logo rilis
Menhan Minta Ulama Jaga NKRI dari Kelompok yang Ingin Ganti Pancasila
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
08 April 2019, 19:15 WIB
Menhan Minta Ulama Jaga NKRI dari Kelompok yang Ingin Ganti Pancasila
Menhan Ryamizard Ryacudu FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu meminta para ulama untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pasalnya, kata Ryamizard, saat ini marak paham dan aliran yang ingin mengganti ideologi Pancasila.

Menhan Ryamizard menyampaikan itu saat menghadiri Thoriqoh Kebangsaan Konferensi Ulama Sufi Internasional yang bertajuk "Mengimplementasikan Tasauf untuk Kebahagiaan Umat Manusia dan Keselamatan Negara" di Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (8/4/2019). 

"Tema yang diambil pada kesempatan kali ini saya pandang relevan dalam rangka mengingatkan kembali akan hakikat dan jati diri umat Islam Indonesia yang sesungguhnya di tengah maraknya aliran dan faham ideologi lain yang ingin mengganti ideologi Pancasila," katanya.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu menjelaskan, di era perkembangan modernisasi dan globalisasi saat ini Indonesia harus mewaspadai ancaman disintegrasi bangsa melalui perubahan mindset yang bertujuan untuk mengubah ideologi bangsa. Meskipun, tetap mewaspadai ancaman yang berbentuk fisik berupa ancaman nyata maupun ancaman belum nyata. 

"Dengan kekuatan soft power, ancaman ini terus berupaya secara sistematis, terstruktur dan masif untuk merusak jati diri anak bangsa Indonesia dengan ideologi radikal. Pengaruh mindset ini merusak jati diri anak bangsa yang ujungnya adalah suramnya masa depan generasi muda Indonesia," ujar Ryamizard. 

Dia menilai, saat ini salah satu ancaman yang sangat nyata dan merupakan bentuk penistaan terhadap agama, negara dan bangsa Indonesia yang sangat berpengaruh terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa adalah terorisme dan radikalisme. Ancaman itu, menurutnya, tidak hanya menimbulkan kerugian material dan nyawa serta menciptakan rasa takut dimasyarakat, tetapi juga telah mengoyak keutuhan berbangsa dan bernegara.

"Terorisme dan radikalisme yang kita hadapi saat ini adalah ancaman teroris generasi ketiga. Ciri hhusus dari ancaman terorisme generasi ketiga ini adalah kembalinya para militan asing ISIS dari Timur Tengah serta berevolusinya ancaman dari yang bersifat ter-sentralisasi menjadi terdesentralisasi yang menyebar keseluruh belahan dunia setelah kekalahan ISIS di Syria dan Irak," jelasnya. 

Ryamizard dalam kesempatan itu kemudian mengungkapkan sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia di mana para ulama thoriqoh memiliki peranan penting dalam membela dan menjaga keutuhan NKRI. 

Dia menuturkan, sejak zaman penjajahan Belanda 3,5 abad, para ulama thoriqoh tidak pernah surut dalam melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Sehingga, mereka mengalami kesulitan menguasai Indonesia secara utuh karena para ulama thoriqoh yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara menjadi tokoh perlawanan terhadap penjajahan Belanda. 

"Kemudian Belanda mengatur strategi dengan mengirim tokoh orientalis Snouck Hourgronje ke Arab Saudi untuk belajar Bahasa Arab, tujuannya supaya bisa membaca dan memahami kitab-kitab yang menjadi rujukan para ulama thoriqoh Nusantara," tutur Ryamizard. 

Setelah Snouck Hourgronje melakukan penelitian terhadap kitab-kitab tersebut, lanjut Ryamizard, akhirnya terjawab  bahwa ajaran para ulama thoriqoh menjadi akar tumbuhnya nasionalisme dan bangkitnya semangat perlawanan terhadap Belanda. Menurutnya, Belanda kemudian melakukan perampasan buku-buku tasawuf dan tarekat para ulama Nusantara untuk dibawa ke Belanda.

"Sebagai bukti, di Perpustakaan Leiden University Belanda ditemukan koleksi Snouck Hourgronje manuskrip kitab Tuhfah al-Mursalah yang ditulis tangan oleh Sheikh Yususf al-Makassari. Selain itu, masih banyak lagi manuskrip-manuskrip kitab para ulama Nusantara yang disimpan di Perpustakaan Leiden University Belanda," lanjut Ryamizard. 

Beberapa kitab tersebut antara lain, sebut Ryamizard, di antaranya adalah kitab Tuhfah Al Mursalah yang sejak abad ke 17 hingga 20 menjadi rujukan para ulama sufi di Nusantara seperti Syeikh Shamsuddin al-Sumatrani dan Syeikh Abdul Rauf al-Sinkili di Aceh, Syeikh Burhanudin Ulakan di Padang, Syeikh Abdus Shamad Al-Palimbani di Palembang, Syeikh Muhyi Pamijahan di Tasikmalaya, Syeikh Kesan Besari di Ponorogo, Syeikh Nafis al-Banjari di Banjar Kalimantan, dan Syeikh Yusuf al-Makassari di Makassar.

Melalui bimbingan para Mursyid Thoriqoh, lanjut dia, maka lahirlah tokoh-tokoh perjuangan dan perlawanan tehadap Belanda seperti Syeikh Yusuf al-Makassari dan Pangeran Diponegoro.

Memasuki abad 20, ungkap Ryamizard, muncul tokoh-tokoh pejuang dan perlawanan terhadap kolonial Belanda antara lain Kiai Santri (Raden Jayakusuma) yang berhasil mendidik para tokoh  pergerakan pra kemerdekaan Indonesia, seperti Wahidin Sudiro Husodo, DR Sutomo, Hos Cokroaminoto dan Soekarno.

"Mereka adalah kader-kader yang dibekali dengan ilmu spiritual dan kebangsaan oleh Kiai Santri sehingga mereka memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi dalam melawan kolonial Belanda. Kegigihan para tokoh perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia tidak sia-sia, akhirnya pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan sebagai negara merdeka. Dari uraian tersebut terlihat dengan jelas betapa besarnya peran para ulama dalam membela negara dan menjaga keutuhan NKRI," ungkap dia. 

Mantan Pangkostrad ini menambahkan, para ulama yang hadir di acara itu merupakan penerus perjuangan para ulama thoriqoh dan tokoh-tokoh ulama patriot-patriot bangsa, sekaligus pewaris utama nilai-nilai Proklamasi dan kemurnian nIlai-nilai Pancasila. 

Oleh karena itu, menurut dia, para ulama harus menyadari fungsinya sebagai generasi penerus kemerdekaan dan persatuan Indonesia yang berkewajiban melanjutkan cita-cita proklamasi, yakni mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

"Kalau para ulama tidak melaksanakan bela negara dan tidak membela Pancasila serta UUD 1945, maka Kita telah menjadi pengkhianat kepada bangsa ini dan pengkhianat bagi orang tua dan ulama-ulama pendahulu kita yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini dengan tetesan darah, keringat dan air mata," pungkasnya. 

Editor: Elvi R




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID