logo rilis
Menko Perekonomian Minta Inisiatif BI Tangani Pelemahan Rupiah
Kontributor
Elvi R
04 Mei 2018, 15:42 WIB
Menko Perekonomian Minta Inisiatif BI Tangani Pelemahan Rupiah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasuiton. FOTO: Humas Kemenko Perekonomian

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, Bank Indonesia (BI) harus berinisiatif menangani pelemahan atau depresiasi nilai mata uang Rupiah terhadap Dolar AS.

"Kalau kurs, apalagi kalau penyebabnya dari luar, yang harus maju lebih dulu itu Bank Indonesia, bukan pemerintah," kata Darmin ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (4/5/2018).

Mantan gubernur BI tersebut mengatakan, bank sentral sudah menyuarakan mengenai keperluan menaikkan tingkat bunga. Keputusan tersebut tinggal menunggu rapat bulanan BI.

"BI tidak bisa lakukan sekarang itu. BI tunggu rapat dewan gubernur, jadi tinggal tunggu waktu saja. Biarin saja dulu," kata Darmin.

Nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat (4/5) pagi bergerak melemah tipis sebesar satu poin menjadi Rp13.932 dibanding posisi sebelumnya Rp13.931 per Dolar AS.

Darmin mengungkapkan, penguatan dolar AS terjadi tidak hanya kepada Rupiah, namun juga mata uang negara-negara lain. Tren pelemahannya juga lebih kurang sama dalam sebulan terakhir.

"Salah satu penyakit market itu apa yang disebut taper tantrum. Kalau lagi (seperti) ini semua kemudian berpersepsi macam-macam mengambil langkah, namun setelah kejadian ternyata tidak seserius itu kok," kata dia.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, Rupiah berpotensi menguat apabila keyakinan konsumen Indonesia semakin membaik. Walau begitu, peningkatan kurs Rupiah mungkin terbatas oleh faktor eksternal. 

"Karena Dolar dapat terangkat oleh prospek kenaikan suku bunga AS dan naiknya ekspektasi inflasi, mata uang pasar berkembang termasuk Rupiah mungkin tetap tertekan," ujar Lukman, dalam siaran pers yang diterima rilis.id, di Jakarta, Jumat (4/5/2018).

Dia menjelaskan, Dolar AS yang menguat secara agresif dapat memaksa Bank Indonesia untuk meningkatkan suku bunga acuan demi menyelamatkan Rupiah.
Terkait prospek forex, Rupiah stabil terhadap Dolar AS dan harga bergerak mendekati Rp13.935 pada saat laporan ini dituliskan.

"Dengan peningkatan antisipasi menjelang rilis NFP AS di hari Jumat, USDIDR dapat mengalami volatilitas lebih tinggi," ungkap Lukman.

Meski Rupiah stabil, Lukman menambahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah menjelang rilis laporan Keyakinan Konsumen Indonesia bulan April.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)