logo rilis
Menteri Amran 'Bunuh' Kemiskinan dengan Optimasi Lahan Rawa
Kontributor
Fatah H Sidik
05 April 2018, 13:28 WIB
Menteri Amran 'Bunuh' Kemiskinan dengan Optimasi Lahan Rawa
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, ketika meninjau lokasi optimasi lahan rawa lebak di Kalsel. FOTO: RILIS.ID/Fatah H Sidik

RILIS.ID, Barito Kuala— Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, optimistis, kebijakan optimasi lahan rawa lebak serta pasang-surut bisa membunuh kemiskinan dan menyejahterakan masyarakat Kalimantan. 

Soalnya, selama ini lahan produktif tak maksimal diberdayakan sebagai sumber pendapatan.

"Enggak ada alasan orang Kalimantan miskin dan menganggur. Kami datang untuk membunuh kemiskinan dan pengangguran itu," katanya di sela meninjau lokasi optimasi lahan rawa lebak di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Mandas Tana, Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Kamis (5/4/2018).

Kementerian Pertanian (Kementan), mencanangkan optimasi satu juta hektare lahan rawa lebak dan pasang-surut di sembilan provinsi. 

Di antaranya, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Jambi, Papua, serta Kalimantan Tengah.

Untuk Kalsel, optimasi lahan seluas 67 ribu hektare. 

Untuk pengerjaannya, Kementerian Pertanian menyerahkan bantuan 40 unit eskavator berbobot 20 ton. 

Tiap alat berat seharga Rp2 miliar.

Kementan juga akan mendistribusikan mesin pompa berdaya 200 hektare, selain pupuk dan benih. 

Sedangkan kebutuhan lain, dibebankan ke Pemerintah Provinsi Kalsel dan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala.

Rincian biaya optimasi lahan rawa lebak, diperkirakan sekitar Rp3 juta per hektare dan Rp4 juta per hektare untuk pasang-surut. 

"Ini strategi hemat anggaran. Dulu anggaran Rp16 juta hingga Rp20 juta per hektare," jelas Menteri Amran.

Sebelum optimasi lahan rawa lebak dan pasang-surut, Kementan mencanangkan cetak sawah melalui tanah menganggur untuk menggenjot luas tambah tanam (LTT) di Indonesia.

Peraih gelar doktor dari Universitas Hasanuddin Makassar ini menaksir, optimasi lahan rawa lebak ini bakal menghasilkan Rp60 triliun. 

Perhitungannya, kata Amran, indeks pertanaman mencapai tiga kali dalam setahun (IP-3) pada satu juta hektare lahan tersebut.

Ia juga optimistis, produktivitasnya mencapai 6 hingga 7 ton per hektare. 

Ini, merujuk proyek percontohan di Ogan Ilir, Sumatera Selatan, di mana produktivitas mula-mula 2 hingga 3 ton per hektare menjadi tujuh ton per hektare saat musim tanam ketiga.

Di sisi lain, pria asal Bone itu menerangkan, optimasi lahan rawa bertujuan menjaga kedaulatan pangan hingga 100 tahun ke depan. 

"Kita harus siapkan makanannya dari sekarang. Kita enggak boleh main-main sektor pangan," tegasnya.

Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor, mengatakan dibutuhkan sinergisitas segenap elemen untuk mengoptimasi lahan rawa di provinsi itu.

"Kalau Pak Menteri sudah alatnya, berarti minyaknya Bu Bupati," ucapnya.

Mengingat Indonesia merupakan negara agraris, kata Gubernur, semua pihak harus serius mengerjakannya. Sehingga, kedaulatan pangan terjaga. 

"Kita negeri agraris, tapi beli beras dari luar negeri. Ini momok dalam rangka menuju masyarakat sejahtera," ujarnya geram.

Ditambahkannya, Kalsel akan menyatu dengan alam. 
"Kita ubah dan hasilkan sesuai (harapan) rakyat Jejangkit. Kita ingin menjadi negeri berdikari, khususnya persoalan pertanian," kata Sahbirin.

Pada kesempatan sama, Bupati Barito Kuala, Noormiliyani AS, berharap, program-program agraria pemerintah pusat tak sekadar di Desa Jejangkit Muara saja, tapi di seluruh wilayah, karena Barito Kuala merupakan daerah pertanian.

Apalagi, ungkap mantan Ketua DPRD Kalsel ini, antusias masyarakat cukup tinggi. Tak heran optimasi lahan rawa di Desa Jejangkit Muara mencapai 750 hektare. 

"Tadinya 400 hektare," ungkap dia.

Editor: Kurniati


500
komentar (0)