logo rilis

Menpar: Sektor Pariwisata Paling Kecil Timbulkan Kerusakan Lingkungan 
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
06 Juli 2018, 03:27 WIB
Menpar: Sektor Pariwisata Paling Kecil Timbulkan Kerusakan Lingkungan 
Menpar Arief bersama finalis Miss Earth Indonesia (MEI) 2018 dalam acara 30 Finalis MEI 2018. FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, memastikan akan menekan sekecil mungkin kerusakan lingkungan yang ditimbulkan dari pariwisata. Selama ini menurutnya, pariwisata merupakan sektor yang paling kecil menimbulkan kerusakan lingkungan. 

"Karena prinsip pembangunan pariwisata adalah suistainable atau berkelanjutan. Lingkungan yang terjaga merupakan aset bagi pariwisata untuk mendatangkan wisatawan," kata Menpar Arief di kantor Kemenpar, Jakarta, Kamis (5/7/2018). 

Menpar Arief menyampaikan pernyataan itu untuk menjawab pertanyaan salah satu finalis Miss Earth Indonesia (MEI) 2018 dalam acara 30 Finalis MEI 2018 bertemu Menpar di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta. 
 
Arief menggambarkan bagaimana pariwisata peduli terhadap sustainable tourism. Contohnya, lanjut dia, masyarakat sekitar hutan yang mengelola lahan untuk kegiatan pariwisata.

"Misalnya dari 1.000 hektare hutan,  yang dikelola sekitar 10 persen atau 100 hektar dari lahan itu hanya 10 hektare  ada tapak bangunan. Ini artinya, hanya 1 persen yang digunakan oleh pariwisata, sedangkan 99 persen menjadi aset yang harus dipelihara agar menjadi daya tarik untuk didatangani wisatawan," ujarnya. 

Menpar Arief juga menjawab pertanyaan finalis seputar investasi di sektor pariwisata yang didominasi oleh investor asing. Investasi di sektor pariwisata tahun 2014 semula sebesar US$700 juta dengan komposisi 10 persen investor domestik dan 90 persen investor asing. Namun pada 2016 meningkat menjadi 1 miliar dolar Amerika Serikat dengan komposisi 30 persen domestik dan 70 persen asing.

"Tahun 2017 meningkat  menjadi 1,8 miliar dolar AS dengan komposisi kembali ke semula 10 persen investor domestik dan 90 persen investor asing. Saya coba menganalisa mengapa hal ini terjadi. Penyebabnya, antara lain tidak adanya insentif bagi investor kita yang terjun ke usaha pariwisata," paparnya. 

Editor: Yayat R Cipasang


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)