logo rilis
Mentan Ungkap Tiga Teknologi Ini Mampu Jawab Tantangan Pertanian Global
Kontributor
Elvi R
22 Agustus 2019, 11:54 WIB
Mentan Ungkap Tiga Teknologi Ini Mampu Jawab Tantangan Pertanian Global
Mentan Amran Suliaman dalam acara optimalisasi lahan pertanian di Wajo. FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Bogor— Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pembangunan pertanian Indonesia sudah saatnya menggunakan teknologi. Terlebih, untuk menjawab tantangan global berupa peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan, peningkatan ekspor, pencegahan stunting dan pengentasan kemiskinan. Serta yang tak kalah pentingnya isu ramah lingkungan dan antisipasi perubahan iklim.

Menyongsong RPJMN 2020-2024 dan modernisasi pertanian itu, Kementerian melalui Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) telah menyiapkan sejumlah teknologi inovatif.  Menurut Amran, setidaknya ada tiga teknologi inovatif terkini yang disiapkan Balitbangtan untuk menjawab tantangan pertanian global. 

"Kementerian Pertanian melalui Balitbangtan telah menghasilkan teknologi inovatif khususnya pada tiga bidang teknologi  terkini yaitu nanoteknologi, biofortifikasi dan bioteknologi, guna menjawab tantangan global, " ungkapnya dalam sambutan Launching Produk Inovasi Balitbangtan, di Bogor, Kamis (22/8/2019).

Lebih Lanjut, Amran menjelaskan nanoteknologi merupakan teknologi yang dimanfaatkan untuk merekayasa produk dengan bahan baku partikel berukuran 1/1.000.000.000 meter atau 1 x 10-9 meter. Teknologi nano mampu menghasilkan bahan dengan fungsi baru yang belum pernah ada. 

"Di bidang nanoteknologi, kami sudah menghasilkan produk kemasan ramah lingkungan Bioplastik Nanoselulosa Limbah Pertanian dan Biodegradable Foam atau disingkat Biofoam. Keunggulan dari bioplastik ini adalah mudah terurai secara alami yaitu butuh waktu 60 hari. Penggunaan limbah pertanian sebagai bahan baku bioplastik nanoselulosa mampu mengurangi pencemaran akibat limbah yang tidak tertangani dengan baik.  Biaya atau harga jual bioplastik umumnya 5-7 kali lebih mahal dari plastik konvensional atau sekitar Rp7.00-Rp2.000 per kantong," jelasnya.

Pada teknologi biofortifikasi, Amran menuturkan telah mengasilkan padi dengan varietas Inpari IR Nutri Zinc. Padi ini memiliki kandungan Zn 29,54 ppm atau sekitar 23 persen lebih tinggi daripada Ciherang. Pada 2020 padi ini akan dikembangkan seluas 10 ribu hektar dan pada 2021 ditargetkan ditanam seluas 100 ribuhektar.

"Upaya ini untuk mengembangkan SDM yang unggul. Padi Inpari IR Nutri Zinc ini berpotensi dapat mencegah dan meminimalisasi masalah stunting di Indonesia. Kami telah memproduksi benih Inpari IR Nutri Zinc yang akan disebarluaskan secara massif terutama di daerah yang termasuk endemis stunting," katanya.

Sementara itu, teknologi terakhir yakni kedelai biosoy merupakan penunjang penghematan devisa nasional. Bahkan keberhasilan pengembangan kedelai Biosoy dapat berdampak terhadap peningkatan produksi nasional kedelai menuju swadembada kedelai.

"Karena kedelai biosoy memiliki ukuran biji besar dan hasil tinggi. Ukuran biji ini mirip dengan biji kedelai impor yang berbobot sekitar 20 gram per 100 biji. Kedelai Biosoy juga memiliki produktivitas 14-18 persen lebih tinggi dibanding varietas yang dilepas sebelumnya. Produksi benih Biosoy terus diperbanyak dan sudah mulai didistribusikan ke petani-petani di Indonesia," tutur Amran.

Diakhir sambutannya, Amran pun berpesan agar seluruh pemangku kebijakan, mampu melakukan hilirisasi penelitian. 
"Produk-produk inovatif tersebut harus disertai hilirisasi yang masif sehingga manfaatnya segera dapat dirasakan masyarakat dan berdampak positif secara nasional," pungkasnya.

Sumber: Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID