logo rilis
Menguntungkan, Pemuda Halmahera Barat Tanam Pisang Mulu Bebe
Kontributor
Fatah H Sidik
30 April 2018, 16:13 WIB
Menguntungkan, Pemuda Halmahera Barat Tanam Pisang Mulu Bebe
Dirjen Hortikultura Kementan, Suwandi (kedua kiri), saat kunjungan kerja ke Halmahera Barat, Maluku Utara, Minggu (29/4/2018). FOTO: Humas Kementan

RILIS.ID, Halmahera Barat— Direktur J??enderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi, mengatakan, pihaknya fokus mengembangkan sentra hortikultura unggul dan bernilai ekonomi. Pendekatannya, kawasan buah-buahan maupun sayuran.

Demikian disampaikannya saat "Deklarasi Petani sebagai Profesi Unggulan dan Kampanye Kedaulatan Pangan Lokal" di Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara, Minggu (29/4/2018). Di sana, pisang lokal Mulu Bebe menarik perhartian petani mudanya.

"Selain pisang di Halbar, juga telah dikembangkan jeruk Siem di Tidore Kepulauan, Kepulauan Sula, dan Halmahera Tengah. Juga mangga di Tidore Kepulauan dan durian di Morotai," ujarnya.

Halbar merupakan penghasil hortikultura utama, selain perkebunan di Malut. Hasilnya beragam, seperti pala, manggis, rambutan, durian, pisang, dan sayur-sayuran. Ada juga berbagai varietas pisang. Misalnya, Mulu Bebe, Goroho, Jarum, Sepatu, dan Tanduk.

Salah seorang petani Halbar, Arnold (38), mengaku, sudah 20 tahun menjadi petani serta lahannya ditanami berbagai jenis komoditas hortikultura dan perkebunan. Di antaranya, pala, durian, dan pisang Mulu Bebe.

Mulanya, asal tanam pisang dan dibiarkan tumbuh begitu saja. Namun, mulai mengubah pola budi daya dalam dua tahun terakhir.

Tiap satu hektare, ditanami pisang dengan jarak 3 meter x 3 meter. Maksimal 4-5 anakan pisang yang dirawat dalam satu rumpun. "Jika lebih, anakan dipindah ke tempat lain," terang petani asal Desa Gamniyal, Kecamatan Sahu Timur itu.

Pembatasan anakan dilakukan agar buah pisang yang tumbuh tak berebut makanan. Sehingga, buah yang dihasilkan cukup besar sesuai standar pasar. "Kelebihan lainnya dari kebun pisang kami, para petani Halmahera Barat, tidak adanya pemakaian pupuk kimia," ungkapnya.

Luas lahan pertanian yang relatif luas dibanding dengan jumlah petani, menyebabkan banyak petani melakukan pindah lahan ke tanah terdekat miliknya untuk penanaman berikutnya. Begitu dilakukan selama beberapa kali, hingga akhirnya penanaman kembali ke lokasi awal.

"Praktik tradisional ini dilakukan,buntuk memastikan kesuburan tanah bisa terus terjaga secara alami. Praktik tanam ini yang saya melakukan," kata Arnold.

Soal harga, menurutnya cukup menguntungkan. Tiap pohon pisang Mulu Bebe dijual Rp10 ribu-Rp15 ribu di pasar lokal. Sedangkan jenis lain, cuma Rp5 ribu per pohon.

"Paling tidak Rp5 juta diraup dalam sebulan hanya dari satu hektare lahan pisang Mulu Bebe," akunya. Dalam waktu dekat, Arnold berencana memperluas lahan pisangnya hingga 10 hektare.

Keuntungan membudidayakan pisang lokal itu, mendorong seorang guru, Charles (43), menjadi petani. Mulanya, dia menanam 100 rumpun pisang di kebunnya dan dipadukan dengan berbagai tanaman hortikultura lain.

Sementara, Bupati Halbar, Danny Missy, menjelaskan, produksi pisang di wilayahnya mencapai 8.200 ton per tahun setara 62 persen produksi provinsi. Karenanya, dalam waktu dekat Kementan memberikan sertifikat untuk Mulu Bebe.

"Ke depan, pisang Mulu Bebe juga direncanakan akan menembus pasar ekspor, selain tetap mampu bertahan untuk menyuplai pasar lokal di wilayah sekitar," tutupnya.


500
komentar (0)