logo rilis
Menjaga Marwah Betawi
Kontributor
RILIS.ID
30 Agustus 2019, 17:41 WIB
Menjaga Marwah Betawi

Oleh: Usni Hasanudin

Direktur Laboratorium Ilmu Politik FISIP UMJ; Ketua Dewan Pakar Gemuis Betawi; Ketua Bidang Politik dan Hubungan Antarlembaga Bamus Betawi

Berbahagialah orang Betawi. Predikat sebagai warga negara Indonnesia yang mendiami Ibu Kota Negara. Prestasi sebagai suku asli tanah Jakarta secara alamiah akan terus dituntut sebagai konsekuensi dari lalu lintas manusia yang takkan pernah beristirahat.

Pembangunan akan menjadi miniatur pesatnya perkembangan wilayah tanah asal. Namun, takkan berdaya guna ketika orang Betawi tidak turut serta menjadi bagian dari pembangunan.

Ada petuah orang tua, "Jangan selalu memandang ke depan. Sesekali tengoklah ke belakang." Ke depan adalah tujuan, Ke belakang adalah nilai. Dengan kata lain, orang Betawi harus berpandangan ke depan, tetapi jangan melupakan nilai-nilai yang menjadi tradisi dan sejarah. Dua hal inilah yang harus dijawab orang Betawi untuk menjaga marwahnya.

Saya mungkin orang yang kurang memahami secara utuh persoalan Betawi, meskipun orang Betawi. Tulisan ini, saya dedikasikan untuk Badan Musyawarah (Bamus) Betawi yang menyelenggarakan pelantikan kepenggurusan pada 25 Agustus 2019.

Integrasi Nilai
Wajah Jakarta saat ini memang berbeda dengan tempo dulu. Jakarta terus berbenah mempersolek dirinya. Gedung-gedung menjulang tinggi. Moda transportasi terus ditata, bahkan laut menjadi sasaran memperluas wilayah daratan dengan alasan pembangunan terintegrasi.

Di balik cepatnya pembangunan, nilai-nilai atau tradisi orang Betawi berjalan lambat, bahkan tertinggal. Kearifan lokal merupakan seperangkat nilai tentang kebijaksaaan, kearifan, dan keluhuran yang menjadi cara pandang masyarakat dalam memandang lingkungannya. Ini belum terintegrasi. Kearifan lokal Betawi dan kebijakan pembangunan fisik yang dirasakan berjalan sendiri-sendiri.

Sejatinya kearifan lokal ditempatkan sebagai sumber moral dalam pembangunan. Sehingga, perlu upaya taktis dalam mengintegrasikan nilai kearifan lokal secara kolektif, antara orang Betawi dengan pemangku kebijakan. Manakala terjadi akumulasi antara masyarakat dan pembangunan yang terintegrasi, keberadaan nilai kebetawian dapat hidup dinamis dan saling berdampingan. 

Meskipun dalam praktiknya terdapat pengembangan kearifan lokal, ini tidak cukup hanya sebatas simbol yang dapat ditemukan di kantor-kantor pemerintahan. Baik dalam bentuk semboyan, pepatah, nyanyian, ataupun perayaan-perayaan bersifat seremoni.

Esensi dari mengintegrasikan nilai kearifan lokal, yaitu keterlibatan orang Betawi secara langsung dalam setiap penyusunan perda atau kebijakan lainnya. Saya ingin kembali tekankan, pengembangan kearifan lokal untuk menjaga moral. Marwah Betawi memang harus dijaga. Bagaimana kita menjaga marwah itu, sangat bergantung pada orang Betawi dalam memengaruhi kebijakan.

Agar dapat berjalan, saya ingin menggunakan istilah triguyub: Bamus Betawi, DPRD, dan Gubernur. Ketiganya mesti jalan beriringan dalam setiap pembahasan perda. Bukan menyampingkan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Namun, orang Betawi akan terkena dampaknya secara langsung.

Untuk mengintegrasikan kearifan lokal atau nilai-nilai Betawi di setiap pembahasan perda, keterlibatan secara langsung sangat diperlukan. Harus ada mekanisne pengaturan secara baik antara Bamus Betawi, DPRD, dan Gubernur. 

Konsolidasi Nilai
Jejak rekam kearifan lokal harus terus digali, ditulis, dan dipublikasikan, agar kesadaran masyarakat Betawi meningkat. Jangan dibiarkan tertinggal sebagai sejarah. Saya merasa beruntung dapat hadir dalam pelantikan Kepengurusan Bamus Betawi Periode 2008-2023.

Mungkin baru kali pertama saya berada dalam suasana penuh adab orang Betawi. Adab orang Betawi yang hampir dilupakan; kalau kumpul-kumpul banyak tokoh, selalu terdengar lantunan selawat dustur. Adab lain, penghormatan pada yang tua. Secara kebetulan acara pelantikan dihadiri Ketua Majelis Adat, Bang Haji Edy Nalap Raya.

Guyub. Kalimat yang seringkali terdengar dan kata itu baru saya dapat dalam hajatnya orang Betawi. Semua membaur. Takada kesan monopoli dari kelompok tertentu. Saya melihat adanya dialog kultural sesama organisasi Betawi. Aura penghormatan kepada yang tua sangat terjaga. Inilah Bamus Betawi dalam benak pikiran saya.  Guyub itulah mungkin yang dimaksud dengan berkumpulnya organisasi-organisasi Betawi. Berhimpun dan saling berkonsolidasi.

Memang dalam hajat tersebut tidak terlihat adanya perwakilan pemerintah. Ketidakhadiran pihak pemerintah mengingatkan konsep masyarakat madani (civil society) yang diutarakan Jhon Keane.

Salah satu pemikirannya adalah kemandirian. Ketidakhadiran pemerintah bentuk kemandirian Bamus Betawi yang akan sulit diintervensi dan akan lebih mudah mengonsolidasikan dirinya sebagai kelompok penekan atau kontrol.

Di pihak lain, faktor kepemimpinan menjadi kendali utama dalam menjaga marwah Betawi. Lemahnya kepemimpinan selama ini, merupakan salah satu faktor sulitnya orang Betawi menjadi Gubernur. Bamus Betawi memiliki peran yang tidak saja mengonsolidasikan nilai. Jauh ke depan, harus mempersiapkan kepemimpinan untuk menjadi orang nomor satu di Jakarta.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID