logo rilis
Mengungkap Praktik Hitam Jurnalisme Hungaria terhadap Kaum Imigran
Kontributor
Syahrain F.
13 April 2018, 21:41 WIB
Mengungkap Praktik Hitam Jurnalisme Hungaria terhadap Kaum Imigran
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán (centre) dan jajaran anggota partai Fidesz. Credit: Reuters/Bernadett Szabo

RILIS.ID, Budapest— Seorang pimpinan redaksi sebuah stasiun televisi di Hungaria mengungkapkan bagaimana kerja jurnalistik ditunggangi kepentingan politik untuk memenangkan partai ekstrem sayap kanan.

Dalama sebuah wawancara, editor stasiun televisi MTVA tersebut mengaku, selama pemilihan umum di Hungaria berlangsung, ruang redaksi yang dia pimpin itu kerap ikut mengampanyekan pesan bernada intimidasi dan xenofobia (perasaan benci terhadap orang asing) terhadap imigran.

Berbicara kepada media Inggris The Guardian, media tersebut memang berupaya memenangkan partai Fidesz yang dipimpin Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán. 

Jurnalis yang tidak disebutkan namanya tersebut menuturkan, salah satu cara yang digunakan untuk mendukung kampanye anti-migran yang digaungkan Orbán dan partainya adalah dengan memfokuskan pemberitaan negatif terhadap para pengungsi dan kaum migran. 

Lebih spesifik, media itu mengaitkan para migran dan pengungsi dengan isu-isu keamanan seperti kriminal dan terorisme. 


Seorang jurnalis foto berhasil menangkap tindakan buruk juru kamera Hungaria N1TV, Petra László, yang sengaja menyandung seorang imigran asal Suriah yang tengah menggendong anaknya hingga jatuh. Credit: Reuters 

Baca: Wali Kota London Disuruh Bunuh Diri atau Hengkang dari Inggris

Bahkan, saking terpakunya untuk memojokkan kaum imigran, salah satu stasiun yang dikelola MTVA, yakni TV M1 sampai salah memberitakan mengenai peristiwa serangan mobil van di Münster, Jerman, sebagai serangan teroris yang dilancarkan Islamis.

"Saya tidak pernah mengalami yang demikian. Bahkan dengan MTVA, jelas-jelas sebuah kebohongan," kata jurnalis itu.

"Saya rasa media berupaya menanamkan rasa takut dengan melekatkan kata-kata seperti 'berbahaya', 'terorisme', 'oposisi', 'Soros' dan 'Brussels'," lanjutnya menjelaskan kata-kata yang dipersepsikan buruk menurutnya oleh rakyat Hungaria.

"Toleransi mendapat penolakan, sementara anti-imigran digambarkan sebagai pendapat yang dapat diterima," jelasnya.


Seorang nenek melewati papan billboard yang menggambarkan gelombang pengungsi dan marka "stop" selama pemilihan umum di Hungaria berlangsug. Kampanye anti-migran dijadikan komoditas politik oleh partai sayap kanan Fidesz pimpinan Perdana Menteri Viktor Orbán. Credit: Reuters/Leonhard Foeger

Baca: Facebook Nonaktifkan Akun Kelompok Anti-Islam di Inggris

Para jurnalis yang bekerja di TV tersebut bahkan didikte secara detil oleh pimpinan redaksi mereka. Dari dokumen yang diterima oleh The Guardian, terbukti pemerintah Hungaria terlibat dalam upaya membentuk citra buruk para migran.

"Terkadang, editor kami menelpon dan mendikte program yang akan kami tayangkan, kata demi kata. Kami tidak mengetahui siapa yang menyuruhnya melakukan itu," jelasnya.

Ketika ditanya mengenai keterlibatan itu, juru bicara Orbán menolak berkomentar. Sementara MTVA juga tak merespon pertanyaan itu.

Dalam delapan tahun terakhir, pemerintah Hungaria telah menyatukan platform cetak, TV, radio dan produk media lainnya yang dibeli oleh orang suruhan pemerintah.

Dampak dari pengonsolidasian media itu adalah menguapnya kasus-kasus korupsi yang melibatkan unsur pimpinan partai berkuasa Fidesz.

Dengan kembali terpilihnya Orbán sebagai PM Hungaria, tokoh anti-migran dan anti-Muslim itu dikhawatirkan akan mengubah konstitusi negara yang mengarah kepada tindakan pembungkaman media-media kritis. 

Salah satu media yang kritis terhadap pemerintah, Magyar Nemzet, telah mencetak edisi terakhirnya sebelum pemilihan umum digelar pada 8 April lalu.

Para jurnalis yang terjebak dalam situasi itu merasa akan mernginjak-injak profesi mereka jika terus "menjilati" pemerintah dengan "berita pesanan".

"Saya merasa sangat buruk. Sampai-sampai, beberapa dari kami berupaya membohongi diri sendiri bahwa tak ada orang yang menyaksikan program kami, bahwa tayangan kami tidak penting," tukas salah seorang dari jurnalis.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)