logo rilis
Menimbang Sensitivitas Gender: Dari Ojek Online Sampai RKHUP
Kontributor

20 Maret 2018, 21:19 WIB
Menimbang Sensitivitas Gender: Dari Ojek Online Sampai RKHUP

Malam itu ketika ingin melakukan perjalanan pulang ke kos–dari Salemba ke jalan Johar Baru, sekitar 1,4 km jaraknya–saya memesan ojek online. Secara kebetulan saya mendapatkan driver seorang perempuan. Entah kenapa sekelebat tentang kesetaraan gender menggumul dalam pikiran. Apakah saya yang dibonceng atau meminta padanya agar diijinkan untuk memboncengnya? ada rasa ketidakenakan muncul di saya, karena belum pernah mendapat driver ojek online seorang perempuan dan hanya pernah dibonceng beberapa kali oleh perempuan, itupun karena dia teman saya yang tomboi.

Ia menghampiri saya yang berdiri di tepi jalan dan menanyai nama saya. Dengan mengangguk lalu mengatakan ya, saya menjawabnya. Kemudian ia memberikan helm dan saya menerimanya tanpa mengatakan apa yang sejak tadi mengganggu dalam pikiran. Rupanya keinginan untuk meminta mengendarai motornya dikalahkan dengan rasa sungkan menanyakan hal itu, juga supaya saya terlihat lebih menghargai pekerjaannya.

 “Maaf saya pake tas ya!.” Walau tidak mengatakan maaf, saya tahu bahwa itu untuk memberikan jarak antara kami. Segera totebag dengan sedikit menggempal yang saya pegang, juga saya letakkan di tengah. Jarak antara kami makin melebar. Tapi pikiran yang tidak tersampaiakan tadi dan rasa ketidakenakan terus mengiringi perjalanan saya sampai ke kos.

Saya tidak menganggap bahwa saya lebih baik dibanding dia dalam mengedarai motor tetapi hanya ingin menghindari anggapan-angapan lain yang bisa saja timbul dari pikiran-pikiran negatif dan entah mengapa saya tidak tega melihat seorang perempuan harus membonceng saya. Apakah ini sadar gender atau terlalu cepat menjustifikasi?

Secara kebetulan yang kedua, besoknya, saat ingin ke Jalan Rawah Tengah, saya mendapatkan lagi driver seorang perempuan. Kali ini saya harus mengatakannya, maksudnya saya yang membonceng driver itu. “mba, maaf biar saya saja yang bawa motornya”, kata saya segera sebelum ia memberikan helm penumpangnya. Tanpa ada basabasi untuk menolak ia mengiayakan permintaan saya. Ada kelegaan yang terasa ketika saya yang mengendarai motornya dan juga merasa lebih mengarhargainya. Mungkinkah saya sadar gender atau malah terjebak dalam ketimpangan gender?

Lalu pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan dan sampai pada, apakah ini sebuah ekstrimisme berpikir dalam menyoalkan kesensitivitasan gender? Kemudiian bagaimana dengan sebuah aforisma “ladies first”, apakah menggambarkan kesensitivitasan gender?

Gender adalah sebuah sifat yang melekat padal laki-laki ataupun perempuan yang terbentuk oleh interaksi sosial dan secara kultural, dan ini berbeda dengan jenis kelamin (bersifat biologis). Karena sifatnya sosial dan kultural maka gender memiliki banyak ruang-ruang perdebatan.

Secara sederhana jika melakukan pendekatan dengan negasi internal Hegel, maka untuk membedakan satu identitas gender maka ia harus direlasikan dengan satu identitas gender lainnya yang berbeda. Maka sekat-sekat ditiap identitas gender akan semakin terlihat. Makna relasi disini jelas bukan mempertentangkan tapi menghubungkan letak-letak perbedaan itu.

Gender adalah sebuah interaksi yang akan saling melengkapi. Jika dibugis dikenal dengan lima identitas gender, maka kelimanya akan melengkapi satu dan lainnya. Ia akan bekerja masing-masing pada porosnya, dan ketika di porosnya itu maka ia akan menjadi dirinya sendiri.

Selalu ada negosiasi yang lahir ditiap identitas gender. Maka selayaknya ia tidak bersikut-sikutan dan miskin pengertian. Mengutip festivalist, jika tak setuju maka berbeda kubu dan tak sepaham lantas baku hantam ini bukan cita-cita perjuangan gender bahkan feminisme. Perbedaan jelas bukan hal yang berlawanan lalu kemudian menjadi isu yang memecah belah.

Nancy Fraser, penulis buku fortunes of feminism  mengatakan jika isu kebudayaan di dalam feminisme hanya disempitkan menjadi problem identitas semata. Ada eksklusifisme yang tumbuh di dalam gerakan-gerakan gender terkhusus feminisme. Pembedaan identitas sosial antara laki-laki dan perempuan terus didebatkan lantas mengaburkan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di bidang ekonomi dan politik. Kesempatan kerja, keberlangsungan hidup, dan hak-hak kemanusiaan lainnya yang menyejahterakan mereka.

Kesadaran gender dibidang politik sebenarnya masih problematis, apakah betul memperjuangkan gender atau tidak. Perempuan yang mencalonkan menjadi pemimpin daerah dan anggota legislatif – khususnya di Indonesia ada beberapa peremuan yang mencalonkan - apakah murni memperjuangkan hak perempuan atau hanya sekadar melanggengkan kekuasaan. Bahkan jika sedikit pesimistis mereka menggunakan isu gender sebagai alat promosi politiknya. Menjadi perlu untuk menanyakan kembali pengetahuan mereka terhadap isu gender.

Namun, ini hanya sekelumit dari sekian besarnya isu gender yang ada. Baru-baru ini anggota dewan yang terhormat merancang KHUP yang justru mengkirminalisasi perempuan, anak, dan kelompok marjinal, dengan kata lain indonesia akan menjadi intoleran jika mengesahkan rancangan ini.

Pasal yeng menyatakan dipidana karena zina dengan penjara paling lama 5 tahun jika laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan. Mampuslah kau dikoyak-koyak legalitas. Sekarang bersetubuh bukan hanya berasaskan cinta tapi butuh  legitimasi pemerintah.

Lalu bagaimana tentang perempuan yang ditinggal pergi oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab atas kehamilannya? dalam rancangan ini memungkinkan perempuan juga menjadi pelaku perzinahan apabila mereka belum menikah. Jahat.

Soal delik aduan yang mengatakan jika pengaduan tidak hanya bisa dilakukan oleh pasangan atau keluarga yang menjadi korban, tapi juga dilakukan oleh pihak ketiga yang tercemar, tanpa penjelasan lebih lanjut siapa dan bagaimana wujud pihak ketikga yang dimaksud. Delik aduan ini membuka ruang selebar-lebarnya tindakan persekusi terhadap korban. Maka penyintas akan merasakan dua kali kedukaannya.

Anda-anda harus semakin hati-hati, jika ada mantan atau orang yang tidak senang dengan hubungan anda maka mereka bisa saja melaporkan dengan tuduhan perzinahan. Hubungan personal memang sedang diikut campuri oleh pemrintah, para calon persekusi dan orang-orang yang berhaluan sama.

Rancangan pasal-pasal itu juga membuka penafsiran masing-masing orang, dan yang akan terjadi yang berkuasa akan memaksakan penafsirannya atau juga kaum mayoritas akan memaksakan penafsirannya pada kaum minoritas. Ini bukan cita-cita negara demokrasi.

Dari merancang saja sebenarnya ini sudah memperlihatkan sikap intoleransi pemerintah (untuk membaca dan ikut menolak RKUHP silahakan kunjungi website change.org) dan hebohnya lagi ini diatur mendekati peryaan pemilu tahun depan. apakah ini akan menjadi isu yang dibawa sampai ke slogan-slogan atau iklan-iklan politik. Kita tunggu saja.

Adanya identitas gender tidak memberi garis pemisah yang jauh antara laki-laki dan perempuan, justru menawarkan rasa saling menghargai dan mengakui hak masing-masing.

Kita menjadi tersibukkan berdebat mengenai sensitivitas gender pada permasalahan siapa yang patas mengemudi – seperti cerita diawal tulisan ini – antara laki-laki atau perempuan dan ungkapan ladies firs lalu lupa bahwa gerakan awal kesetaraan gender itu memperjuangkan hak ekonomi dan politik.

Teruntuk pemeritah, masih banyak hal rewel lain yang perlu diselesaikan, bukan mengundang masyarakat untuk melakukan persekusi terhadap penyintas atau bahkan yang berasaskan cinta tadi.


#RKHUP
#Feminisme
#Gender
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID