logo rilis
Menhub Sebut Mantan Anak Buahnya Khilaf Terima Suap
Kontributor
Tari Oktaviani
28 Maret 2018, 07:35 WIB
Menhub Sebut Mantan Anak Buahnya Khilaf Terima Suap
Menteri Perhubungan Budi Karya. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, menjadi saksi dalam persidangan suap dan gratifikasi sejumlah proyek di lingkungan Kementerian Perhubungan yang dilakukan mantan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Antonius Tonny Budiono.

Dalam persidangan, ia mengatakan Antonius Tonny Budiono telah khilaf menerima suap dan gratifikasi dari sejumlah proyek di lingkungan Kementerian Perhubungan. Pasalnya, sosok Antonius dikenalnya merupakan sosok yang berkinerja baik.

"Kalau saya liat ada khilaf dari terdakwa, karena sebelumnya, melakukan kegiatan dengan baik," kata Budi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Menurut Budi, laporan tim Inspektorat Jenderal Kemenhub, uang-uang yang diterima Tonny dilakukan usai pengerjaan proyek selesai. Namun, ia mengaku tak tahu-menahu terkait penerimaan uang tersebut.

"Jadi berdiskusi dari Irjen, dan lainya, laporannya, bahwasanya uang itu setelah dilakukan kegiatan," tuturnya. 

Lebih jauh, Budi mengungkapkan suap dan gratifikasi yang diterima Tonny merupakan bagian ucapan terima kasih dari pihak swasta yang mendapat pekerjaan. Sehingga ada balas jasa di antara keduanya.

"Dari analisa yang dibahas di kantor. Jadi ada balas jasa yang dilakukan kepada beliau dari pihak ketiga. Dari laporan seperti itu," ujarnya. 

Kendati demikian, Budi tetap prihatin atas kejadian ini. Terlebih terjadi di lingkungan Kementerian Perhubungan naungannya. Untuk itu Budi menegaskan sedang melakukan perbaikan di Kementerian Perhubungan.

"Saya jujur saya prihatin atas kejadian ini.  Di masa saya, saya akan akan berusaha lebih baik," kata dia. 

Dalam kasus ini Tonny didakwa menerima suap Rp2,3 miliar dari Komisaris PT Adhiguna Keruktama Adiputra Kurniawan. Suap itu diberikan terkait pengerjaan pengerukan empat pelabuhan di sejumlah daerah. 

Empat pelabuhan yang diterbitkan Surat Izin Kerja Keruk (SIKK) oleh Tonny adalah pengerukan alur pelayaran pelabuhan Pulau Pisau Kalimantan Tengah, Pelabuhan Samarinda, pengerukan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, pengerukan di Bontang Kalimantan Timur, dan pengerukan di Lontar Banten. 

Uang itu diterima Tonny melalui kartu ATM atas nama Yongkie dan Joko Prabowo. Selain menerima suap, Tonny juga didakwa menerima gratifikasi dari sejumlah pihak berupa uang tunai Rp5,8 miliar, US$479.700, €4.200, £15.540, Sin$ 700.249, dan RM11.212.

Selain itu, uang di rekening Bank Bukopin atas nama Oscar Budiono Rp1,066 miliar dan Rp1,067 miliar dan uang di rekening BRI atas nama Wasito dan BCA Rp300 juta.

Tonny juga menerima gratifikasi perhiasan berupa cincin yang harganya ditaksir mencapai Rp175 juta serta sejumlah barang yakni jam tangan, pena, dompet, hingga gantungan kunci. 

Editor: Sukma Alam


500
komentar (0)