Kolom harus diciptakan”. Reaksi kimia itu, catat Friedman, “melibatkan percampuran tiga bahan dasar: nilai-nilai, prioritas, dan aspirasi kita sendiri” (hal 14).

Hingga di sini, pintu ruangan saya diketuk. “Mas, Bapak mau ketemu, ditunggu di ruangannya!” Dan, saya pun terpaksa menghentikan tulisan ini. Pak Bos sedang manggil. Anda tak usah nanya, “Bos yang mana lagi Mas?”
 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID