logo rilis
Meninggal dan Semiotika Medsos
Kontributor

27 Mei 2018, 22:35 WIB
Meninggal dan Semiotika Medsos

Sekitar tahun 2010, tak jelas bulan apa, barangkali sekitar September-November, seorang teman menulis status pendek di pagi buta. Saya membacanya dengan penuh keheranan karena status itu berisi seakan dia pamit hendak pergi jauh.

 

Dia menulis kata-kata perpisahan dan kerinduan bertemu ayahnya. Kami tahu, ayah dia sudah lama wafat. Sedangkan ibunya tak pernah pulang semenjak dia usia dua tahun. Itupun dia ingat samar-samar.

 

Tahun 2010 saya pakai gawai mungil tapi cukup tebal. Kira-kira setebal genggaman anak remaja dengan bobot 50-an kilogram. Gawai itu relatif digandrungi karena punya joystick di tengah. Ini kelebihannya. Meski di balik itu, terselip kelemahan, yakni mudah eror manakala sering dipakai untuk bermain bomberman.

 

Yang ingin saya katakan, dengan gawai itu, saya biasa buka Facebook. Hari itu hari Kamis. Seperti biasa, saya naik kendaraan klasik Bus Aspada Jalur 7. Duduk di belakang sendiri, menyandarkan bahu dan mengenakan ear-phone di telinga, jemari saya kemudian menari, berselancar, dan membaca status-status kawan yang jamak menggunakan huruf besar-kecil berikut singkatan trendi.

 

Status seorang teman tadi saya baca sepintas dengan meninggalkan tanda tanya besar di benak: kenapa dia menulis begitu, tak biasanya seperti itu. Singkat cerita, hari itu sudah sore. Lonceng elektrik berdentang tanda pulang. Sekian langkah menuju halte, tiba-tiba kerabat lain memperbarui status.

 

Bahwa dia, seorang kawan yang dimaksud tadi, meninggal seketika setelah mengalami kecelakaan. Saya menundukan kepala sekaligus menangkis kebenaran warta itu. Namun, kenyataan adalah kenyataan, yang betapapun pahitnya, tetap saja nyata.

 

Rasa curiga saya terbayar sudah. Mulanya agak aneh ketika dia menulis status begitu. Ternyata status itu adalah status terakhirnya. Harapannya untuk bertemu seseorang yang dia cintai itu akhirnya dikabulkan. Meskipun itu tak gratis. Meskipun itu harus mengorbankan nyawa. Tapi siapa berkuasa atas takdir selain Dia?

 

Yang masih menjadi pertanyaan saya adalah apakah orang yang akan meninggal niscaya ditandai oleh jejak-jejak ganjil selang beberapa jam, hari, maupun minggu sebelumnya? Ini sekadar asumsi yang jelas tak memiliki pijakan argumentasi kuat.

 

Akan tetapi, di balik asumsi itu, saya kerap kali mengalami kenyataan serupa: orang yang akan meninggal biasanya menyampaikan sinyal-sinyal tertentu yang terkadang perlu ditelisik lebih mendetail.

 

Kegelisahan ini ternyata juga dirasakan sebagian kawan-kawan saya. Mereka punya dugaan serupa meski semua preferensi itu didasarkan atas pengalaman sendiri-sendiri. Seperti gejala buat status di media sosial sebagaimana seorang kawan saya itu.

 

Bahasa dan nuansa yang dia tulis tak seperti biasa. Seakan-akan dia dituntun oleh alam bawah sadar untuk memberi jejak. Bahwa dirinya akan melanjutkan perjalanan lain ke suatu tempat nun jauh di sana.


#mediasosial meninggal semiotika
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID