logo rilis
Menhub Akui Bersalah karena Tak Tahu Anak Buahnya Terima Suap
Kontributor
Tari Oktaviani
28 Maret 2018, 14:50 WIB
Menhub Akui Bersalah karena Tak Tahu Anak Buahnya Terima Suap
MENHUB BUDI KARYA SUMADI. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, merasa bersalah karena mantan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Antonius Tonny Budiono, bersedia menerima suap dan gratifikasi dari sejumlah proyek di kementeriannya.

Ia pun mengakui keteledorannya lantaran tidak tahu ada proses suap terjadi di lingkup kementerian naungannya.

"Ya jujur saya merasa bersalah, karena kok saya tidak tahu apa yang terjadi," kata Budi saat menjadi saksi untuk Tonny, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Budi mengaku menyesal dengan adanya kejadian ini. Untuk itu, Budi akan segera melakukan pembenahan di kementeriannya pasca terjadinya operasi tangkap tangan KPK.

"Nah oleh karenanya saya mengkritisi diri saya dan melakukan kegiatan lebih intensif baik itu sifatnya preventif maupun represif. Dan itu saya buktikan selama saya menjalankan roda organisasi," ujarnya.

Adapun langkah preventifnya, yakni dengan bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam pencegahan korupsi. Salah satu praktiknya, Kementeriannya mengurangi jumlah kegiatan yang berpeluang adanya pembahasan suap.   

"Preventifnya kami kerjasama dengan KPK, seperti yang menetapkan kegiatan-kegiatan yang berpotensi bermasalah," tuturnya. 

Dalam kasus ini, Tonny didakwa menerima suap Rp2,3 miliar dari Komisaris PT Adhiguna Keruktama Adiputra Kurniawan. Suap itu diberikan terkait pengerjaan pengerukan empat pelabuhan di sejumlah daerah. 

Empat pelabuhan yang diterbitkan Surat Izin Kerja Keruk (SIKK) oleh Tonny, adalah pengerukan alur pelayaran pelabuhan Pulau Pisau Kalimantan Tengah, Pelabuhan Samarinda, pengerukan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, pengerukan di Bontang Kalimantan Timur, dan pengerukan di Lontar Banten. 

Uang itu diterima Tonny melalui kartu ATM atas nama Yongkie dan Joko Prabowo. Selain menerima suap, Tonny juga didakwa menerima gratifikasi dari sejumlah pihak berupa uang tunai Rp5,8 miliar, US$479.700, €4.200, £15.540, Sin$ 700.249, dan RM11.212.

Selain itu, uang di rekening Bank Bukopin atas nama Oscar Budiono Rp1,066 miliar dan Rp1,067 miliar dan uang di rekening BRI atas nama Wasito dan BCA Rp300 juta.

Tonny juga menerima gratifikasi perhiasan berupa cincin yang harganya ditaksir mencapai Rp175 juta serta sejumlah barang yakni jam tangan, pena, dompet, hingga gantungan kunci. 

 

Editor: Taufiqurrohman


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)