M. Alfan Alfian

Doktor Ilmu Politik, Direktur Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional. Juga Kepala Sekolah Kepemimpinan Politik Bangsa Akbar Tandjung Institute.

Menulis Buku Pemimpin

Sabtu, 2/12/2017 | 15:29

RUMAH saya sedang ditata. Buku-buku bermigrasi sedemikian rupa. Karenanya, saya tak bisa memenuhi janji mengulas tentang anjing, sebagai lanjutan kolom saya yang lalu. Maka, terpaksalah saya membawa lari kolom ini ke topik lain. Dan itu urusannya dengan saya langsung. Tepatnya buku saya langsung, buku tentang kepemimpinan politik.

Pergilah ke toko buku dan di sana Anda akan menemukan buku saya, Wawasan Kepemimpinan Politik, Edisi Baru. Terbit hardcover, tebal buku ini 700 halaman. Yang terbiasa dengan buku-buku, buku setebal itu biasa saja. Bagi yang tak terbiasa dengan buku-buku, mungkin langsung komentar, “Bagaimana ini, makan dobel hamburger saja langsung mblenger, apalagi buku setebal ini?”

Ya, saya akan mengulas proses kreatif buku saya itu, dan liku-likunya. Sebuah buku punya riwayat masing-masing, kan?

Suatu karya lahir dari kondisi. Saya sering mengisahkan ke orang-orang tentang banjir besar Februari 2007 di mana-mana, termasuk rumah saya. Setinggi perut orang dewasa air merengsek ke rak-rak buku saya malam itu. Ribuan mengambang. Saya termenung melihat itu semua. Rumah saya seperti tengah dirampok bala tentara Mongol, sedang rumah saya itu perpustakaan Baghdad.

Lalu, para tentara Mongol itu membuang buku-buku ke Sungai Eufrat, dan menjadi hitamlah air sungai itu karena tintanya.

Saya tergugah sedemikian rupa dengan kondisi itu. Yang menyedihkan adalah, di antara ribuan buku yang mengambang dan tenggelam bercampur lumpur itu, yang setelah mengering tercetak seperti batu bata, ialah tak ada satu pun buku karangan saya.

Dengan memanfaatkan yang masih tersisa, maka saya pun berikhtiar untuk menghasilkan satu buku. Semua buku yang masih tersisa seolah bilang ke saya supaya dimasukkan ke buku yang hendak saya tulis itu. Oke, akan saya akomodasi ke dalam tema yang multidimensi, yakni kepemimpinan politik.

Maka, terbitlah buku saya Menjadi Pemimpin Politik (2009). Buku itu kemudian dikembangkan lebih tebal lagi menjadi Wawasan Kepemimpinan Politik (2014), dan lantas muncul edisi barunya, Wawasan Kepemimpinan Politik (2018). Yang terakhir inilah yang sejak pekan lalu telah bertengger di toko-toko buku.

Menulis tema kepemimpinan, apalagi spesifik kepemimpinan politik, menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Topik ini tidak diajarkan di bangku perkuliahan. Tidak ada mata kuliah kepemimpinan politik di jurusan ilmu politik kampus mana pun. Isu itu sekadar terselip sedemikian rupa di mata kuliah pembangunan politik (itu pun kalau tak terlewat).

Prof. Alfian, dalam Masalah dan Prospek Pembangunan Politik Indonesia: Kumpulan Karangan (1986), mengakomodasi itu kepemimpinan politik sebagai masalah integral pembangunan politik. Dia mengaitkannya dengan perkembangan studi yang terfokus pada elite politik yang semakin meningkat sejak 1950-an.

Studi tentang kepemimpinan politik memang tak lepas dari pendekatan perilaku, dikaitkan dengan konteks elite politik. Tetapi, sebagaimana saya jelaskan di buku saya, pemimpin itu bukan manajer, bukan pula sekadar elite. Banyak aspek kepemimpinan, pun kepemimpinan politik yang mesti kita tuntaskan. Hal ini membentang dari visi, hingga legacy, warisan.

Ya, kepemimpinan itu punya prinsip-prinsip yang sama. Ada hal-hal yang bersifat universal. Tetapi, karakter kepemimpinan politik tentu berbeda dengan jenis kepemimpinan bisnis atau kepemimpinan militer, pun kepemimpinan budaya.

Dari semua jenis kepemimpinan seperti itu, kita tahu bahwa yang paling banyak memperoleh porsi di rak-tak toko buku adalah kepemimpinan bisnis. Jumlahnya ratusan, dan tetap awet bertengger. Ini sekaligus, seolah-olah rak-rak itu hendak mengatakan, bahwa manakala Anda hendak bincang-bincang kepemimpinan, maka membaca buku-buku kepemimpinan bisnis tak terelakkan.

Memang demikianlah adanya. Referensi yang saya pakai pun sebagian besar buku-buku kepemimpinan bisnis. Namun, bukan berarti tak ada sama sekali rujukan kepemimpinan politik. Bacaan awal tentang ini, misalnya, bisa dijumpai dalam buku yang sama-sama berjudul Leadership, karangan Nixon, serta karangan Burns—juga buku-buku lain yang menyusul kemudian.

Dari Nixon, kita mendapat banyak pengalaman dan catatan. Bahwa pemimpin itu puisi. Bahwa pemimpin itu bukan sekadar manajer, prosa. Bahwa para pemimpin dunia di abad ke-20 itu punya karakter masing-masing. Dari Burns, kita mencatat tipologi kepemimpinan transformasional dan transaksional. Kendati demikian, tetaplah kita akan berurusan dengan masalah, apa itu politik, bagaimana manajemen kekuasaan dilakukan, di mana kepemimpinan harus hadir dalam urusan-urusan politik, kekuasaan?

Sekianlah dulu kolom ini. Tentu akan bersambung di kolom berikutnya. Mengingat naskah aslinya ada di kepala saya, maka dijamin buku itu tak terselip lagi, kendatipun rumah saya diobok-obok, dikocar-kacirkan buku-bukunya.